oleh

Media Dan Peran Strategis Gerakan Mahasiswa

Mobilisasi pergerakan mahasiswa setiap dekade zaman dilekati karakteristik dan tantangan yang berbeda-beda. Terlihat pada masing-masing zaman menampilkan figur, isu, dan problem yang berbeda. Menggali alasan lain penyebab tumbuhnya kepekaan mahasiswa terhadap persoalan yang bertitik fokus pada perjuangan membela kepentingan rakyat. Menurut Arbi Sanit (1985) lima hal yang melatar belakanginya. Pertama, mahasiswa sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik memiliki persepektif atau pandangan yang cukup luas untuk dapat bergerak di semua lapisan masyarakat. Kedua, mahasiswa sebagai golongan yang cukup lama bergelut dengan dunia akademis dan telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara generasi muda.

Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik di kalangan mahasiswa, dan terjadi akulturasi sosial budaya tinggi di antara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasan, struktur ekonomi, dan memiliki keistimewaan tertentu dalam masyarakat sebagai kelompok elit di kalangan kaum muda. Kelima, mahasiswa rentan terlibat dalam pemikiran, perbincangan, dan penelitian pelbagai masalah yang timbul di tengah kerumunan masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier sesuai dengan keahliannya.
Daya dobrak Gerakan mahasiswa 1998 yang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru merupakan momen penting sebagai starting point dalam rangka menyelamatkan bangsa dalam kondisi sedang sekarat. Pada kenyataan, mahasiswa lengah dan membuang kesempatan tersebut. Kenyataannya saat ini ralita membahasakan ‘reformasi jalan ditempat’. Artinya, mahasiswa gagal dalam mengisi dan mengawal reformasi. Fenomena pergerakan melempemnya pergerakan mahasiswa pasca reformasi seolah kehingan roh merupakan rapor merah yang harus dihitamkan.

Terdapat beberapa akar penyebab gerakan mahasiswa pasca reformasi kehilangan vitalitas perjuangan. Menurut Dr. Alfian, dosen UI dan peneliti katalis menyebutkan bahwa salah satu penyebab terjadinya problema dalam pergerakan mahasiswa adalah ;
1. Tterjadinya fragmentasi (perpecahan) intern dalam gerakan mahasiswa. fragmentasi lantaran prinsip ideologi yang menancap pada sekelompok mahasiswa yang condong mengarah pada “perbedaan Idealisme” sehingga mengerucut menjadi perpecahan dalam pergerakan.
2. muncul kelompok mahasiswa oportunis, sehingga posisi mahasiswa dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok/individu tertentu. Gejala ini, terlihat pada isu terbaru yang mengatakan gerakan mahasiswa —antimiliterisme, anti Orde Baru, anti pelanggar HAM atau anti yang lainnya — ditunggangi kelompok tertentu. Padahal gerakan mahasiswa harus independen dan kudu konsisten dengan gerakan moral. Perihal inilah, membuat lemahnya pergerakan mahasiswa hari ini.
3. apatisme kebanyakkan mahasiswa akan posisi dan peranya sebagai agent of change (agen perubah), moral force (kekuatan moral) dan iron stock (perangkat keras) suatu bangsa. Di tambah dengan sekelompok Mahasiswa melakukan pergerakan cenderung atas dasar kepentingan tertentu saja, problema ini membuat gerakan mahasiswa kehilangan roh dan mengalami dekadensi eksistensi di tengah masyarakat.

Pandangan miring terlihat dari pernyataan Misbah Shoim Haris (1997) dikutip dalam bukunya. “Namun, selama ini yang kita lihat, realitas tidaklah seindah bayangan (idealisme) kita. Masih terlalu banyak mahasiswa yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu tanggung jawabnya sebagai pengemban rakyat. Pandangan tersebut, tentunya berimplikasi pada posisi dan peran mahasiswa, sehingga eksistensi mahasiswa di mata masyarakat memudar.”

Rekonstruksi Soliditas Gerakan Mahasiswa
Mengutip pepatah para ilmuwan francis La Historie Se Pete ( sejarah akan selalu berulang), mengoptimisisasi akan kembalinya roh pergerakan mahasiswa sebagaimana gerakan mahasiswa dekade sebelumnya . Adapaun lampu hijau yang harus ditempuh.
1. Membudayakan pemahaman sisi persamaan perjuangan dengan menerapkan sikap toleransi dalam perbedaan.
2. Menjalin komunikasi antar sesama kelompok mahasiswa.
3. Meruntuhkan sikap saling curiga, dengki serta menepis jauh-jauh sikap high egoisme yang rentan menghinggapi mahasiswa.
4. Mengikis infantilisme (kekanak-kanakan) mahasiswa.
5. Membangun indepedensi pergerakan mahasiswa. Mengingat, mahasiswa adalah kelompok sejati, abadi, dan berada di barisan terdepan dalam jajaran generasi muda. keenam, membangun sikap kritis dan arif dalam memandang suatu permasalahan.
Mengevaluasi format pergerakan mahasiswa selama ini, cendrung stagnan, vakum dan mengalami fragmentasi. The big work (pekerjaan besar) mahasiswa hari ini adalah merekonstruksi soliditas pergerakan, memulai gerakan yang lebih sistematis dengan menepis fragmentasi wacana, menghindari fragmentasi gerakan, menuju sinergitas bersama. Sekaligus mengawasi dan mempresure siapa pun pemimpin bangsa Indenesia agar merealisasi enam visi reformasi yang pernah ditawarkan mahasiswa. Sebagai pertanggungjawaban mahasiswa yang telah berani memulai ‘Reformasi 1998’.

BACA JUGA:   Kotaku: Reorientasi Pembangunan Kota Cirebon

Peranan Strategis Media

Peran media dalam pembentukan opini semakin masif dalam beberapa dekade terakhir. Semakin pentingnya peran media dalam pembentukan opini publik tidak terlepas dari pesatnya peningkatan teknologi informasi dan komunikasi. Jika pada 10 tahun sebelumnya seseorang masih sulit untuk dapat mengakses internet, namun hari ini setiap orang dapat mengakses internet secara mobile. Jika 10 tahun sebelumnya jumlah stasiun televisi sangat terbatas, namun hari ini jumlah stasiun televisi semakin banyak dan dengan tingkat coverage yang lebih luas. Bahkan, hari ini kita dapat mengakses jaringan internasional, sesuatu yang mustahil dilakukan pada beberapa tahun yang lalu.

Walaupun tidak semasif beberapa tahun terakhir, media di masa lalu juga memiliki peran yang besar dalam membentuk opini publik. Contohnya adalah bagaimana publik melihat Sukarno sebagai seorang pemimpin besar Indonesia. Lewat radio pada saat itu, Sukarno berhasil membangun citra pemimpin kharismatik di masyarakat Indonesia, walaupun sebagian masyarakat mengetahui bahwa dalam praktek Sukarno adalah pemimpin yang otoriter. Namun sekali lagi, peran media telah menggeser opini publik terhadap citra Sukarno dari seorang pemimpin diktator menjadi pemimpin yang kharismatik dan dibanggakan oleh masyarakat Indonesia.

Peranan media masa tersebut tentunya tidak dapat dilepaskan dari arti keberadaan media itu sendiri. Marshall McLuhan, seorang sosiolog Kanada mengatakan bahwa ”media is the extension of men”. Pada awalnya, ketika teknologi masih terbatas maka seseorang harus melakukan komunikasi secara langsung. Tetapi, seiring dengan peningkatan teknologi, maka media massa menjadi sarana dalam memberikan informasi, serta melaksanakan komunikasi dan dialog. Secara tidak langsung, dengan makna keberadaan media itu sendiri, maka media menjadi sarana dalam upaya perluasan ide-ide, gagasan-gagasan dan pemikiran terhadap kenyataan sosial (Dedy Jamaludi Malik, 2001: 23)

Dengan peran tersebut, media massa menjadi sebuah agen dalam membentuk citra di masyarakat. Pemberitaan di media massa sangat terkait dengan pembentukan citra, karena pada dasarnya komunikasi itu proses interaksi sosial, yang digunakan untuk menyusun makna yang membentuk citra tersendiri mengenai dunia dan bertukar citra melalui simbol-simbol (Nimmo, 1999). Dalam konteks tersebut, media memainkan peranan penting untuk konstruksi realitas sosial.

Berbagai contoh seperti pencitraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2004, dan kemenangan kedua kalinya pada piplres 2009 kemarin. kasus Manohara yang mengkonstruksi opini masyarakat bahwa dia sebagai orang yang perlu dilindungi. Begitupun citra terhadap KPK sebagai institusi pemberantasan korupsi; tidak dapat dilepaskan dari peran media dalam membentuk opini publik. Bagaimana dahsyatnya kasus dugaan kriminalisasi kedua pimpinan KPK Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah vs Anggodo, yang kemudian merembet pada kasus dugaan korupsi penggelontoran dana senilai 6,7 triliun rupiah bank Century yang disinyalir melibatkan pejabat tinggi negara. Serta terakhir soal kasus hukum Prita Mulysari yang disimbolkan perlawanan ketidakadilan terhadap penegakkan hukum yang disimbolkan sebagai pihak yang teraniaya.

BACA JUGA:   Kotaku: Reorientasi Pembangunan Kota Cirebon

Dari rentetan kasus ini, perlu disadari bahwa pembentukan opini publik tidak sepenuhnya menjadi monopoli media massa. Elemen masyarakat termasuk di dalamnya mahasiswa juga memiliki peran dalam mencerna informasi yang didapat dari media. Dalam hal itu, maka faktor relativisme budaya masyarakat menjadi hal yang penting dalam proses pembenttukan sebuah opini publik. Dengan perannya yang sangat besar dalam pembentukan opini publik, maka sudah sejatinya gerakan mahasiswa dapat memanfaatkan keran-keran media massa dalam melakukan adovokasi kebijakan publik.

Penyebaran diskursus-diskursus dalam public sphare inilah yang seharusnya lebih dimaksimalkan oleh gerakan mahasiswa agar gerakan mahasiswa lebih efektif dalam mencapai tujuan-tujuan gerakannya. Seperti kita ketahui, media adalah suatu ‘alat’ yang menghubungkan kita dengan dunia luar. Tanpa media, kita akan sulit mengetahui apa yang terjadi di sekeliling kita. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa media adalah sumber informasi utama bagi semua orang di dunia.

Selama ini gerakan mahasiswa terjabak dalam citraan-citraan yang sudah tertanam dalam benak mahasiswa sendiri. Mahasiswa selalu dicitrakan sebagai individu-individu yang idealis. Mahasiswa juga disebut-sebut sebagai penyambung lidah rakyat, mahasiswa yang lebih baik hidup terasingkan dalam ruang kelas yang sempit dari pada menyerah pada kemunafikan. Gerakan mahasiswa selalu mewakili citraan-citraan diatas dengan cara-cara yang terkesan heroic dan bersemangat.

Pola yang diambil gerakan mahasiswa pun cenderung frontal dan menafikan pola-pola yang lebih elegan. Ada kesan dalam mahasiswa bahwa bila tidak melakukan aksi turun ke jalan, demonstrasi, dan mimbar bebas, maka suara mereka tidak akan didengar oleh pemerintah. Pola extra parliamentary menjadi pilihan yang paling disukai oleh mahasiswa. Mahasiswa perlu menyusun kembali landasan bagi pergerakannya. Gerakan mahasiswa jangan hanya menjadi suatu nuansa yang simbolik, tetapi harus bisa menjadi suatu gerakan yang bermanfaat bagi tiga unsur, yaitu :
1. Gerakan mahasiswa bermanfaat bagi bangsa dan negara
2. Gerakan mahasiswa bermanfat bagi masyarakat
3 Gerakan mahasiswa bermanfaat bagi dirinya sendiri.

Partisipasi adalah sebuah keniscayaan dalam merubah pernyataan turunnya efektifitas pergerakan mahasiswa. Kini sudah saatnya tidak hanya mahasiswa yang bergerak di wilayah eksekutif saja seperti BEM atau organisasi ekstra kampus saja yang bisa menjadi kontrol sosial bagi fakultas, universitas, maupun pemerintah, tetapi saatnya untuk semua civitas akademika (mahasiswa) kembali sadar bahwa CITA-CITA PERGERAKAN MAHASISWA HARUS DITERUSKAN

WAHAI KALIAN YANG RINDU KEMENANGAN ………..
WAHAI KALIAN YANG TURUN KE JALAN ……………..
DEMI MEMPERSEMBAHKAN JIWA DAN RAGA ………..
UNTUK NEGERI TERCINTA ………… *)

Penulis Praktisi Media, Video Jurnalis Trans7 dan
pernah menjadi Presiden BEM STAIN Cirebon
*)disarikan dari berbagai sumber referensi (CT)

Komentar

News Feed