Citrust.id – Kesadaran akan pentingnya perlindungan kesehatan kini mulai tumbuh di kalangan pelajar. Hal itu tercermin dari pengalaman Zesika Salsabil Fahrizal (17), siswi kelas XII salah satu SMA di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang akrab disapa Zesi.
Ia menilai jaminan kesehatan perlu dimiliki sejak dini setelah menyaksikan langsung manfaat Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan bagi keluarganya dan orang-orang di sekitarnya.
“Pertama kali tahu Program JKN dan BPJS Kesehatan itu dari orang tua waktu saya masih kecil. Alhamdulillah, keluarga aku sudah jadi Peserta JKN, dan itu benar-benar jadi safety net buat kami,” ujar Zesi.
Pengalaman keluarga memanfaatkan layanan JKN membuat Zesi meyakini bahwa program tersebut hadir sebagai sistem perlindungan sosial yang nyata. Menurut dia, JKN memberikan rasa aman dan kepastian, terutama ketika keluarga menghadapi kondisi darurat kesehatan.
Ia menceritakan pengalaman ketika sang ibu harus menjalani perawatan inap selama beberapa hari. Proses pelayanan dinilai berjalan lancar sejak dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rujukan ke rumah sakit.
“Waktu itu ibuku harus dirawat inap beberapa hari. Alhamdulillah prosesnya cukup lancar dan mudah, dari puskesmas sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama, lalu dokter di puskesmas memberikan rujukan ke rumah sakit karena harus ditangani dokter spesialis. Di rumah sakit pun tidak ada biaya tambahan sama sekali. Rasanya lega karena biaya yang seharusnya jutaan rupiah bisa ditanggung oleh Program JKN,” kata Zesi.
Zesi yang terpilih sebagai Duta Muda BPJS Kesehatan 2025 memandang peran tersebut memiliki posisi strategis dalam mengedukasi generasi muda, khususnya pelajar. Ia menekankan bahwa menjadi duta bukan semata soal pencapaian pribadi, melainkan tentang kemampuan mengajak orang lain bergerak bersama.
“Bukan membuat orang lain sekadar kagum, tetapi mendorong mereka untuk ikut bergerak dan peduli,” ujarnya.
Melalui perannya, Zesi aktif memperkenalkan berbagai gagasan dan inisiatif untuk meningkatkan literasi kesehatan serta pemahaman pelajar terhadap Program JKN. Ia menilai edukasi kesehatan akan lebih efektif apabila dilakukan secara kolaboratif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari pelajar.
“Gagasan ini saya dorong agar pelajar bisa belajar tentang kesehatan dan Program JKN secara kolaboratif, dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga kesadaran untuk hidup sehat dan terlindungi dapat tumbuh bersama,” tutur Zesika.
Sebagai bagian dari generasi digital, Zesi juga mengapresiasi inovasi layanan BPJS Kesehatan, seperti Aplikasi Mobile JKN. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital mampu meningkatkan efisiensi pelayanan, mempermudah antrean, serta membantu peserta, khususnya generasi muda, mengakses layanan kesehatan secara mandiri.
Namun, ia mengingatkan bahwa inovasi digital perlu diimbangi dengan pendampingan bagi kelompok lanjut usia dan masyarakat yang belum terbiasa menggunakan teknologi. Dengan demikian, seluruh peserta JKN tetap dapat merasakan kemudahan layanan, baik melalui dukungan keluarga, petugas fasilitas kesehatan, maupun layanan tatap muka.
“Semoga BPJS Kesehatan tetap menjadi pelindung bagi semua orang, khususnya peserta Program JKN. Karena sehat itu hak setiap warga, dan BPJS Kesehatan membuat hak itu bisa dirasakan secara nyata,” kata Zesi. (Haris)













