oleh

Sumur Marani Timba

Oleh DADANG KUSNANDAR *)

MASIH menyoal sastra lokal Cirebon melalui pendekatan kecerdasaan penggunaan bahasa. Jika sebelum ulasan ini telah ditulis ngising jarit cewok aspal dan lesperinggo, kali ini anekdot bermula dari air. Air yang antara lain tersimpan pada sumur/ perigi.

Bulan Oktober biasanya merupakan bulan sugih banyu alias sering turun hujan. Namun curah hujan pada Oktober 2017 di Cirebon terlihat kecil. Panas bumi sepertinya membakar kulit ketika diketahui suhu luar ruang mencapai angka 34 derajat Celcius.

Air menjadi penting serta dicari untuk penyegar atas kencangnya serapan panas yang keluar dari tubuh. Suhu luar dan suhu dalam tubuh manusia bagai berlomba menyerap kadar air. Jika suhu luar lebih kuat serapannya menghasilkan keringat. Dan jarang sekali suhu dalam tubuh manusia bertahan dari serangan suhu luar tubuhnya.

Artinya setiap kita butuh air demi terjaganya stamina tubuh dan kekebalan sergapan penyakit. Air dalam jumlah sesuai kebutuhan orang per orang, dan dalam skala luas air bagi kehidupan.

Kembali ke anekdot sumur marani timba, kita dapatkan makna menggelitik yang layak direnungkan. Bagaimana mungkin sumur mendekat kepada timba/ ember? Sumur sebagai penyimpan/ penampung air tanah justru harus ditimba untuk dapat digunakan.
Sumur marani timba mengandung arti filosofi orang berilmu justru sampai meminta-minta kepada orang bodoh. Makna berikutnya orang kaya mengharap kepada orang miskin. Pemaknaan yang terkesan terbalik ini sesungguhnya merupakan sebuah keadaan ketika ilmu dan harta (diibaratkan sebagai sumur/ air) tidak memiliki peran apa pun di hadapan si bodoh dan si miskin (yang diibaratkan timba).
Kapankah keadaan itu tiba?

Tanpa disadari dalam kehidupan riil sehari-hari kita pernah menjumpai hal tersebut. Terlebih bagi orang yang terbiasa menggunakan jasa orang kecil.
Orang kecil (maaf) kerap setara miskin dan bodoh sehingga dengan mudah disuruh-suruh mengerjakan sesuatu oleh orang pintar dan kaya.

BACA JUGA:   Sekolah Kader Partisipatif Tingkatkan Pengawasan Pemilu

Bayangkan misalnya apabila timba menolak datang ke sumur. Bayangkan jika orang miskin menolak harta orang kaya. Apa jadinya? Tentu pembaca masih ingat suasana menjelang revolusi besar di negara mana pun ketika kaum proletar menolak/ meniadakan kaum borjuis. Ketika mustadh’afin berhadapan sejajar dengan para aghniya.

Akan tetapi ada makna implisit lain dari sumur marani timba. Makna tersebut yakni kebaikan yang ditanam/ dilakukan oleh orang pintar dan kaya raya di tengah kehidupan masyarakat. Ia suka berbagi harta dan ilmu kepada masyarakat sekitar serta kerap hadir di majelis orang miskin dan bodoh untuk menebarkan kebaikan bagi sesama. Pilih saja sendiri, makna manakah (sumur marani timba) yang sesuai dengan kebiasaan Anda?! []

*) penulis lepas, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed