oleh

Terlalu! Sepuluh Bulan Longsor Susukanlebak Dibiarkan, Kondisinya Memperihatinkan

Cirebontrust.com – Sepuluh bulan berlalu bencana longsor yang terjadi di tiga desa, yakni Karangmangu, Kaligawe, dan Kaligawe Wetan, Kecamatan Susukanlebak, Kabupaten Cirebon, masih menyisakan ketakutan bagi masyarakat setempat. Bagaimana tidak, hingga saat ini lokasi longsor masih dibiarkan begitu saja, kondisinya masih sama seperti semula awal terjadi longsor.

Saking lamanya dibiarkan tanpa ada penanganan, longsoran tanah yang tergerus air Sungai Cimanis itu ditumbuhi pepohonan. Dua rumah yang ditinggal warga Desa Karangmangu pun‎, akibat sebagian rumahnya ambruk tergerus longsor terlihat kotor tak terurus.

Garis polisi yang dulu terpasang di lokasi longsoran untuk batas jarak aman terlihat sudah tak terpasang lagi. Untuk batas aman, warga hanya memasang bambu bekas membentuk huruf X, itupun sangat dekat dengan jurang longsoran. Tentunya, melihat kondisi seperti itu, sangat bahaya bagi keselamatan warga.

Apalagi, ketinggian longsor dari pemukiman ke bibir permukaan air sungai terbilang tinggi, yakni sekitar 10 meter‎, yang tentunya jika seseorang terjatuh akan sangat mengancam jiwa. Ditambah, pada sungai tersebut terdapat bebatuan besar, jika menghantam batu dari ketinggian 10 meter, sekuat benda apapun akan hancur, begitu pun tubuh manusia.

“Ya kondisinya persis seperti ini, enggak ada perubahan. Sampai ditumbuhi pohon. Panjang longsoran 450 meter, tingginya 10 meter. Ada 20 rumah di Karangmangu yang terancam ambruk. Malah dua rumah sudah dikosongkan, karena bagian belakang sudah ambruk, sisannya menggantung‎,” terang Ukas Danaria, Sekdes Karangmangu‎ di lokasi, Rabu (11/10).

Dua rumah yang ditinggal adalah milik Rasti dan Nur Ihya U‎lumudin warga Blok Desa, Desa Karangmangu. Mereka beserta keluarga mengungsi lantaran takut rumahnya ambruk. Saat ini mereka menetap di rumah saudaranya masing-masing.

BACA JUGA:   AKP Budi Hartono Jadi Kapolsek Bantarujeg

Padahal sebenarnya Pemdes Karangmangu sudah menyediakan gedung serba guna untuk menampung sementara warganya tersebut. Bahkan, Pemdes sudah menyarankan kepada Rasti dan Nur agar menempati lahan milik desa untuk membangun rumah baru. Namun mereka lebih memilih tinggal di rumah keluarganya masing-masing yang masih satu kampung.

Kondisi seperti ini akibat tidak adanya perhatian dari pemerintah. Pemdes beberapa kali mengajukan permohonan pembuatan Tanggul Penahan Tanah (PTP), tapi hingga kini belum ada realisasi dari pihak manapun. Frustrasi dengan ajuan ke pemerintah, Pemdes Karangmangu hingga mencari sumber bantuan lain, yakni dari komunitas atau yayasan sosial untuk dimintai bantuan, tapi tetap tak ada hasil.

“Saya sudah mengajukan ke BBWSCC melalui anggota DPR RI yang saat itu meninjau ke lokasi bencana‎. Katanya akan dibantu, tapi sampai sekarang enggak jelas,” keluh Ukas.

‎Saat ini, dengan keterbatasan Pemdes tiga desa bersama Tagana Kecamatan Susukanlebak hanya melakukan pantauan, dan memberikan imbauan kepada masyarakat agar menjauhi lokasi longsor, dan meningkatkan kewaspadaan. Apalagi musim penghujan sudah mulai, tentunya potensi longsor terjadi sangat besar.

“Kalau banjir, pasti longsor terjadi, karena bagian bawah tebing terkikis oleh air. Kita harus meningkatkan kewaspadaan, karena musim hujan sudah mulai,” cetus Yopi Pramudita, Ketua Tagana Kecamatan Susukanlebak di lokasi longsor. (Riky Sonia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed