oleh

Nonton Teater

Oleh DADANG KUSNANDAR*

SELESAI sudah pentas teater berbahasa Indramayu di Gedung Kesenian Mama Soegra. Pentas tiga hari itu (10 – 12 November 2017) memperagakan kemampuan akting siswa SLTA kabupaten Indramayu. 23 peserta yang menampilkan ekspresi panggung mereka layak dicatat sebagai keinginan karya pelajar ditonton orang lain di luar sekolahnya.

Sejatinya keberanian memamerkan kemampuan akting teater itu tidak serta merta. Butuh proses latihan yang menelan waktu dalam hitungan lebih dari dua bulan. Ketekunan para guru pembimbing pun adalah sumbangsih tersendiri yang turut serta menghasilkan karya. Tak lupa ijin tertulis kepala sekolah lantaran pentas berlangsung pada hari kegiatan belajar mengajar. Keterlibatan ketiganya tak pelak menyisakan beberapa catatan.

Dulu saya berpikiran bahwa kegiatan apa pun yang bersifat “komando” melalui dinas/ instansi pemerintah tidak sejalan dengan substansi kegiatan. Ada hegemoni kecil di balik itu. Di seberang sana pejabat tingkat bawah takut atau jengah hanya oleh sebuah pesan pendek (sms) pejabat yang lebih tinggi di atasnya. Di sisi lain pejabat di tingkat atas merasa perlu membantu terselenggaranya kegiatan tersebut sehingga ia bersedia menggunakan powernya. Yang penting acara sukses.

Saya tidak tahu apakah Festival Teater Basa Dermayu kemarin memakai cara kekuasaan ataukah berjalan normal. Dalam pandangan kekinian cara tersebut sudah bukan jamannya lagi. Atas nama otonomi daerah rasa takut atau jengah kepada atasan agak berkurang kendati tidak berarti hilang sama sekali. Bisa saja fakta ini masih membingkai beberapa jenis kegiatan di Indonesia.

Suatu ketika tersiar kabar peserta sebuah kegiatan di Cirebon kekurangan peserta. Sedangkan pelaksanaan tinggal menghitung hari. Panitia sibuk menghubungi pejabat terkait agar menurunkan rekomendasi kegiatan. Ternyata “surat sakti” sang pejabat berhasil menggiring peserta. Kejadian itu berlangsung paska 1998. Saya mendengar kabar langsung dari panitia, langkah ini terpaksa ditempuh demi suksesnya kegiatan yang berlabel cukup wah. Pada posisi ini  sebagai penikmat tontonan kesenian, saya justru angkat topi.

Kembali ke festival teater yang baru berakhir Minggu malam 12 November 2017 di Indramayu. Keberanian Lembaga Basa lan Sastra Dermayu (LBSD) menggelar acara bagi saya adalah nilai tambah sekaligus kecemburuan. Saya cemburu karena terbukti kegiatan satra di Indramayu lebih banyak dibanding Cirebon.  Lomba menulis puisi, cerpen, dan teater dalam waktu berdekatan di akhir tahun ini sebagai rangkaian kegiatan HUT Kabupaten Indramayu patut ditiru. Kecemburuan saya pun bertambah dengan hadirnya buku kumpulan puisi, cerpen, dan pengantar festival teater. Belum lagi nominal hadiah berupa uang bagi pemenang.

BACA JUGA:   Kodim 0617 Majalengka Bangun Rumah untuk Janda Tua

Kecemburuan pun bertambah karena sebagian pengurus LBSD juga namanya tercantum sebagai pengurus Lembaga Basa lan Sastra Cerbon (LBSC). Rangkap jabatan pada lembaga berjenis kelamin sama banyak terjadi. Fakta ini pun ada pada organisasi agama. Padahal ini menyalahi AD/ART.

Berharap semoga kegiatan sastra panggung dan sastra tulis melahirkan pegiat organisasi kesenian dan kebudayaan, agaknya juga patut disimak tentang sikap berkesenian para pegiat kesenian yang telah masuk dengan perolehan kenyamanan di bidang lain. Umpanya di bidang politik, pers, lsm, event organizer dan sabagainya. Jiwa seniman dan kemampuan pikir menyoal kesenian/ kebudayaan mesti dituangkan secara proporsional. Eksistensi  di bidang yang kini digeluti dapat diarahkan guna membantu kegiatan kesenian yang tengah berlangsung sehingga membangun  sinergi antarkekuatan.

Dengan demikian acara kesenian panggung, literasi, pameran lukisan, fotografi dan lain-lain menumbuhkan simpati dan empati. Tumbuhnya dua hal dimaksud merupakan hal penting karena dengannya kegiatan kesenian di mana saja insya allah berkembang. Berkembangnya kesenian suatu daerah menandakan perkembangan budaya daerah tersebut. Saya yakin sekali kita sepakat menunjang kegiatan kesenian dengan kemampuan dan eksistensi di bidang lain.

Tiga hari di Indramayu, menginap sebagai sahabat  dan tamu istimewa di rumah Saptaguna, jalan-jalan malam bertiga bersama Supali Kasim, bersua dan berhai-hai dengan Agung Nugroho, Ucha M. Sarna, Nang Sadewo, ang Abuk, Ruhaendi, Acep Syahril, Fuzail Ayad Syahbana, Candra N. Pangeran, Pak Sulistyo dan semua pegiat Indramayu tidak saja sebuah reuni kecil. Bagi saya melapangkan kembali silaturahmi yang telah terjalin puluhan tahun. Berawal dari silaturahmi  pula tulisan pendek ini disajikan.

Festival teater yang baru berakhir menghasilkan sejumlah pemenang. Mereka adalah  AdiDrama  (kelompok teater terbaik): Teater Bester, SMAN 1 Terisi. AdiPirsa (kelompok teater favorit): Teater Sènter, SMK PGRI Karang Ampel.  AdiNata (sutradara terbaik): Ray Mengku Sutentra, SMAN 1 Terisi. AdiPutra (aktor terbaik): sing dadi Mama, SMKN 1 Krangkeng. AdiPutri (aktris terbaik): sing dadi Bocah Punk-1, SMKN 1 Anjatan.  AdiDwiputra (aktor pembantu terbaik): sing dadi Bos, Teater Srikandi, SMAN 1 Anjatan. AdiDwiputri (aktris pembantu terbaik): sing dadi Mina, Teater Rahwana, SMAN 1 Anjatan. AdiBhawana (penata panggung terbaik): Teater Sabda Pandita, SMK Seni Kroya Indramayu. AdiBusana (penata busana terbaik): Teater Buka Pintu, SMKN 1 Anjatan. AdiSwara (penata musik terbaik): Teater Jagat Sastra Wiralodra, MA Ma’arif, Pranggong Arahan.

Sepuluh pemenang yang ditetapkan tiga orang juri Ucha M. Sarna, Candra N. Pangeran dan Ruhaendi sebagaimana ditulis di atas, semoga pada saatnya melahirkan pegiat sastra asal Indramayu dengan kiprah positifnya hingga membawa mereka ke posisi lebih tinggi. Bagi yang belum jadi pemenang diharapkan untuk tetap beraksi panggung dan mengikuti lomba sastra di mana pun. Panggung kesenian itu ada di mana-mana bukan hanya di Gedung Kesenian Mama Soegra. Semakin sering manggung semakin besar peluang menghayati kesenian itu.

BACA JUGA:   Polisi Tangkap Kurir Narkoba di RS Permata

Festival teater tentu saja bukan semata kemampuan teknis dan  segala hal berkaitan dengan kemampuan individu. Melainkan pula kerja sama kelompok teater. Kerja sama itu telah saya lihat langsung. Lima truk yang membawa properti pertunjukkan dan beberapa mobil bak terbuka di sekitar lokasi festival memperlihatkan kerja sama itu. Peran petugas kebersihan, pemegang sound system, lampu, fotografer, juga pedagang dadakan selama tiga hari itu tidak lain adalah penunjang penting kesuksesan festival. Saya juga terkesan atas suporter tiap kelompok teater baik yang hadir dan duduk di bangku GK Mama Soegra, maupun yang tidak menonton festival. Bagi mereka terselip rasa hormat saya.

Berikutnya apabila festival ini akan berlangsung reguler, sekali setahun atau tiga tahun sekali, kiranya patut diagendakan lebih serius. LBSD dan DKI (Dewan Kesenian Indramayu) serta lembaga kesenian lain di Indramayu disertakan sebagai oc sehingga lebih dapat memperkuat silaturahmi antarseniman berikut masyarakat Indramayu.

Tentu saja LBSD akan mengevaluasi kegiatan yang baru berakhir ini. Termasuk di antaranya menghitung sambil mencari dana untuk menutup utang paska acara. Di sinilah kemampuan managemen berperan selain dukungan penuh semua pegiat kesenian Indramayu. Bantuan demi terselesaikannya kekurangan setara dengan sikap berkesenian. Tanpa bantuan konkrit semua pihak festival teater basa dermayu menjadi stagnan.

Layaknya sebuah festival LBSD pun bisa memetakan kelompok kesenian untuk diangkat sebagai subjek dalam kegiatan lain yang terkait dengan bahasa lokal. Untuk hal ini LBSD diharapkan lebih getol menggelar aktivitas kebahasaan lokal. Dan tidak lupa soal pelaporan tertulis, entah melalui media massa cetak elektronik atau media sosial. Untuk jejaring media sosial saya tahu telah dilakukan langsung sepanjang acara berlangsung. Pun pelaporan tertulis LSBD kepada para penyandang dana. Ini penting supaya mereka bersedia menjadi penyandang dana bagi acara berikutnya.

Paska menyaksikan festival teater basa Dermayu masih banyak kerja kesenian yang harus dilakukan. Selamat bekerja. Salam kesenian! []

*Penulis lepas, tinggal di Cirebon

 

Komentar

News Feed