oleh

Mengenal Lebih Dekat Cap Go Meh dari Kacamata Sejarah

CIREBON (CT) – Perayan Cap Go Meh di Kota Cirebon disambut antusias ribuan warga. Dengan arak-arakan Tao Pe Kong yang diiringin dengan banyak hiburan seperti barongsai, liong, sun go kong dan berbagai kesenian khas Tiong Hoa, masyarakat dibawa larut dalam perayaan setelah hari Imlek dalam kalender Tiong Hoa tersebut.

Arak-arakan sendiri berlangsung meriah dengan rute dimulai dari Vihara Dewi Welas Asih di Jalan Kantor, menuju Jalan Pasuketan kemudian berarak ke Jalan Pekiringan, Parujakan, Sukalila, Karanggetas, Winaon, Kanoman, Talang, Kebumen, Yos Sudarso dan kembali ke Vihara Welas Asih di Jalan Kantor.

Namun banyak dari kita tak tahu apa asal usul Cap Go Meh itu sendiri. Menurut Budayawan Tionghoa Cirebon, Yan Siskarta, kata Cap Go Meh berasal dari dialek Tiociu atau Hokkien yaitu Cap Go itu lima belas dan Meh itu malam. Artinya malam kelima belas setelah Imlek tiba.

Dalam perkembangannya yang diambil dari banyak budaya, Cap Go Meh memiliki dua versi. Versi pertama adalah Yuan Shiau Ciek yaitu satu di antara festival yang dirayakan sejak Dinasti Xie Han (206 SM-24 M) untuk menandakan berakhirnya perayaan tahun baru Imlek.

“Secara religius pada umat penganut Taoisme, Cap Go Meh dikenal sebagai San Yuan yaitu hari lahir Shang Yuan Thian Kuan atau Dewa Langit yang memberikan karunia pada manusia,” ujarnya, Minggu (21/02).

Sementara pada Dinasti Tung Han (25-220), oleh Kaisar Liu Chang, perayaan Yuan Shiau Ciek untuk menghormati Sang Buddha Sakyamuni yang telah menampakkan diri pada tanggal 30 bulan 12 Imlek di Daratan Barat, yang ditafsirkan sama dengan tanggal 15 bulan 1 Imlek di Daratan Timur.

BACA JUGA:   Beredar Proposal yang Mencatut PWI Jabar

Oleh karena itu, Kaisar juga memerintahkan rakyatnya sembahyang syukuran, arak-arakan, memasang lampion, dan atraksi kesenian rakyat pada malam hari tepatnya Cap Go Meh.

Yan memaparkan, perayaan tersebut berlanjut secara turun-temurun hingga sekarang diperingati masyarakat Tionghoa yang menganut Tri Dharma (Sam Kaw) sebagai hari raya religius umat Taoisme, Budhhis, dan Konghucu.

“Sedangkan untuk etnis Tionghoa lainnya dirayakan sebagai hari raya tradisi budaya Yuan Shiau Ciek atau Cap Go Meh atau Lantern Festival sesuai kondisi dan situasi masing-masing,” tuturnya.

Sementara versi lainnya, menurut Yan adalah cerita rakyat pada Dinasti Tung Zhou (770 SM – 256 SM) yaitu para petani pada tanggal 15 bulan 1 Imlek memasang lampion yang disebut Chau Tian Can di sekeliling ladang untuk mengusir hama dan menakuti binatang perusak tanaman.

Petani saat itu juga melihat perubahan warna api dalam lampion (Ten Lung) yang dipercaya dari perubahan warna api dalam lampion pada malam itu dapat diketahui cuaca yang akan datang, yaitu apakah kemarau panjang atau lebih banyak hujan sepanjang tahun.

Dengan demikian, setiap tahun pada hari yang sama petani akan memasang lampion di sekeliling ladang. Setiap tahun semakin bertambah banyak lampion yang dipasang sehingga membentuk suatu pemandangan yang indah pada tanggal 15 bulan 1 Imlek.

“Memasang lampion selain bermanfaat mengusir hama, juga tercipta pemandangan yang indah. Sedangkan untuk menakuti binatang perusak tanaman ditambah segala bunyi-bunyian, bermain barongsai serta arak-arakan tatung sebagai tolak bala dan supaya lebih ramai,” cerita Yan.

Masih menurut Yan, kepercayaan dan tradisi budaya tersebut berlanjut serta berkembang turun-temurun baik di daratan Tiongkok maupun di daerah perantauan di seluruh dunia sesuai kondisi dan situasi negara masing-masing, termasuk di Kota Cirebon. (Wilda)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed