oleh

Greenpeace Ajak Pemerintah Tinggalkan Batu Bara ke Energi Terbarukan

Citrust.id – Pengelolaan batu bara memunculkan berbagai dampak. Pengelolaan batu bara jadi salah satu penyebab utama perubahan iklim, seperti sulit diprediksinya angin Barat bagi nelayan maupun musim tanam bagi petani serta pencairan es di Kutub Utara dan Selatan.

Juru Kampanye Greenpeace, Jeri Kusuma menjelaskan, jika es terus mencair, penduduk yang tinggal di daerah kepulauan akan terkena dampaknya. Permukaan air laut akan terus naik.

Tidak hanya itu, pengelolaan batu bara juga berimbas pada kesehatan manusia. Di antaranya gangguan saluran pernapasan atas, stroke, jantung, infeksi paru-paru, dan lainnya.

“Hal ini bisa dikatakan pencetus kematian dini. Jika rata-rata usia manusia itu 60 atau 70 tahun, bisa saja kurang dari itu karena efek dari batu bara tadi. Walaupun kematian itu takdir, tapi juga mempengaruhi secara ilmiah,” terang Jeri, pada kegiatan Jambore Santri Untuk Energi Terbarukan di Pondok Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah, Minggu (27/1/2019).

Menyikapi hal itu, Greenpeace bersama instansi peduli lingkungan lainnya mendorong pemerintah untuk bertransformasi menggunakan energi ramah lingkungan atau energi terbarukan. Kondisi geografis Indonesia sangat mempuni bila memanfaatkan sumber energi lain seperti matahari, angin, air, dan panas bumi.

Dijelaskan Jery, beberapa negara sudah mulai bertansisi meninggalkan energi batu bara ke energi terbarukan. Contohnya seperti India, China, dan negara-negara di Timur Tengah.

“Ada banyak negara yang sudah beralih ke energi terbarukan. Paling progresif adalah India, China,dan Arab Saudi. Memang belum 100 persen, tapi setidaknya mereka melakukannya transisinya serius dari tahun ke tahun,” pungkasnya. /dhika

BACA JUGA:   Tina Ajak Milenial Kenali Modal Pembangunan Bangsa

Komentar

News Feed