oleh

Cirebon Jadi Kawasan Metropolitan, Warga Kota Udang Mulai Ogah Jadi Nelayan

Ilustrasi

CIREBON (CT) – Pesatnya pembangunan di Kota Cirebon membuat perubahan yang cukup signifikan bagi warga yang hidup di dalamnya. Perubahan gaya hidup yang otomatis mengikuti perubahan pembangunan di kota yang dipimpin Nasrudin Azis tersebut, sontak membuat beberapa hal yang dulu dibanggakan, kini terancam hilang.

Kota Cirebon sebagai daerah maritim, dahulu dengan bangganya mendeklarasikan diri sebagai salah satu daerah pengekspor komoditas laut terbesar di Indonesia. Komoditas seperti rajungan dan udang menjadi primadona kaum nelayan terdahulu. Tak ayal, Kota Cirebon pun langsung terkenal dengan sebutan Kota Udang.

Kini, tatanan sumber daya manusia di Kota Cirebon berubah. Mata pencaharian sebagai nelayan yang dahulu diagungkan kini mulai ditinggalkan. Masyarakat pun berbondong lebih memilih bekerja sebagai buruh atau pun pegawai kantoran dibanding bekerja sabagai nelayan yang hasil tangkapannya makin tidak menentu.

“Di 2015 saja sebenarnya ada 2.218 nelayan di Kota Cirebon, jumlahnya kita akui makin hari makin berkurang,” ujar Kepala Dinas Kelautan Perikanan Peternakan dan Pertanian (DKP3) Kota Cirebon, Maharani Dewi, Senin (22/02).

Maharani menyebutkan, jumlah tersebut terus tergerus lantaran terbukanya peluang para nelayan untuk bekerja di tempat lain, seperti mall dan pabrik yang berpenghasilan tetap setiap bulannya. Ditambah cuaca yang makin tak bersahabat membuat mata pencaharian nelayan yang dulu dibanggakan kini perlahan ditinggalkan.

“Makin habis nelayan kita jika seperti ini terus,” keluh Maharani.

Namun, hasil laut Kota Cirebon yang, jika dijumlahkan pengelolaan zona ekonomi eksklusif, memiliki perairan seluas 51,86 kilometer persegi tersebut tidaklah mengecewakan. Pada semester 1 tahun 2015 saja, Kota Cirebon sebenarnya masih mengekspor komoditas rajungan dan udang dengan jumlah yang cukup mencengangkan.

BACA JUGA:   UGJ Adakan Konferensi Internasional ASSETH 2019

“Semester awal 2015, Kota Cirebon berhasil mengekspor Rp 1.049,072 ton rajungan dengan nilai Rp 339,693 juta. Serta mengekspor 989,252 ton udang yang menghasilkan Rp 102,44 juta,” papar Maharani.

Seperti diketahui, Kota Cirebon, beserta Kabupaten Cirebon, Majalengka, Indramayu, dan Kuningan digaungkan Pemprov Jawa Barat untuk menjadi kawasan metropolitan yang akan disebut sebagai Cirebon Raya.

Cirebon Raya direncanakan Pemprov Jabar untuk menjadi kawasan metropolitan bersama dua wilayah lainnya. Selain Cirebon Raya yang direncanakan pembangunannya berbasis budaya, Pemprov Jabar juga rencananya akan membangun kawasan metropolitan di wilayah Depok, Bogor, Bekasi, Karawang dan Purwarkarta (Debobekkarpur) yang berbasis industri.

Serta, Pemprov Jabar juga berencana akan membangun kawasan metropolitan di Bandung Raya yang melingkupi kawasan Bandung seperti Kota Bandung, Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). (Wilda)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed