oleh

Bursa Efek Indonesia

Catatan DADANG KUSNANDAR*

SEMULA Bursa Efek Indonesia (BEI) bernama Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang kali pertama dikenalkan pada tanggal 1 April 1983. BEI merupakan indikator pergerakan harga saham. Indeks ini, meminjam Wikipedia mencakup pergerakan harga seluruh saham preferen. Itu sebabnya ada istilah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Penetapan perhitungan IHSG dilakukan pada tanggal 10 Agustus 1982 dengan nilai dasar 100 dan saham yang tercatat ketika itu berjumlah 13 saham. Posisi intraday  (penutupan saham) tertinggi IHSG adalah 5.726,53 poin pada tanggal 26 April 2017.

Praktek jual beli saham perusahaan besar, lebih kurang begitulah yang berlangsung setiap saat di BEI. Melalui televisi swasta, IHSG sejumlah perusahaan besar terus ditayangkan melalui running text. Luar biasa perhatian para owner televise terhadap fluktuasi IHSG. Sementara kita di sini tidak mengerti apa dan bagaimana seorang pemain pasar modal tiba-tiba meluapkan kegembiraan karena analisisnya tepat. Jual beli saham yang dilakukannya di BEI sukses dan meraup keuntungan. Ia kemudian menelpon bossnya, entah di mana.

Dan di sini pula kita mengerti manakala tampak seseorang menggebrak meja kerja di BEI dengan rona wajah kecewa. Keringat yang mengucur dari balik jas dasinya tampak. Ia kalah dan salah menganalisis saham mana yang poinnya naik. Ia pun menerima telepon dari bossnya dengan wajah semakin pias. Selebihnya penonton televisi di rumah yang tidak mengerti seluk beluk pasar modal, memindahkan chanel televisi melalui remote control sambil berucap, “Enak nonton gosip selebriti dan sosialita”.

Senin, 15 Januari 2018 pada pukul 12.10 WIB gedung mewah di Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Kelurahan Senayan Kecamatan Kebayoran Baru Jakarta Selatan itu menjadi sorotan. Selasar Atap Gedung Tower II ambruk. Berdasar pekabaran melalui media sosial, kerusakan itu menimpa Kantor Cabang Pembatu BCA, Ruang Pers, dan Ruang Perdagangan.

BACA JUGA:   Ini Penjelasan Dirut PAM Tirta Giri Nata soal Reklasifikasi

Korban dilarikan ke empat rumah sakit terdekat, yakni RSP Pertamina, RS Siloam, RS Jakarta, dan RSMTH. Sebanyak 7 (tujuh) korban ditangani di RSP Pertamina, 30 korban di RS Siloam, 20 korban di RS Jakarta, dan 16 korban di RSMTH. Kronologi kejadian telah menyebar luas, demikian pula tayangan videonya. Juga polisi yang terus berjaga sambil mencari siapa tahu ada korban yang masih terdapat di reruntuhan yang belum dievakuasi.

Dilihat dari usia para pekerja BEI (20 tahun – 46 tahun) terbukti bahwa kalangan muda eksekutif Indonesia merupakan pelaku pasar modal. Ini tentu saja menggembirakan. Artinya kita bisa berharap banyak pada mereka untuk memajukan ekonomi masyarakat. Apa dan bagaimana kiprah BEI tentu saja kalangan ekonom dan pemain pasar modal lebih mengerti. Tito Sulistio yang baru saja didaulat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi Direktur Utama PT BEI pada tanggal 9 Januari 2018 ybll, bersama jajaran direksinya akan terus berusaha meningkatkan pendapatan BEI sehingga dapat memberi kontribusi bagi peningkatan perekonomian Indonesia. Kabarnya di tahun politik 2018 ini akan banyak investor yang akan menarik sahamnya. Fakta ini pasti berpengaruh pada IHSG.

Robohnya selasar atap gedung tower II hari ini menjadi begitu menyita perhatian karena di dalam gedung itu perputaran uang begitu besar. Kepada para korban, “Semoga segera pulih kembali dan dapat bekerja selekas mungkin. Aamiiiin…..” []

*Kolomnis, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed