oleh

Bersama “Rangkul” Geng Motor

Oleh: Mamang M. Haerudin *)

Geng motor kembali berulah. Perang antar geng pun tak dapat terhindarkan. Tak tanggung, seorang anggota geng motor mengalami luka bacok dan 8 orang lainnya ditahan polisi (Radar Cirebon, 6/10). Sementara sebelumnya, sebagaimana kita tahu, sudah berulang kali mereka berulah, di mana juga telah banyak menelan korban. Tindak kriminal ini benar-benar melanggar kemanusiaan dan mencoreng nama baik Cirebon, yang telah lama dikenal sebagai kota wali yang aman dan tentram.

Kalau sudah demikian, ini tanggung jawab siapa? Pertanyaan mendasar dan besar ini mesti dijadikan perhatian bersama, betapa kondisi pemuda dan umumnya masyarakat saat ini sedang dalam bahaya. Unsur masyarakat mulai dari Walikota/Bupati, polisi, tokoh agama, orang tua, dan lainnya harus bersatu bersikap serius menangani peristiwa memalukan ini.
Geng motor, pada umumnya digeluti oleh mereka, para pemuda. Secara psikologis, perkembangan di masa muda ini mereka mempunyai sikap yang cenderung memberontak, penuh dengan inisiatif, kreatif, antikemapanan, dan penuh dengan segala intrik yang bertujuan untuk membangun kepribadian. Karena itu, menangani pemuda geng motor tidak bisa menggunakan perlawanan yang keras dan brutal.

Merangkul
Hamdi Muluk (2012), Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia mengatakan, sikap preventif atau pencegahan, bisa dilakukan dengan cara melakukan identifikasi pada setiap geng motor yang ada. Selain itu perlu juga pihak terkait memfasilitasi penyaluran keinginan mereka dengan membuat sebuah perlombaan yang legal.

Pandangan tersebut jika saya maknai adalah sebagai upaya serius yang bermaksud merangkul. Menyikapi dan menyelesaikan geng motor tidak bisa dengan frontal dan kekerasan. Sebab, semakin frontal dan keras perlawanan kita terhadap mereka, mereka justru akan semakin membabi buta. Oleh karena demikian, diperlukan pendekatan yang lebih manusiawi dan mendidik, sebab pada mulanya geng motor ini bermula dari hobi yang sama (dari banyak pemuda) untuk kemudian berkumpul sebagaimana para pemuda dengan hobi lainnya.

Untuk itu, pihak yang berwajib dan elemen terkait lainnya harus bersikap akomodatif, yang kita lawan adalah perilaku brutalnya, bukan hobinya. Diperlukan pemikiran dan strategi yang jitu untuk dapat ‘meluluhkan’ kebrutalan dan kekerasan hati mereka. Satu cara utama yang dapat meluluhkan kebrutalan dan kekerasan hati adalah dengan kebaikan dan kelembutan. Menyentuh ranah psikologisnya, untuk supaya nuraninya terketuk. Bahwa jiwa-jiwa muda seperti meraka akan sangat produktif tatkala disalurkan pada medan yang tepat.

Solidaritas kuat yang tercermin dalam komunitas geng motor tak tertandingi. Kalau kemudian energi solidaritas itu kita arahkan pada arah yang positif, maka akan menghasilkan para pemuda yang memiliki produktivitas dan solidaritas kebaikan yang tinggi. Sekali lagi, mereka hanya butuh pencerahan/petunjuk, dalam bahasa agama ‘hidayah’, dari kita sebagai orang tua kepada anaknya. Petunjuk itu tidak bisa instan, harus bertahap dan perlahan dengan penuh kesabaran.

Dari Geng ke Klub Motor

Untuk hal ini, saya kira patut diapresiasi langkah Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung, yakni memberikan solusi betapa pentingnya merubah maindset dalam menyikapi geng motor. Ia mengusulkan agar nama ‘geng motor’ diubah menjadi ‘klub motor’. Geng motor harus dibubarkan, namun tetap berkumpul dengan nama baru ‘klub motor’. Implikasi dari penamaan yang baru, akan membawa spirit dan image positif yang baru.

Dengan perubahan penamaan ini, pada seterusnya akan membawa angin segar, di mana ulah geng motor yang selama ini menyeruak adalah murni tindak kriminal. Sementara kriminalitas, bisa dilakukan dengan alat/media apapun. Sehingga dengan demikian, geng motor bisa merujuk pada aktivitas klub motor yang sudah lebih awal terbentuk, di mana kegiatan mereka ada bakti sosial. Klub motor ini berorientasi untuk menyelaraskan hobi dengan aktivitas sosial yang bermanfaat.

Lebih daripada itu, keberadaan klub motor ini mendapatkan pantauan dari pihak yang berwenang. Manajemen perkumpulannya harus jelas dan sistematis. Elemen-elemen terkait mesti bersama pro-aktif dalam menjaga kondusivitas daerah. Berikutnya adalah peran media, agar dapat bersikap proporsional dan objektif, untuk tidak hanya meliput dan memberitakan kasus-kasus brutal (geng motor), sementara berbagai aktivitas positif (klub motor) tidak terekspos. Bukankah juga banyak, klub-kulub motor yang punya dedikasi tinggi pada masyarakat, melakukan berbagai aktivitas sosial; melakukan bersih-bersih jalan, donor darah, memberikan santunan, dan aktivitas sosial sejenis lainnya.

Akhirnya, tragedi pengeroyokan dan pembunuhan yang pernah dan terlanjur terjadi harus bisa menjadi bahan introspeksi bersama, bahwa persoalan geng motor bukanlah persoalan sederhana, ia amat kompleks dan tak bisa ditangani oleh satu pihak saja. Semoga ke depan, aksi-aksi brutal semacam ini urung terjadi lagi. Wallahua’lam bi al-Shawab.

*) Khadim al-Ma’had pesantren Radulatut Tholibin, Babakan-Ciwaringin, Ketua LP3M STID Al-Biruni Cirebon

Komentar

News Feed