oleh

“Bank Sampah” ala Berlin, Solusi Sekaligus Kritik Buruknya Pengelolaan Sampah di Cirebon

Citrust.id – Sampah selama ini memang sering menimbulkan persoalan. Selain mengotori lingkungan, sampah juga bisa membawa berbagai macam penyakit.

Ada tiga macam jenis sampah diantaranya sampah organik yang mudah terurai secara alamiah seperti sisa makanan, kertas, dan dedaunan. Ada sampah yang tidak mudah terurai secara alamiah bahkan untuk mengurainyapun diperlukan kekhususan tersendiri, yakni sampah anorganik seperti halnya plastik, kaca, dan kaleng.

Yang terakhir, sampah bahan berbahaya dan beracun (B3). Sampah ini biasanya dihasilkan dari limbah pabrik dan limbah medis/limbah rumah sakit.

Dari ketiga sampah di atas, yang sifat dan jenisnya berbeda tentu saja untuk cara penanganannya pun berbeda pula serta perlu perhatian secara serius.

Meskipun pemerintah pusat telah mengeluarkan paradigma baru dalam pengelolaan sampah lewat undang-undang nomor 18 tahun 2008 tentang persampahan, dan mengganti paradigma lama yakni kumpul-angkut-buang, tetapi pada prakteknya di beberapa daerah seperti di Kota dan Kabupaten Cirebon penanganan sampah masih menggunakan paradigma lama (sentralisasi).

TPA masih menjadi proses pembuangan akhir dengan sistem Oven Dumping seperti halnya di TPA Kopi Luhur dan TPA Ciledug. Padahal dalam paradigma baru (desentralisasi), TPA menjadi tempat pemerosesan akhir.

Seperti yang rilis oleh Walhi, ketidakseriusan pemerintah dalam penanganan sampah pun terliihat dengan munculnya Perpres nomor 18 tahun 2016 tentang percepatan PLTSa di tujuh kota. PLTSa mengindikasikan pemerintah pusat mengutamakan penanganan sampah di akhir dan sentralisasi, upaya untuk mengurangi timbunan sampah dan pengelolaan sampah secara desentralisasi tersebut tidak mengalami percepatan dan mengembalikan sampah yang tidak mudah terurai kepada produsen lewat kewajiban EPR (extended produsen responsibility) tidak begitu diseriusi.

Persoalan di atas ternyata ditanggapai dan mendapatkan kritik oleh komunitas BERLIN (bersih lingkungan) dengan cara yang kreatif dan edukatif dalam penanganan sampah.

BACA JUGA:   Komisi II DPRD Kota Cirebon Pertanyakan Konsep Cirebon Bersih DLH

Komunitas yang didirikan pada 15 September 2017 dan diinisiasi oleh para pemuda progresif ini, beralamat di desa Japura Kidul, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon. Bentuk kritiknya pun sangat inovatif, yakni salah satunya dengan mendirikan Bank Sampah.

Dewi sartika (19) kordinator dari komunitas Berlin menjelaskan alasan didirikannya Bank Sampah ini, sebagai bentuk representasi dari paradigma baru dalam pengelolaan sampah.

Karena sampah yang masuk ke Bank Sampah nantinya dipilah antara yang anorganik dan organik.

“untuk sampah yang kami tampung, hanya sampah organik dan anorganik. Untuk sampah B3 kami tidak tampung, karena untuk penanganannya harus oleh yang ahlinya,” tuturnya.

Setelah dipilah, sampah pun didaur ulang dengan dijadikan kerajinan tangan seperti membuat bros dan WPAP dari sampah plastik, dengan menggandeng anak muda dan ibu-ibu sambil diberikan imbauan agar mulai membiasakan memilah sampah sejak dari rumah.

“Kehadiran Bank Sampah pun mendapat respons yang baik dari masyarakat, meski hanya baru berumur 5 bulan, namun kami mampu menghasilkan 50 kilogram sampah plastik perbulannya,” paparnya.

Selain membentuk Bank Sampah, Komunitas Berlin pun tiap satu pekan sekali rutin mensosialisakin ke sekolah-sekolah terkait penanganan dan manfaat sampah, sesuai dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recyle).

Dewi sartika (19) anggota Komunitaas Berlin menjelaskan dirinya bersama rekan-rekan yang lain memiliki misi menjadikan Berlin sebagai pusat aspirasi pemuda, untuk mensejahterakan dan mencerdaskan bangsa dengan berwawasan ekologi.

“Salah satunya dengan mengajak untuk kritis terhadap persoalan sampah,” paparnya.

Menurut perempuan berparas cantik itu, kegiatan terpenting dari komunitas Berlin sendiri tidak hanya mengajak masyarakat untuk menyetor sampah, tapi memberikan edukasi dan imbauan, terutama bagi anak-anak sebagai harapan bagi generasi masa depan yang maju dan lebih bisa menjaga lingkungan. /engkos

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed