oleh

Abdurahman bin Muljam dan Kita Saat Ini

Oleh Doamad Tastier*

IMAM Ali wafat dengan tebasan pedang beracun di pelipisnya ketika hendak solat subuh berjamaah oleh Abdurahman Bin Muljam. Pembunuhan ini sebenarnya hanya ekses dari konflik para elit politik saat itu, yakni elit-elit yang terlibat dalam Perang Sifin, perang antara Ali dan Muawiyah. Sasaran pembunuhan, menurut beberapa riwayat pada saat itu, adalah tiga orang, yakni Ali, Muawiyah, dan Amru bin ‘Ash. Ketiga orang ini dianggap kafir dan membuat perpecahan di tubuh umat islam, sehingga, menurut kelompok pembunuh ini, dihalalkan darahnya. Namun yang menarik di sini adalah siapa pengeksekusi rencana ini dan mengapa orang-orang ini mau menjadi eksekutor pembunuhan tersebut.

Para eksekutor tersebut adalah korban dari provokasi para elit dalam konstelasi perpolitikan saat itu. Para eksekutor adalah orang-orang baik yang pada hakikatnya menginginkan kebaikan-kebaikan bagi agama maupun umat pada saat itu. Bahkan, diriwayatkan bahwa Abdurahman bin Muljam adalah seorang yang hafal al-Quran, suka berpuasa, dan rajin solat malam. Saya berhusnudzon, bahwa tindakannya membunuh Ali atas niatan yang baik, sesuai keyakinannya. Dia hanya korban dari kebejatan para elit politik pada saat itu.

Sejarah selalu memiliki pola yang berulang. Begitu yang diyakini oleh filsuf sejarah seperti Vico dan Spengler. Peristiwa pembunuhan-pembunuhan pasca perang Sifin, juga terjadi sampai saat ini. Peristiwa kontemporer seperti pembunuhan Syekh Ramadhan al-Buthi di Suriah juga demikian, diawali dengan tuduhan sesat dan kafir yang dikeluarkan oleh para elit yang ikut terlibat di konflik Suriah, yang merasa kepentingannya terganggu oleh sikap al-Buthi yang memilih untuk tidak mendukung kaum pemberontak. Para elit itu memanfaatkan orang-orang baik (polos?) yang tidak tahu-menahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga orang tersebut kemudian rela meledakkan dirinya di Masjid ketika al-Buthi sedang memberikan khutbah jumat.

BACA JUGA:   Terkait Reklasifikasi, Komisi II Beri Saran PAM Tirta Giri Nata

Di Indonesia nampaknya juga demikian, para elit politik serta para ‘ulama’ yang mempunyai tendensi politik memanfaatkan umat secara membabi buta. Orang-orang yang tidak mendukung agenda mereka, dituduh dengan tuduhan sesat, kafir, syiah dan tuduhan-tuduhan lain yang sangat tidak beradab. Setelah ini terjadi, umat di bawah terpengaruh dan tersebarlah tuduhan itu untuk kemudian diikuti dengan jalan pedang (kekerasan). Maka tidaklah mengherankan jika saat ini kita gampang sekali mendengar atau menemukan selebaran atau postingan di media sosial, kata-kata ‘gantung’, ‘bunuh’, ‘penggal’. Naasnya kondisi ini sudah menjelma menjadi tindakan nyata yang merusak. Maka peradaban macam apa yang diharapkan dari umat yang gampang terprovokasi serta para elit yang rusak, selain kekacauan-kekacauan yang sangat merusak bagi peradaban islam sendiri.

Oleh karena itu, kita (umat) butuh elit serta Ulama yang menyemai kedamaian serta paham dan mengerti arti islam, dan kemausiaan. Ulama seperti itulah yang patut diikuti oleh umat. Bukan ‘ulama’ yang suka mencaci dan memanfaatkan umat demi kepentingan pribadi. Para Ulama sebagai panutan umat harus berhati-hati dan bijak terhadap isu-isu yang berpotensi menyemai konflik dan mafsadah. Agar tidak ada lagi Ibnu Muljam yang lain. Ini jika kita ingin menjadikan Islam memayu hayuning bawana. Memperindah wajah peradaban dunia. Islam yang rahmatan lil alamin. Wallahu a’lam bi as-showab. []

*Mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed