oleh

Strategi Petani Tembakau Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Citrust.id – Petani tembakau di Kabupaten Majalengka bertahan di tengah pandemi dengan membuat Mole, sejenis bako linting siap hisap. Bako itu dijual di pasar tradisional, dan warung sekitar tempat tinggal mereka.

Salah satu petani tembakau Desa Babakansari, Kecamatan Bantarujeg, Mulyana, mengatakan, daya beli masyarakat untuk membeli rokok produk pabrik sangat rendah. Banyak masyarakat yang beralih ke Bako Mole yang jauh lebih murah.

“Pemasarannya juga gampang. Cukup di warung tetangga, banyak yang nyari, selain ke pedagang yang suka jualan di pasar tradisional,” imbuhnya.

Hasil panen tembakau sebagian dipakai untuk produksi Bako mole, selain dijual ke pabrik rokok.

Mulyana melanjutkan, faktor lain penyebab petani memproduksi Bako Mole adalah karena fluktuasi harga jual tembakau. Ketika petani menanam sedikit, harga jual tembakau mahal. Namun, ketika panen banyak, harga murah.

“Harga tembakau kualitas bagus biasanya sampai Rp65 ribu perkilogram. Sebelumnya, harga paling tinggi rata-rata Rp50 ribu perkilogram,” paparnya, Senin (25/10).

Dikatakan dia, harga tembakau kualitas biasa saja mencapai Rp45-50 ribu perkilogram. Namun sangat disayangkan, para petani di desanya hanya sedikit yang menanam karena keburu musim kemarau. Berbeda dengan tahun kemarin yang lebih banyak musim hujan.

Kendala utama petani tembakau adalah permodalan dan kondisi cuaca yang tidak menentu. Kualitas tembakau ditentukan hanya satu hari saja. Petani menanam sedikit karena takut cuaca hujan seperti tahun kemarin, ternyata cuaca tahun ini bagus, panas. Cocok untuk menjemur tembakau, tetapi telat menanam karena keburu musim kemarau. Jika tidak kering, dalam satu hari harga tembakau bisa turun 50 persen.

“Untuk itu, banyak yang Bako Mole yang dijual sekitar Rp15-25 ribu tergantung ukuran kemasan, sebagai penghasilan tambahan,” tukasnya. (Abduh)

Komentar

News Feed