Citrust.id – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Penutupan jalur strategis Selat Hormuz memicu gejolak harga minyak dunia dan membuat komoditas energi, khususnya minyak mentah jenis Brent Crude Oil, mengalami fluktuasi tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala Cabang PT Equityworld Futures Cirebon, Ernest Firman, mengatakan konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 membuat pelaku pasar global meningkatkan kewaspadaan. Banyak investor dan trader memilih mencermati perkembangan situasi sebelum mengambil keputusan transaksi dalam skala besar.
“Karena saat ini kita masih berada di kuartal pertama tahun 2026 dan situasi global belum stabil, banyak pelaku pasar yang masih melihat perkembangan konflik sebelum mengambil langkah yang lebih besar,” ujar Ernest.
Menurut dia, ketegangan di Timur Tengah memang memberikan pengaruh terhadap sejumlah komoditas global. Namun, dampaknya tidak selalu sama pada setiap instrumen perdagangan berjangka.
Komoditas yang saat ini paling merasakan dampak langsung adalah minyak mentah jenis Brent Crude Oil. Hal itu berkaitan erat dengan jalur distribusi minyak dunia yang sebagian besar melewati Selat Hormuz.
Ernest menjelaskan, selat tersebut merupakan salah satu jalur transportasi energi paling vital di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas melalui wilayah tersebut sehingga setiap ketegangan geopolitik di kawasan itu dapat langsung memengaruhi harga minyak internasional.
“Yang terdampak langsung sebenarnya adalah alur transportasi minyak di Selat Hormuz. Karena itu setiap konflik di kawasan tersebut membuat harga minyak sangat sensitif,” katanya.
Ia mengungkapkan, sejak konflik memanas pada 28 Februari 2026, harga Brent crude oil sempat melonjak hingga menyentuh level sekitar 120 dollar AS per barel. Namun, harga kemudian terkoreksi dan kembali berada di kisaran 90 dollar AS per barel.
Meski mengalami koreksi, volatilitas harga minyak masih tergolong tinggi karena ketidakpastian mengenai kapan konflik akan berakhir.
“Selama belum jelas kapan perang ini akan berakhir, tensi harga minyak masih akan tetap tinggi,” ujar Ernest.
Kondisi tersebut turut tercermin dalam aktivitas perdagangan berjangka komoditas. Menurut Ernest, sektor energi saat ini menjadi salah satu instrumen yang paling banyak ditransaksikan oleh para trader.
Ia menjelaskan bahwa dalam perdagangan berjangka, perusahaan tidak melakukan transaksi fisik komoditas. Aktivitas perdagangan hanya berfokus pada pergerakan harga sehingga pelaku pasar dapat memanfaatkan momentum naik turunnya harga.
“Kami tidak memegang fisik komoditasnya. Yang ditransaksikan adalah pergerakan harga. Jadi ketika harga sedang melonjak, justru menjadi peluang trading,” katanya.
Selain minyak, komoditas lain yang kerap menjadi perhatian investor dalam situasi konflik global adalah emas. Dalam kondisi ketidakpastian, emas biasanya dipilih sebagai instrumen lindung nilai atau safe haven.
“Biasanya ketika terjadi perang, investor mengalihkan likuiditasnya ke emas untuk mengamankan nilai aset. Namun dampaknya biasanya hanya sesekali,” ujar Ernest.
Ia memperkirakan harga emas dalam waktu dekat berpotensi mengalami koreksi ringan setelah sebelumnya bergerak di level tinggi.
“Untuk emas, saat ini pergerakannya tertahan di kisaran sekitar 5.000 sampai 5.200 dollar AS per troy ounce. Kemungkinan ada sedikit penurunan, tetapi tetap menarik untuk diperhatikan,” katanya.
Di tengah situasi geopolitik yang memanas, Ernest juga mengingatkan pelaku pasar agar lebih berhati-hati dalam menyerap informasi yang beredar, terutama di media sosial.
Menurut dia, perkembangan teknologi membuat banyak konten visual maupun berita yang belum tentu akurat, termasuk yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan.
“Sekarang banyak juga gambar atau berita yang ternyata hoaks atau dibuat menggunakan teknologi AI. Jadi trader harus lebih selektif dalam menerima informasi,” ujarnya.
Ia menilai kondisi geopolitik global saat ini masih sulit diprediksi karena setiap pihak yang terlibat konflik memiliki narasi yang berbeda. Oleh karena itu, pelaku pasar diimbau tetap berhati-hati dalam membaca perkembangan situasi global.
“Kalau sampai beberapa bulan ke depan konflik ini belum mereda, kita mulai harus lebih waspada. Biasanya perang tidak berlangsung terlalu lama karena biaya yang dikeluarkan sangat besar,” kata Ernest. (Haris)













