Citrust.id – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan pasar global, terutama terhadap pergerakan harga emas berjangka yang dikenal sebagai aset safe haven.
Di tengah dinamika konflik yang fluktuatif, arah harga emas tidak lagi bergerak sederhana, melainkan dipengaruhi berbagai faktor kompleks, mulai dari dolar AS hingga kebijakan suku bunga bank sentral.
Analis sekaligus Kepala Cabang PT Equityworld Futures (EWF) Cirebon, Ernest Firman, mengatakan, konflik AS–Iran secara umum memiliki korelasi positif terhadap harga emas berjangka. Setiap ketegangan geopolitik besar biasanya mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas.
“Secara umum, konflik AS–Iran punya korelasi positif dengan emas berjangka karena setiap ketegangan geopolitik besar biasanya mendorong investor masuk ke aset safe haven,” ujar Ernest.
Namun demikian, ia menilai pergerakan pasar saat ini tidak sesederhana itu. Dampak konflik terhadap harga energi dan kekhawatiran inflasi turut memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat, sehingga sempat menahan laju kenaikan emas.
“Pasar kali ini tidak sesederhana itu, karena efek konflik juga sempat mengangkat harga energi dan memicu kekhawatiran inflasi, sehingga pasar menilai peluang penurunan suku bunga The Fed bisa tertunda,” katanya.
Menariknya, lanjut Ernest, harga emas justru kembali menguat setelah adanya gencatan senjata sementara antara AS dan Iran. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku pasar kini membaca konflik tidak hanya dari sisi risiko perang, tetapi juga dari dampaknya terhadap dolar AS, harga minyak, dan arah suku bunga.
“Artinya, pasar saat ini tidak hanya membaca konflik dari sisi ‘takut perang’, tapi juga dari sisi dampaknya ke dolar, minyak, dan arah suku bunga AS,” ujarnya.
Dalam kondisi terkini, ia menilai sentimen geopolitik memang besar, tetapi bukan satu-satunya faktor dominan. Respons pasar terhadap dolar AS, yield obligasi, serta ekspektasi kebijakan The Fed tetap menjadi penentu utama arah lanjutan harga emas.
“Geopolitik itu seperti pemicu awal, sedangkan arah lanjutan harga emas biasanya sangat ditentukan oleh respons dolar AS, harga minyak, real yield, dan ekspektasi kebijakan The Fed,” jelasnya.
Ernest juga memaparkan, pada fase awal konflik, pergerakan harga emas lebih banyak didorong oleh faktor psikologis pasar. Investor cenderung bereaksi cepat dengan mengalihkan dana ke aset defensif.
“Begitu konflik pecah, reaksi pertama investor biasanya emosional: mengurangi aset berisiko dan masuk ke emas atau instrumen defensif lain,” katanya.
Namun setelah itu, pasar akan kembali pada fundamental ekonomi yang lebih dalam, seperti dampak konflik terhadap inflasi, suplai energi, dan arah kebijakan moneter.
Di tengah volatilitas yang tinggi, Ernest mengingatkan investor untuk tidak hanya mengandalkan satu indikator. Ia menekankan pentingnya memantau pergerakan dolar AS, yield obligasi, dan harga minyak secara bersamaan.
“Sekarang market itu sangat headline-driven. Satu pernyataan pejabat atau satu kejadian di Timur Tengah bisa langsung mengubah arah market dalam hitungan menit,” ujarnya.
Terkait strategi, ia menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dan tidak bersikap agresif. Pendekatan bertahap dengan manajemen risiko dinilai lebih relevan dalam kondisi pasar yang tidak menentu.
“Jangan all-in di satu posisi. Masuk bertahap, dan pastikan selalu ada batas risiko. Lebih baik kehilangan peluang daripada kehilangan kontrol,” tegasnya.
Dari sisi kebijakan moneter, Ernest menilai peran The Fed masih sangat dominan terhadap arah harga emas. Ia menyinggung keputusan The Fed pada Maret 2026 yang mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen di tengah ketidakpastian global.
“Untuk emas, The Fed tetap salah satu faktor paling dominan. Arah emas ke depan akan sangat bergantung pada apakah konflik ini membuat The Fed lebih berhati-hati atau justru lebih siap memangkas suku bunga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konflik AS–Iran memiliki dua efek yang saling tarik-menarik terhadap emas. Di satu sisi, konflik mendorong permintaan safe haven, tetapi di sisi lain berpotensi menahan penurunan suku bunga jika memicu inflasi melalui kenaikan harga energi.
Lebih lanjut, Ernest menyebut potensi koreksi harga emas tetap ada jika konflik mereda, meski tidak selalu tajam. Arah emas sangat bergantung pada respons pasar terhadap dolar dan ekspektasi kebijakan moneter.
“Kalau konflik mereda, arah emas akan sangat tergantung pada respons dolar dan ekspektasi Fed, bukan pada geopolitiknya saja,” katanya.
Untuk proyeksi ke depan, ia menilai harga emas masih memiliki peluang menguat hingga akhir tahun jika ketegangan geopolitik terus berlanjut, meskipun akan disertai volatilitas tinggi.
Market sekarang itu bukan tren lurus, tetapi tren naik yang diselingi koreksi dalam. Jadi buat investor, ini bukan soal tebak arah saja, tetapi soal bagaimana bertahan di tengah volatilitas.
“Di EWF Cirebon, kami selalu arahkan nasabah untuk tidak cuma fokus profit jangka pendek, tetapi juga bagaimana menjaga posisi tetap sehat di market yang dinamis seperti sekarang,” pungkas Ernest Firman. (Haris)













