Citrust.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon mencatat sektor jasa keuangan di wilayah Ciayumajakuning tetap stabil pada Triwulan I 2026, di tengah pertumbuhan kredit, peningkatan aset perbankan, hingga lonjakan jumlah investor pasar modal yang signifikan.
Stabilitas tersebut terlihat dari kinerja berbagai sektor, mulai dari perbankan, industri keuangan nonbank, hingga pasar modal, yang secara umum menunjukkan tren positif. OJK juga terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan melalui program edukasi serta pengembangan Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (Desa EKI).
“OJK Cirebon akan terus mengakselerasi program literasi dan inklusi keuangan secara masif melalui penyediaan akses keuangan yang terjangkau, mudah, dan murah bagi masyarakat,” kata Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib.
Pada sektor Bank Perekonomian Rakyat (BPR), penyaluran kredit hingga Maret 2026 tercatat mencapai Rp2,162 triliun atau tumbuh 5,31 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini diikuti penurunan rasio kredit bermasalah (NPL), yang menandakan kualitas kredit semakin membaik. Aset BPR juga meningkat menjadi Rp2,96 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp2,24 triliun.
Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BPR tetap terjaga di level 21,74 persen. OJK Cirebon juga mendorong penguatan BPR melalui konsolidasi sesuai regulasi yang berlaku, termasuk penerapan strategi anti-fraud.
Sementara itu, kinerja kantor cabang bank umum menunjukkan peningkatan. Kredit yang disalurkan mencapai Rp48,19 triliun, dengan dominasi kredit konsumsi sebesar Rp23,33 triliun. Adapun rasio kredit bermasalah tetap terkendali di level 3,61 persen.
Pada perbankan syariah, pembiayaan tumbuh menjadi Rp7,78 triliun, dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) tetap terjaga di angka 2,82 persen. Kredit konsumsi masih mendominasi, sekaligus menjadi pendorong utama pertumbuhan.
Di sektor pasar modal, jumlah investor di wilayah Ciayumajakuning melonjak menjadi 567.600 investor atau tumbuh 79,8 persen secara tahunan. Nilai transaksi saham juga meningkat tajam hingga mencapai Rp2,57 triliun.
Peningkatan ini mencerminkan semakin tingginya literasi masyarakat terhadap investasi, serta meningkatnya optimisme dalam memanfaatkan instrumen pasar modal.
Pada sektor industri keuangan nonbank, kinerja Lembaga Keuangan Mikro (LKM) juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Aset LKM melonjak 178,14 persen menjadi Rp54,84 miliar, sementara penyaluran pinjaman mencapai Rp33,61 miliar.
Dari sisi perlindungan konsumen, OJK Cirebon telah melayani 901 konsultasi dan pengaduan sepanjang Triwulan I 2026. Mayoritas pengaduan berasal dari sektor fintech lending dan perbankan umum.
Selain itu, layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) mencapai 4.770 permintaan.
Dalam upaya meningkatkan literasi keuangan, OJK Cirebon menggelar 59 kegiatan edukasi dengan total 7.324 peserta di seluruh wilayah Ciayumajakuning. Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah hingga komunitas masyarakat.
Salah satu program unggulan adalah pengembangan Desa EKI di lima lokasi, termasuk Desa Gunung Kuning di Majalengka dan Desa Gebang Mekar di Kabupaten Cirebon. Program ini bertujuan memperluas akses keuangan berbasis komunitas, terutama bagi pelaku UMKM dan masyarakat pesisir.
“OJK juga terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah berbasis inklusi keuangan,” ujar OJK.
Ke depan, OJK Cirebon menegaskan komitmennya menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memperkuat tata kelola yang bersih dan berintegritas, termasuk melalui penerapan program pengendalian gratifikasi di seluruh lini organisasi. (Haris)













