oleh

Kompetisi Pendidikan dapat Menghambat Potensi Anak

Ilustrasi

Oleh : Farida Mahri*)

SAHABAT saya, seorang guru TK (Taman Kanak-kanak) dalam suatu kesempatan bercerita bahwa kelas yang diajarnya baru saja “kehilangan” seorang “siswa”. Ibu si siswa memindahkan si siswa ke TK lain (PAUD) karena di TK-nya si siswa tidak diajari calistung (membaca, menulis dan berhitung).

Pada kesempatan berbeda, mahasiswa saya yang sudah mengajar di sebuah PAUD bercerita bahwa PAUD-nya sempat diprotes para ibu karena sekolahnya tidak mengajarkan calistung.

Penulis sendiri punya pengalaman. Anak kami yang kini duduk di kelas IV SD pernah bersikeras mengikuti lomba “try-out” ujian nasional yang diselenggaralan oleh sebuah lembaga bimbel (bimbingan belajar). Anak sekecil itu bersikeras mengikutinya karena terdorong oleh iming-iming hadiah uang dari penyelenggara sekaligus dorongan gurunya.

Tetapi hal yang mengejutkan adalah sikap sang guru. Kepada sang guru anak kami memang mengatakan bahwa kami tidak mengizinkannya ikut try-out. Kemudian gurunya menilai banyak orangtua sekarang tidak bersedia mendukung anak-anaknya.

Sebagai pendidik, ketiga peristiwa tersebut membuat penulis terus berpikir dan bertanya-tanya ada apa sebenarnya, apakah yang tengah terjadi di dunia pendidikan formal kita saat ini. Mengapa orang tua bahkan sekolah sibuk mendorong anak-anak belajar sesuatu yang seharusnya belum diajarkan?

Sekolah dan orangtua layak berbangga atas prestasi para siswanya. Namun, dunia pendidikan formal dan keluarga perlu berhati-hati dalam bersikap apalagi jika kegiatan belajar dan tuntutan belajar tersebut belum pas untuk anak. Prestasi yang didapat anak-anak bisa jadi hanya memberikan kebanggaan semu dan hal itu berbahaya bagi anak-anak.

Kebanggaan semu merupakan kebanggaan atas prestasi yang bukan pilihannya, melainkan pilihan orang lain, seringkali dengan menggunakan kekuasaan dan pengaruh atasnya sehingga tidak bisa ditolak.

Kebanggaan semu dapat menghilangkan martabat anak-anak sebagai manusia, mereka hanya dilihat sebagai obyek yang layak dikompetisikan. Kebanggaan semu dapat membuat anak-anak berada dalam krisis identitas dan kekosongan.

BACA JUGA:   Kader Muda Pengawas Pemilu Timba Ilmu di PWI

Buat anak-anak yang berhasil atau mampu menguasai yang diajarkan oleh gurunya, ia akan menganggap dirinya adalah segalanya. Sementara yang belum atau tidak mampu menjadi juara, merasa dirinya bodoh dan keberadaannya tidak diakui.

Saya pernah membaca suatu tulisan testimoni dari seorang laki-laki yang merasa terpuruk dan marah akan hidup yang dijalaninya. Sewaktu SD orangtuanya mendorongnya untuk menjadi siswa berperestasi, nilai sekolah harus tinggi, mendapat rangking minimal lima besar, dan dia mengikuti berbagai perlombaan. Dia berhasil, dan orang tua serta sekolahnya sangat bangga atas prestasinya. Namun dia sendiri merasa kebingungan dan terasing dengan prestasinya.

Kondisi ini membuatnya terpuruk. Seringkali ia berbohong mengikuti berbagai lomba, padahal hanya main game. Ia juga menjadi pecandu narkoba. Orangtuanya sangat marah mengetahui hal itu. Bukan hal mudah baginya untuk menemukan dirinya kembali.

Saya menduga banyak anak-anak yang mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami anak laki-laki tersebut. Mereka merasa terasing dengan dirinya sendiri karena kebanggaan-kebanggaan semu yang ditekankan oleh orang lain terhadap dirinya.

Model pendidikan yang terkonsentrasi hanya pada aspek kognisi apalagi dengan menggunakan metode pengajaran formal (satu arah), mengabaikan capaian kemampuan afeksi dan psikomotor. Padahal kegiatan pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan aspek kognitif tetapi juga afeksi dan psikomotor terutama di masa emas ini.

Kemampuan afeksi diperlukan untuk menumbuhkan rasa peka terhadap masalah sesama dan membangun sikap sebagai manusia dan subyek sosial. Kemampuan psikomotor bermanfaat bagi munculnya kemampuan praktis untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah hubungan antara peserta didik dan dunianya, baik terkait dengan orang atau situasi tertentu.

Lebih jauh lagi penekanan pada kognisi belaka akan menghambat perkembangan kecerdasan anak. Kemampuan siswa yang sebenarnya tidak dilihat, tidak diakui, dan lalai dikembangkan Padahal kecerdasan manusia itu bermacam-macam, tidak hanya soal kesadaran kognisi.

BACA JUGA:   Pembinaan Teritorial Cegah Paham Radikalisme

Howard Gardener, ahli pendidikan, mengatakan ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yakni kecerdasan linguistik, logik matematik, visual dan spasial, musik, interpersonal, kinestetik, dan alam (naturalis). Setiap orang memiliki kadar pengembangan yang berbeda-beda bergantung pada proses pembelajaran yang dialaminya.

Pontensi anak-anak menjadi tidak berkembang tentu bukan hal yang dimau oleh para guru dan orangtua. Dalam konteks yang lebih luas penekanan pada kognisi saja dapat menghambat tercapainya tujuan pendidikan.

Untuk memastikan pendidikan yang kita upayakan bagi anak berhasil. Anak-anak pintar secara kongisi, afeksi, psikomotor dan potensi kecerdasannya berkembang tentu memerlukan suatu upaya bersama. Kerjasama tidak hanya perihal penyediaan fasilitas untuk peningkatanĀ  prestasi anak namun juga dalam proses pembelajaran, dengan dialog dan konsultasi mengenai perkembangan anak dan strategi pembelajaran.

Kurikulum dan strategi pembelajaran di sekolah harus memberi ruang bagi anak untuk mengenali diri dan realitas disekitarnya. Dalam proses ini, anak didik di arahkan dengan tindakan, sebagai pelaku, sebagai subyek dengan motode-metode dialog dan tindakan-tindakan praxis yang akan memberikan pengalaman belajar bagi anak.

Dengan memberikan ruang pada siswa untuk terus menerus bergelut dalam pengalaman belajar, anak didik akan memperoleh kesadaran sebenarnya akan diri, realitas dunia di sekitarnya. Jika model pendidikan seperti ini diterapkan bahkan sejak anak duduk di PAUD, anak didik mampu mengembangkan ke-8 potensi kecerdasan yang dimilikinya lebih optimal. []

*) Pendiri Yayasan Wangsakerta Cirebon.

Komentar

News Feed