Berusia 114 Tahun, Stasiun Cirebon Tulang Punggung Transportasi Jawa

  • Bagikan
Berusia 114 Tahun, Stasiun Cirebon Tulang Punggung Transportasi Jawa
Berusia 114 tahun, Stasiun Cirebon tulang punggung transportasi Jawa. (Haris/Citrust.id)

 

Citrust.id – Stasiun Cirebon membuktikan diri sebagai salah satu simpul transportasi paling bersejarah sekaligus modern di Indonesia. Tepat pada 3 Juni 2026, stasiun yang menjadi ikon Kota Cirebon itu genap berusia 114 tahun sejak pertama kali beroperasi pada 3 Juni 1912.

Selama lebih dari satu abad, Stasiun Cirebon tidak hanya menjadi saksi perkembangan transportasi dan perekonomian di Pulau Jawa, tetapi juga terus bertransformasi menjadi pusat mobilitas masyarakat yang menghubungkan berbagai kota besar di Indonesia.

Di balik bangunan megah bergaya Art Deco yang masih berdiri kokoh hingga kini, Stasiun Cirebon menyimpan jejak sejarah panjang perkeretaapian nasional. Stasiun ini dibangun oleh perusahaan kereta api kolonial Belanda, Staatsspoorwegen (SS), dan dirancang oleh arsitek ternama Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Karakter bangunannya memadukan unsur budaya lokal Cirebon dengan sentuhan arsitektur Barat yang populer pada masanya.

Manager Humas KAI Daop 3 Cirebon, Muhibbuddin, mengatakan bahwa status Stasiun Cirebon sebagai bangunan cagar budaya menjadi alasan utama KAI untuk terus menjaga keaslian arsitekturnya di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi layanan.

“Stasiun Cirebon adalah salah satu mahakarya sejarah perkeretaapian Indonesia. Kami berkomitmen penuh menjaga kelestarian arsitektur aslinya. Namun di sisi lain, kami terus berinovasi untuk fasilitas dan layanan terus kami modernisasi demi kenyamanan pelanggan masa kini,” ujar Muhibbuddin.

Sejak awal berdiri, Stasiun Cirebon memegang peranan strategis dalam jaringan transportasi nasional. Stasiun ini menjadi penghubung jalur Cikampek-Cirebon sepanjang 137 kilometer sekaligus titik temu jalur selatan yang mengarah ke Purwokerto dan Kroya dengan jalur utara menuju Batavia atau Jakarta.

Jika pada masa lalu stasiun ini menjadi pusat distribusi hasil bumi dari berbagai wilayah, kini Stasiun Cirebon berkembang menjadi urat nadi konektivitas antarkota di Pulau Jawa yang melayani perjalanan menuju Jakarta, Bandung, Semarang, Purwokerto, hingga Yogyakarta.

BACA JUGA:  Antisipasi Covid-19, Delapan Perjalanan KA Argo Cheribon Dibatalkan

Peran strategis tersebut tercermin dari peningkatan jumlah pengguna jasa kereta api yang terus menunjukkan tren positif. Sepanjang periode 2023 hingga Mei 2026, Stasiun Cirebon tercatat telah melayani lebih dari 5,1 juta pelanggan.

Pada 2023, jumlah pelanggan mencapai 1.328.655 orang. Angka tersebut meningkat menjadi 1.489.590 pelanggan pada 2024 dan kembali naik menjadi 1.610.225 pelanggan sepanjang 2025. Sementara itu, sejak Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 729.104 orang.

“Tren pertumbuhan ini menjadi bukti nyata bahwa kereta api tetap menjadi pilihan utama masyarakat. Keberagaman budaya dan aktivitas sosial-ekonomi yang berdenyut di stasiun ini setiap harinya mempertegas posisinya sebagai pusat interaksi masyarakat,” kata Muhibbuddin.

Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-114, KAI Daop 3 Cirebon menggelar sejumlah kegiatan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dan komunitas pecinta kereta api. Acara tersebut dihadiri Komisaris KAI Wisata Yudhistira, Kepala Daerah Operasi 3 Cirebon Sigit Winarto, Komunitas Cirebon History, Komunitas Pecinta KA IRPS Cirebon, serta Edan Sepur Cirebon.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemotongan tumpeng dan kue ulang tahun sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan panjang Stasiun Cirebon dalam melayani masyarakat selama lebih dari satu abad. Pada kesempatan yang sama, KAI juga menyalurkan santunan kepada anak-anak yatim dari Pondok Pesantren Tarbiyyatul Athfal di Benda Kerep, Kecamatan Argasunya, Kota Cirebon.

Tidak hanya menghadirkan seremoni perayaan, KAI Daop 3 Cirebon juga menyelenggarakan edukasi mengenai sejarah Stasiun Cirebon, perkembangan perkeretaapian Indonesia, hingga pengenalan berbagai profesi yang ada di lingkungan perkeretaapian kepada masyarakat.

Memasuki usia ke-114 tahun, Stasiun Cirebon menunjukkan bahwa pelestarian nilai sejarah dapat berjalan beriringan dengan modernisasi layanan transportasi. Keberadaannya tidak hanya mendukung mobilitas masyarakat untuk kebutuhan bisnis dan pendidikan, tetapi juga menjadi penggerak sektor pariwisata yang terus berkembang di wilayah Cirebon dan sekitarnya.

BACA JUGA:  Noey Dhevment Luncurkan Single "Bukti Cinta"

“Di usia ke-114 tahun, Stasiun Cirebon akan terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Kami ingin stasiun ini tetap menjadi kebanggaan warga Cirebon, sebuah tempat di mana sejarah masa lalu dirawat, dan masa depan transportasi yang modern serta berkelanjutan diwujudkan,” tutup Muhibbuddin. (Haris)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *