oleh

Pemda Kota Cirebon Bentuk Tim Keamanan Siber

Citrust.id – Kota Cirebon daerah pertama di Jawa Barat yang menerapkan Computer Security Incident Response Team (CSIRT). Keamanan informasi siber menjadi unsur utama dan pondasi dalam menjaga keamanan dan keterhubungan seluruh sistem digital.

Wakil Wali Kota Cirebon, Dra. Hj. Eti Herawati, sangat mengapresiasi Kota Cirebon dijadikan pilot project penerapan CSIRT.

“Terima kasih karena Kota Cirebon menjadi pilot project penerapan CSIRT,” tutur Eti, saat menghadiri peluncuran CSIRT di lobi Gedung Setda, Kota Cirebon, Rabu (2/10).

Dijelaskan Eti, saat ini, keamanan informasi menjadi perhatian dan sangat dibutuhkan. Bahkan, keamanan informasi siber menjadi pondasi untuk menjaga keamanan dan keterhubungan seluruh sistem digital.

“Tingginya tingkat pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi saat ini berbanding lurus dengan resiko dan ancaman keamanannya. Bahaya insiden siber selalu mengancam. Jangan sampai informasi berharga disalahgunakan,” tandas Eti.

Tim yang diberi nama Cirebonkota-CSIRT itu akan memberikan pelayanan untuk menjaga keamanan serta keberlangsungan sistem keamanan publik. Cirebonkota-CSIRT juga bertanggung jawab untuk menerima, meninjau dan menanggapi laporan dan aktivitas insiden keamanan siber.

“Cyber security ini merupakan sebuah proses, bukan tujuan. Untuk itu, cyber security harus dilakukan secara terus menerus dan dijalankan oleh satu manajemen tim yang khusus dalam menangani security incident,” katanya.

Pada kesempatan itu, Eti juga berharap, tim Cirebonkota-CSIRT dapat melakukan layanan reaktif dan proaktif. Seperti peringatan dini, respons, dan recovery. Selain itu, menjaga kerentanan dari sebuah sistem.

“Cirebonkota-CSIRT juga harus mengambil peran sebagai pelaksana keamanan siber untuk pembangunan kekuatan siber di Kota Cirebon,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (DKIS) Kota Cirebon, Ma’ruf Nuryasa, AP, menjelaskan, serangan siber juga terjadi pada sistem digital milik Pemerintah Daerah (Pemda) Kota Cirebon. Hingga 26 Oktober 2021, terdapat 3.817 serangan malware, 180.321 denial of service, 1.271 serangan trojan, dan dua kali serangan web defacement. Semua telah ditangani Cirebonkota-CSIRT.

“Dibentuknya Cirebonkota-CSIRT itu membuktikan Kota Cirebon siap menghadapi serangan siber, serta melindungi keamanan informasi pemerintahan dengan baik. Layanan utama CSIRT merupakan layanan reaktif yang terdiri dari peringatan keamanan siber dan penanganan insiden siber,” jelas Ma’ruf.

Ada pula layanan tambahan meliputi penanganan kerawanan sistem elektronik dan pemulihan insiden. Dalam menjalankan perannya, Cirebonkota-CSIRT juga berkolaborasi dengan Cirebon Siaga 112. Utamanya dalam menerima laporan insiden yang terjadi pada sistem elektronik yang terdapat pada Pemda Kota Cirebon.

“Selain itu,layanan proaktif lainnya berupa pemberitahuan hasil pengamatan terkait ancaman yang dapat muncul akibat perkembangan teknologi, politik, ekonomi dan pendeteksi serangan. Ada pula layanan peningkatan kesiapsiagaan penanganan siber yang meliputi analisis resiko, dan pembangunan kesadaran dan kepedulian terhadap keamanan siber,” jelas Ma’ruf.

Sementara itu, Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pemerintahan Daerah, Badan Siber dan Sandi Negara Republik Indonesia (BSSN RI), Hasto Prastowo, menjelaskan, perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat juga menciptakan ketergantungan. Ancaman infrastruktur siber juga semakin gencar sehingga perlu menjadi perhatian bersama.

“Saat ini, negara hadir untuk menghadapi ancaman keamanan siber. BSSN juga telah membentuk ekosistem keamanan dengan membantu sistem riset di seluruh pemerintah kota, pemerintahan di daerah dan sektor masyarakat. Kami berupaya untuk menyatukan langkah saat terjadi serangan siber yang masif. Kami akan selesaikan bersama,” tandas Hasto. (Haris)

Komentar

News Feed