oleh

Pasar Tradisional vs Mall

Oleh: Dede Aif Musoffa *)

Pembangunan secara paripurna kabupaten Majalengka sesungguhnya harus terlahir dari keinginan kuat bersama seluruh elemen dengan tujuan akhir kesejahteraan rakyat majalengka. Pelaksanaan otonomi daerah yang selama ini telah berjalan tentunya disisi lain memberikan dampak positif yang sangat luar biasa berkenaan dengan kemandirian daerah dalam upaya peningkatan kapasitas daerah itu sendiri, tentu dalam berbagai segi kehidupan. Pun demikin tentunya banyak hal juga yang harus dibenahi, terutama berkaitan dengan terciptanya tata kelola pemerintahan yang baik dan tata pemerintahan yang bersih.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, sebagai “media persaingan” yang memiliki implikasi pada “suksesi pemenangan” kaum bermodal besar yang disinyalir akan memberangus para pelaku ekonomi kecil. Disini rupanya diperlukan system yang bisa memproteksi keberlangungan hidup para pelaku ekonomi kecil, terutama dalam konteks kabupaten majalengka. Sehingga pembangunanisme ala majalengka dalam konteks kekinian sesungguhnya harus berbasis pada kepentingan besar yakni kesejahteraan rakyat majalengka itu sendiri.

Seperti diketahui bersama, telah berlangsungnya MoU antara Pihak pemerintah Kab. Majalengka (eksekutif) dengan pihak grage group dalam rangka pembangunan fasilitas Mall dan Hotel dikabupaten Majalengka, tepatnya di kawasan eks pasar lawas majalengka dipastikan akan memberikan dampak yang sangat luar biasa berkaitan dengan proses berekonomi masyarakat majalengka. Pertanyaannya adalah apakah akan berefek positif atau negative terhadap keberlangsungan hidup pelaku ekonomi kecil?

Ada beberapa hal yang harus di perhatikan secara seksama oleh seluruh pihak berkaitan dengan rencana pembangunan mall dan hotel grage group tersebut, yakni:

1. Jarak yang sangat dekat antara rencana lokasi pembangunan dengan pasar tradisional dipastikan akan berdampak negative terhadap keberlangsungan hidup pelaku usaha kecil yang berada di kawasan pasar tradisional dimaksud.

BACA JUGA:   Kotaku: Reorientasi Pembangunan Kota Cirebon

2. Salah satu prioritas pembangunan kabupaten majalengka 2015 adalah peningkatan daya beli masyarakat serta penanggulangan kemiskinan. Yang harus difahami adalah mendorong masyarakat yang secara ekonomi memiliki kekurangan sehingga memiliki kemampuan untuk melakukan transaksi ekonomi, dan harus didorong melalui upaya  penguatan kegiatan ekonominya, sangat diperlukan penguatan kapasitas dan kualitas berekonomi bagi pelaku ekonomi kecil. Pada akhirnya mampu berdaya saing sekligus berdaya guna dalam meningkatkan kapasitas hidupnya.

3. Selain pertanian, Keberadaan Usaha Kecil Menengah dalam berbagai sector di majalengka, sesungguhnya harus difahami sebagai basis material kehidupan berekonomi masyarakat majalengka. Sehingga kewajiban pemerintahlah untuk melakuka penguatan seluruh UKM yang ada.

Maka semestinya pemda kabupaten majalengka dalam hal ini pihak eksekutif harus dengan segera:

1. Mengkaji ulang atas rencana pelaksanaan MoU pembangunan mall dan hotel grage group di kawasan eks pasar lawas majalengka.

2. Harus dengan segera melakukan proteksi secara sistemik terhadap keberlangsungan hidup pasar tradisional

3. Alih fungsi lahan eks pasar lawas tersebut lebih baik dipergunakan untuk tumbuh kembangnya Usaha Kecil Menengah yang ada di kabupaten majalengka, bahkan lebih baik dijadikan sebagai KAWASAN EKONOMI PRODUKTIF yang nota bene berkaitan dengan peningkatatan taraf hidup pelaku ekonomi kecil.

Apabila pihak eksekutif terus memaksakan kehendaknya untuk melaksanakan MoU dimaksud, maka saya dengan tegas menyatakan MENOLAK PROSES PEMBANGUNAN MALL DAN HOTEL  GRAGE GROUP DI KAWASAN EKS PASAR LAWAS MAJALENGKA.

*) Anggota DPRD Kabupaten Majalengka Fraksi PPP

Komentar

News Feed