oleh

Kunker KKP dan Komisi IV DPR RI ke Kejawanan Bahas Potensi Laut dan Nasib Nelayan

Citrust.id – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan anggota Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke PPN Kejawanan Kota Cirebon, Senin (10/8) pagi.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Walikota Cirebon, Dra Hj Eti Herawati turut hadir, serta menyampaikan kondisi kelautan yang ada di wilayah Kota Cirebon.

“Kegiatan wisata mangrovenya harus didorong. Karena Kota Cirebon masuk salah satu daerah yang ditargetkan wisata bahari. Tidak hanya butuh kebijakan Pemkot Cirebon tapi Provinsi Jawa Barat dan pusat juga dibutuhkan,” ujarnya.

Eti juga mengakui, pantai Kota Cirebon hanya 7 km. Ada mangrove di dua titik, yakni di Kejawanan dan kesunean. “Mudah-mudahan potensi ini bisa dijadikan program unggulan. Karena sangat strategis untuk pengembangan pelayanan perikanan dan wisata,” kata Eti.

Sementara, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga KKP, Ir Muhammad Zaini MM mengatakan, pengembangan perlu memadukan semua stakeholder dan regulasi pelayanan.

“Perbaiki regulasi yang ada. Berkaitan dengan perizinan. Selama 5 tahun ini, hancur lebur. Pelayanan perizinan bisa sebulan hingga 2 bulan. Sekarang, kita buat sedemikian rupa dan bisa satu jam jika lengkap,” kata dia.

Sedangkan Anggota Komisi IV DPR RI, H Dedi Mulyadi SH mengatakan, kalau ingin menata laut, harus dimulai dari sungai. Harus ada regulasi untuk menata laut. Termasuk landscape laut harus ada.

“Kalau ada branding, multiplier efeknya akan ada. Baik ekonomi maupun wisata. Seluruh garis pantai tdk boleh ada bangunan kumuh,” ujarnya.

Mantan bupati Purwakarta itu juga mengatakan, kecepatan perizinan harus diimbangi dengan perlindungan untuk nelayan kecil agar yang besar tidak menguasai.

“Kalau nelayan lokal daya jelajahnya jauh dan alatnya memadai, bisa kompetitif. Sehingga bisa berhadapan dengan nelayan dunia yang memiliki ABK dan mesin yang baik,” ungkapnya.

BACA JUGA:   Graduasi KPM PKH 2020 Bisa Meleset karena Pandemi Covid-19

Selain itu, sumber daya manusia juga dinilai penting, lanjut Dedi, terutama asuransi hari tua dan jaminan kehidupan. “Kebanyakan, berhenti jadi nelayan, maka kolaps menjalani kehidupan,” kata dia. (Aming)

Komentar

News Feed