oleh

Kisah Seuntai Rambut

Oleh Dadang Kusnandar

MENYUSUR Jalan Karanggetas Kota Cirebon menyusur kembali riwayat seuntai rambut yang dipotong. Bukan alang kepalang, rambut gondrong milik pemuda perkasa itu dipotong oleh sebilah arit (clurit) oleh lelaki berawak normal namun wajahnya memancarkan cahaya.

Cirebon akhir abad ke-15 Masehi adalah Cirebon yang masih ditumbuhi ilalang, jalanan yang lapang dan kisah leluhur yang sakti.

Lelaki berperawakan normal itu tengah asik memangkas rumput bagi ternaknya. Ia tampak serius bekerja karena yakin ternak akan terus hidup dan berkembang biak apabila dirawat.

Tapi ia juga memangkas rumput bagi perluasan dukuh yang bernama Caruban. Tanpa upaya menggunduli rerumputan atau belukar liar, jangan harap akan muncul perdikan yang mengundang kehidupan manusia.

Perluasan dukuh Caruban itu menjadi penting dengan reasoning pertama, pengembangan ajaran agama Islam di wilayah Utara Jawa bagian Barat.

Lelaki itu lamat-lamat mendengar suara ~saat ini mirip isu~ bahwa ada seorang lelaki perkasa dari negeri jauh, nun di seberang lautan sana, dengan rambut gondrongnya yang dibiarkan menjuntai.

Tak seorang pun mampu memangkas rambut lelaki perkasa itu, konon ia sangat sakti. Ia kadang menggelung/menggulung rambut gondrongnya dan dililitkan di atas batok kepala. Ya, seperti kisah lain.

Lelaki perkasa yang berasal dari negeri Syams (Syiria, Timur Tengah), sahibul hikayat sangat ingin memangkas rambut gondrongnya.

Syarif Syam, nama lelaki itu, berkelana singgah dari satu negeri ke negeri lain dengan harapan bertemu dengan orang hebat yang mampu memangkas rambutnya.

Entah kenapa ia risih dengan rambutnya yang menjuntai dan digelung. Seperti halnya kisah lain di negeri lain, atau dalam pewayangan, Syarif Syam bersumpah.

“Jika ada yang mampu memotong rambutku dan ia seorang perempuan maka akan kujadikan istri. Dan jika lelaki maka akan kuangkat sebagai saudara!”.

BACA JUGA:   Ini Penjelasan Anak Bupati Majalengka Terkait Berita Penembakan

Sumpahnya disambut gelegar langit. Hiruk pikuk jadi lengang, dan ia memandang langit yang seketika gulita.

Namun sejauh perjalanan itu tak juga dijumpai seseorang yang didambakan. “Duh, Gusti Allah…. harus ke mana lagikah langkah kaki ini kuseret sampai berjumpa dengan kedambaanku?”, ujar dia dalam gulana.

Namun siapa nyana, lelaki yang berhasil memotong rambut gondrongnya ternyata Sinuhun Syekh Syarif Hidayatullah.

Syarif Syam tidak ingkar janji, dia berharap menjadi saudara di samping memenuhi sumpahnya untuk menjadikan kedambaannya sebagai saudara. Lantas Syarif Syam, lelaki perkasa itu pun menjadi murid Syekh Syarif Hidayatullah.

Lokasi pemotongan rambut Syarif Syam dinamakan Karanggetas, artinya sebudah pekarangan yang getas (mampu memotong).
Syarif Syam yang dikenal sebagai Syekh Magelung Sakti usai menimba ajaran Islam dari Syekh Syarif Hidayatullah, ditempatkan di Karangkendal.

Julukannya pun ialah Pangeran Karangkendal. Islamisasi yang berhasil dilakukan Syekh Magelung melebar hingga Kertasmaya Indramayu.

ABAD pun berlari, muncul kepercayaan (mistifikasi) yang untuk sekian lama terekam dalam memori wong cerbon. Kabarnya, jika seorang penguasa lalim lewat di Jalan Karanggetas maka bersiaplah ia untuk turun dari singgasana kekuasaannya.

Tak jelas kenapa mantan Presiden Soeharto dan rombongan tidak berani lewat di jalan itu, padahal ia sangat berkuasa pada masanya.

Abad yang berlari, ajaran agama Islam yang terus dikembangkan pun sepertinya menyisakan mistifikasi kisah seuntai rambut gondrong yang dipotong di Jalan Karanggetas.

Sebaiknyalah kita mampu membedakan antara kisah dengan sistem kepercayaan yang berangkat dari tauhid.

Justru menjadi hablur serta sinkretis manakala agama Islam yang telah dianut ratusan tahun di Cirebon tetap menyisipkan kisah suntai rambut gondrong itu sebagai kepercayaan yang menyatu dengan tauhid rububiyah.

BACA JUGA:   Pemkot Benahi Tata Kelola Keuangan untuk Cegah ASN Langgar Hukum

Kisah seuntai rambut di Jalan Karanggetas sebaiknya kita pahami sebagaimana kisah lisan yang disampaikan dengan derajat sastra lisan yang diwariskan. Bukan untuk diyakini.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed