oleh

Ironi Pajero Untuk Pak Wali

Abdul Jalil Hermawan*

Sebuah fragmen menarik pernah diperlihatkan TV Foxnews ketika mewawancarai mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. TV Foxnews (AS) menanyakan pada Presiden Iran Ahmedinajad; “Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?” Jawabnya: “Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:”Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggungjawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran” .

Fragmen yang mengagetkan bangsa Amerika itu, memiliki pesan yang sangat jelas. Secara implisit Ahmadinejad ingin mengatakan bahwa sebagai pemimpin tidak lebih pelayan. Bukan dilayani. Tetapi pemimpin sebagai pelayan masyarakat merupakan utopis belaka di negeri kita. Pun demikian di Kota Cirebon ini.

Dalam dua pekan ini berita di media lokal Cirebon, dijejali perihal rencana pembelian kendaraan dinas baru untuk Walikota dan sejumlah pejabat. Rencana ini jelas merupakan sebuah  ironi yang diperlihatkan secara eksplisit. Kenapa menjadi ironi? Karena di tengah himpitan ekonomi yang kian membelit warga Kota Cirebon, pemimpinnya kembali akan mendapatkan fasilitas mewah. Disebut mewah karena dari data Badan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Cirebon, dari jumlah penduduk Kota Cirebon yang mencapai 300 ribu lebih, sekitar 66 ribu diantaranya masuk kategori sangat miskin. Kategori sangat miskin ini dimaknai sebagai, kalangan masyarakat yang masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Baik pangan, sandang maupun papan.

Golongan ini tidak pernah bermimpi akan memiliki kendaraan mewah. Karena untuk bisa memiliki sepeda motor dan dibeli secara kreditan pun mereka harus berusah payah untuk membagi pendapatannya dengan kebutuhan primer lainnya. Apalagi untuk bisa menaiki Pajero sport terbaru dengan kisaran harga di atas 400 juta.

Jumlah lebih mencengangkan dirilis dinas kesehatan Kota Cirebon. Karena menurut data dinas kesehatan, hamper 50 persen warga Kota Cirebon masih dalam kategori miskin. Jumlah ini dihitung dari penerima Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang mencapai 150 ribu warga.

Rasa keadilan yang terkoyak ini, seharusnya menjadi perhatian para pejabat di Pemkot Cirebon. Jika dilihat dari fungsi pun, rencana pembelian Pajero Sport untuk walikota tersebut tentu tidak terlalu tepat. Pasalnya, selama ini Walikota masih memiliki kendaraan operasional dengan jenis Ford Escape yang masih sangat layak dipergunakan.

BACA JUGA:   Kotaku: Reorientasi Pembangunan Kota Cirebon

Belum lagi, secara geografis jalanan di Kota Cirebon tidak memerlukan kendaraan dengan penggerak roda 4×4. Hampir seluruh ruas jalanan di Kota Cirebon telah beraspal. Walaupun di daerah Argasunya masih ada jalan berbatu, tetapi tidak menjadi pembenar untuk melakukan pembelian Pajero Sport jenis Dakkar ini. Karena toh Walikota tidak tiap hari juga berkunjung ke Argasunya.

Pola pikir yang menganggap bahwa pemimpin harus dilayani merupakan patalogis yang sangat berbahaya. Patalogi kepemimpinan seperti ini diperparah dengan para pejabat yang dalam konteks Kota Cirebon malah menjadi pelayan Walikota.  Percayalah, tidak akan runtuh kewibawaan walikota walau hanya memiliki kendaraan operasional yang murah. Justru yang akan meruntuhkan kewibawaan dari seorang pemimpin adalah menggunakan mobil mewah tetapi rakyatnya banyak yang masih susah untuk makan, sekolah dan tanpa memiliki papan. Naik angkot sekalipun Walikota tidak akan jatuh nista di mata masyarakat. Selama memang naik angkotnya walikota menolak keberadaan mobil operasional Pajero Sport itu.

Hal in telah dibuktikan oleh perdana mentri Inggris David Cameron yang memerintahkan para menteri untuk naik kereta umum atau yang biasa di sebut the Tube demi memotong pengeluaran belanja pemerintah yang membengkak.

Dampak dari kebijakan itu Cameron menjadi populer di mata rakyat Inggris. Para menteri yang selama ini mendapat mobil dinas lengkap dengan sopirnya pun tidak keberatan naik kereta umum dan ‘berdesak-desakan’ dengan masyarakat. Pemandangan tak biasa pun terjadi, rakyat Inggris yang awalnya tak pernah bertemu dengan pemimpinnya dan para pembantunya pun menjadi heboh karena berada dalam satu gerbong dengan perdana menterinya.

Jika masih kurang, saya kembali memberikan contoh nyata dari pemimpin sederhana. Mark Rutte, Perdana Menteri Belanda yang setiap hari ke kantornya tidak pernah memakai kendaraan dinas. Kendaraan dinasnya dihibahkan untuk sebuah panti asuhan. Setiap harinya Mark Rutte mengayuh sepedanya untuk tiba di kantor.

Masih ada lagi, dari Amerika Latin Jose Mujica, Presiden Uruguay  yang setiap harinya hanya memiliki kendaraan operasional Volkswagen Beetle tahun 1987.   

Dalam kasus ini, dibutuhkan pemimpin yang bukan hanya peka, tetapi juga bisa menjadi suri tauladan. Suri tauladan yang tidak utopis tetapi suri tauladan yang memang membumi. Alasan pembelian kendaraan mewah ini biasanya sangat klise. Pemimpin butuh kenyamanan agar siap mengerjakan tugas tugasnya. Kenapa alasan ini dianggap klise? Karena jenis jawaban ini jenis jawaban yang biasa disebut dengan exuse answer.

Exuse answer ini merupakan jawaban dengan alasan alasan hanya untuk menjadi pembenar dari sebuah kebijakan pemerintah. Jawaban jawaban jenis ini kerap muncul dari pemerintah yang akan mengeluarkan kebijakan yang tak populis.

BACA JUGA:   Kotaku: Reorientasi Pembangunan Kota Cirebon

Secara ideal, gambaran pemimpin terkonsep dalam dialog antara Socrates dengan Thrasymarcus dalam buku fenomenalnya Republic tentang pemimpin yang baik.

“Orang-orang baik tidak akan mau memerintah demi uang atau kehormatan. Karena mereka tidak ingin secara terbuka menentukan upah untuk memerintah demi uang atau kehormatan. Karena mereka tidak ingin secara terbuka menentukan upah untuk memerintah dan disebut bekerja demi uang, juga tidak ingin secara rahasia memetik manfaat saat memerintah dan disebut sebagai para pencuri. Demikian pula, mereka tidak ingin memerintah demi kehormatan karena mereka bukanlah pecinta kehormatan”

Di akhir tulisan ini saya ingin menukil sebuah kisah tentang Amirul mukminin Umar Bin Khattab.

Suatu hari, Umar Bin Khattab melakukan perjalanan dinas mengunjungi satu provinsi yang berada di bawah kekuasaannya. Gubernur menjamu Umar makan malam dengan jamuan yang istimewa, sebagaimana lazimnya perjamuan untuk kepala negara. Begitu duduk di depan meja hidangan, Umar kemudian bertanya kepada sang gubernur, “Apakah hidangan ini adalah makanan yang biasa dinikmati oleh seluruh rakyatmu?”

Dengan gugup, sang gubernur menjawab, “Tentu tidak, wahai Amirul Mukmini. Ini adalah hidangan istimewa untuk menghormati baginda.” Umar lantas berdiri dan bersuara keras, “Demi Allah, saya ingin menjadi orang terakhir yang menikmatinya. Setelah seluruh rakyat dapat menikmati hidangan seperti ini, baru saya akan memakannya.”

Begitu pula dengan walikota Cirebon, mudah-mudahan bisa berkata, “”Demi Allah, saya ingin menjadi orang terakhir yang menikmati empuknya Pajero Sport. Setelah seluruh rakyat dapat menikmati kendaraan mewah ini, baru saya akan menggunakannya.” Semoga.

*) Staf pengajar FISIP Unswagati dan Pegiat Proxy Institute

Komentar

News Feed