oleh

Batu Andersit Lebih Diminati untuk Mempercantik Rumah Hunian

CIREBON (CT) – Batu alam jenis andersit bakar yang di produksi ratusan pabrik batu alam di Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon, ternyata paling banyak diminati konsumen untuk menghias berbagai sudut rumah.

Batu andersit bisa menciptakan kesan natural dan alami pada rumah hunian. Penerapan batu alam sebagai hiasan eksterior sangat populer saat ini karena dapat memberikan kesan kokoh dan kuat dalam rumah hunian.

Hal itulah yang menjadi alasan para pengusaha batu alam yang ada di Kecamatan Dukupuntang lebih memilih memproduksi batu andersit. Ketimbang memproduksi batu Gunung Kuda maupun batu Palimanan yang lokasinya ada di Kabuapten Cirebon.

Tak heran, bila tiap kali dijumpai di setiap pelosok jalan protokol di berbagai kota besar di Indonesia. Batu andersit bakar dan andersit polos paling banyak di pajang ketimbang batu kuning, disetiap pangkalan batu alam yang dipadukan dengan menjual berbagai tanaman hias.

Salah satu pengusaha batu alam di Desa Cangkoak Kecamatan Dukupuntang, Rustandi (47) mengatakan, permintaan batu andersit bakar cukup tinggi ketimbang batu kuning dari gunung kuda maupun palimanan.

Pesanan batu andersit yang paling sering dari daerah Bandung, Jakarta, Bali, Lombok, NTT, Surabaya, Sulawesi, Kalimantan, Batam, Jambi dan Lampung. “Batu andersit bakar coraknya bagus. Dan bila dipasang di dinding dalam, maupun luar rumah akan muncul nilai mewah,” katanya, Jumat (17/10).

Menurutnya, sejumlah home industri pembuat batu alam yang ada di wilayahnya lebih suka memproduksi batu andersit dari Subang dan Majalengka. Sedangkan untuk batu Palimanan dan batu Gunung Kuda hanya sebagian kecil.“Banyak batu andersit yang di ekspor keluar negeri seperti Timur Tengah dan Italia,” katanya.

Senada pengusaha batu alam lainya, Aladi (42) warga Desa Balad Kecamatan Dukupuntang menyatakan permintaan dari pengusaha perhotelan dan pedagang batu alam di daerah Bali dan NTT cukup tinggi. “Dalam satu minggu sekarang bisa 3-4 kali kirim ke Bali dan NTT, kalau dulu paling banter satu minggu 1 truk dengan isi per truknya 220 meter2,” kata Aladi. (CT-115)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed