oleh

Topi Alwy

Oleh Heru Hikayat*

AKU ingat topinya. Topi bulu, seperti topi yang biasa dipergunakan orang di daerah beriklim dingin. Seperti topi bulu khas Davy Crockett, pahlawan Amerika yang gugur di Palagan Alamo. Hari ini, banyak orang mengenang almarhum dengan mengunggah potretnya mengenakan topi bulu itu. Sepertinya aku tidak sendiri. Kawan-kawan lain juga mengenang almarhum dengan topi bulu itu.

Ahmad Syubbanuddin Alwy, sekali waktu menceritakan dengan bangga, bagaimana ia mendapatkan topi bulu itu. Tahun 2008, saat ia mengikuti satu pertemuan sastra, dan diinapkan di sebuah hotel di Lembang. Ia bersama kawan-kawannya lalu melancong ke kawah Tangkuban Parahu. Di sanalah ia bertemu dengan penjual topi bulu. Kemudian ia membelinya.
Hari itu, saat bertemu dengannya, aku lihat dia tidak sendiri mengenakan topi bulu. Sejumlah kawan lain mengenakannya juga. Tapi Alwy-lah yang paling bersemangat mengenakannya, paling bersemangat bercerita tentangnya. Baginya, laku membeli topi bulu itu bermakna. Cerita mengenainya harus disiarkan.

Sepertinya memang begitu, di mata Alwy, segala sesuatu menjadi seru, dan jenaka. Ia bercerita tentang honor membaca puisi, topi bulu, celana dalam, kebudayaan, politik, dan entah apa lagi, sama serunya, dan selalu jenaka.

Pagi ini, ketika mendengar kabar ia telah pergi, suara tertawanya tiba-tiba terngiang di telinga. Tiap bertemu dengannya selalu penuh cerita seru dan tawa yang membahana.

Kini, hidupnya telah selesai. Bung Alwy, tertawalah terus di sana. Kelak, andai kita bisa bertemu lagi, tolong ceritakan kembali tentang betapa pentingnya topi bulu itu.[]

(Cigadung, 3 November 2015)

*Kurator seni rupa, tinggal di Bandung.

BACA JUGA:   Pemkot Cirebon Akhirnya Perpanjang Masa Belajar di Rumah untuk Pelajar

Komentar

News Feed