oleh

Tetangga Saya (3)

Oleh DADANG KUSNANDAR*

TETANGGA saya masih muda usia. Belum 50 tahun usianya. Rumahnya tidak terawat. Rusak di beberapa bagian. Berkali diperbaiki namun tetap saja buruk rupa kondisi rumahnya.

Kedua orang tuanya telah meninggal dunia puluhan tahun lalu. Adik dan kakaknya meninggalkan “rumah pusaka” itu sejak lama. Ada yang mukim di Kuningan, Ciledug, dan Roterdam Belanda.

Tetangga saya itulah yang menempati rumah pusaka di Kecamatan Kesambi. Ia tidak punya pekerjaan tetap. Bekerja serabutan dilakoni demi menyambung hidup. Salah satu caranya, ia mengontrakkan dua buah kamar di rumah pusaka itu.

Sebagian tetangga ada yang tidak suka atas kebiasaan buruknya. Konon sejak usia belasan ia suka mabuk dan judi. Kedua tabiat itu dilakukannya di rumah pusaka hingga mengundang orang dari luar kampungnya.

Akan tetapi sekira 5 (lima) tahun terakhir ia sering shalat berjamaah di mesjid. Mengenakan sarung dan kopiah. Pun tersiar kabar, di rumah pusaka itu sudah tidak ada mabuk dan judi lagi terhitung 2 (dua) tahun ke belakang. Pihak kepolisian menggerebek kediamannya dan menangkap beberapa orang pelaku.

Sebab lain hilangnya mabuk dan judi di rumah pusaka, ada satu keluarga pengontrak berstatus muadzin. Agaknya sang muadzin itulah yang diam-diam menggiringnya ke mesjid.

AKHIR Desember 2017 tetangga saya itu dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Kehidupan. Berita pun tersiar lewat toa mesjid. Ibu-ibu pengajian takziah ke rumah pusaka sambil membawa segantang beras. Bapak-bapak sekampung almarhum pun datang mengurus, termasuk Ketua DKM setempat.

Shalat mayat pun dilakukan di mesjid kampung. Namun imam shalat mayat yang juga mengimami shalat Dhuhur berjamaah sebelumnya ~memimpin shalat dengan tergesa-gesa. Hanya hitungan 4 (empat) menit shalat Dhuhur dan shalat mayat berjamaah ketika itu.
Mendapati kenyataan itu, seseorang maju ke depan. Mengimami/ mengulang shalat mayat.

BACA JUGA:   Polsek Kasokandel Dukung Program Lapangan Pasis TNI AD

Ketua DKM kecewa atas sikap imam shalat pertama. Mukanya merah padam. Tapi ia tidak berani menegur lantaran si imam pertama itu lebih tua usianya. Mengharukan. []

*Kolomnis, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed