oleh

Sejarah Pemkot Cirebon Periode II – Sandyakalaning Nusantara (1) – Kekuasaan Empat Kerajaan Eropa

-dok istimewa

KEDATANGAN bangsa Portugis di Nusantara, sebagai pertanda surutnya kewibawaan kerajaan-kerajaan di Nusantara.*

Oleh: Nurdin M Noer*
SANDYAKALANING Nusantara ditandai oleh kehadiran bangsa Portugis di Malaka pada tahun 1509, begitu catatan awal dari A.H.Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia (1977). Kedatangan bangsa Portugis inilah yang menyebabkan runtuhnya Kesultanan Melayu yang besar itu. Pada tahun 1511 orang-orang Portugis mengalahkan ibukota Malaka, sehingga pusat pemerintahan pindah ke Muar, kemudian ke Pahang, ke Riau dan akhirnya ke Kampar. Sesudah Portugis , muncul pula orang-orang Spanyol, Belanda, dan Inggris yang saling berebut hendak kepulauan ini. Kesultanan Melayu pecah, bahkan Sultan Aceh menyerbu ke Johor dan menaklukkannya.

Sejak saat itu, kata Pak Nas, panggilan Jenderal A.H.Nasution, secara berangsur-angsur Indonesia terpecah-belah menjadi berpuluh-puluh, bahkan akhirnya beratus-ratus kesultanan.
Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda membawa peperangan-peperangannya yang di Eropa ke Indonesia dan membawa sultan-sultan turut serta sebagai sekutu-sekutunya dalam peperangan-peperangan tersebut. Dalam pada itu mereka menunjang “gubernur-gubernur” daerah untuk melepaskan diri dari kekuasaan kesultanan, sehingga kerajaan-kerajaan Islam itu semakin kecil pula, untuk akhirnya tergenggam sama sekali oleh pengaruhnya. Untuk ini, mereka mencampuri pula urusan-urusan keraton. Pangeran dan Sultan diadu domba untuk saling sikut-menyikut memperebutkan “kursi” (tahta).

Perang saudara antara daerah dan daerah meningkat pula menjadi perang saudara antara pangeran dan pangeran dalam satu keluarga. Tindakan-tindakan politik yang dilakukan bersama-sama dengan tindakan-tindakan militer dan ekonomi secara berangsur-angsur melumpuhkan kerajaan-kerajaan Indonesia untuk kemudian menerus hingga hanya mencapai derajat kuli dan pegawai belaka.

Dan Malay Archipelago atau Indonesia, yang didiami oleh satu bangsa yang satu darah atau turunan, satu kebudayaan dan satu bahasa itu, jatuhlah ke dalam kekuasaan empat kerajaan asing yakni Portugis (Timor), Spanyol (Filipina), Inggris (Malaka,Brunei, Serawak) dan Belanda (Jawa, Sumatera, Kalimantan,Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian). Mereka main tukar-menukar daerah begitu saja, seperti menukar barang dagangan. Pada tahun 1824 diadakan perjanjian antara Inggris dan Belanda. Inggris menyerahkan haknya atas Bengkulu dan Belitung kepada Belanda. Mereka akan bekerja sama dalam memerangi “bajak laut” Melayu dan Bugis. Sementara itu Sultan Riau menyerahkan Singapura kepada Inggris. Inggris dan Belanda secara bersama melikuidasikan Kesultanan Riau, bekas atau penerus Kesultanan Melayu. Inggris memisahkan Johor dan Muar dari kekuasaan Sultan Riau dan mengadakan di sini kesultanan baru dengan sultan keturunan daeng-daeng Bugis dari Sulawesi. Juga bendahara Pahang yang tetap setia kepada Sultan di Riau, disingkirkan oleh pemberontakan yang dinyalakan oleh Inggris, sehingga berdiri kesultanan baru denagn sultannya juga keturunan Bugis. Daerah–daerah di Semenanjung di caplok oleh Inggris dan didirikannya di situ kesultanan-kesultanan baru. Sementara itu Belanda mencaplok Bintan, Lingga, dan lain-lain daerah dan akhirnya menghapuskan kesultanan sama sekali pada tahun 1913. (bersambung)***

BACA JUGA:   Jembatan Ciherang Ambruk, Kerugian Capai Rp600 Juta

*Pemerhati kebudayaan lokal

Komentar

News Feed