oleh

Pilkada Bukan Pilmedsos

Oleh DADANG KUSNANDAR

EMPAT bulan bukan waktu lama. Terlebih bagi pegiat politik. Sepertinya hitungan waktu demikian cepat. Detik per detik dihajatkan bagi politik.

Agaknya pembaca ingat kesibukan para elit negeri menjelang HM Soeharto lengser. Waktu dihitung begitu detil karena perubahan terasa mencekam.

Tahun 2018 dan 2019 yang kerap disebut tahun politik tampaknya waktu tidak bergerak dinamis.

Bayangkan empat bulan menuju 27 Juni 2018 sosialisasi bakal calon kepala daerah HANYA riuh gempita di media sosial. Sebagai ilustrasi, tetangga saya ketika belanja ke pasar Jagasatru tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang yang tidak dikenal. Ia berkata, “Bu, jangan lupa pilih Bapak Anu tanggal 27 Juni”.

Tetangga saya heran dan balik bertanya, “Ada apa tanggal 27 Juni? Kenapa saya disuruh pilih Bapak Anu? Kenal pun tidak!”. Si penganjur hanya menjawab, “27 Juni 2018 itu tanggal pemilihan kepala daerah”. Dan ia pun berlalu.

Empat bulan menuju 27 Juni 2018 bukan waktu lama. Bagi pegiat politik mestinya empat bulan ibarat sepeminuman kopi. Harus ada dinamisasi dan managemen waktu sehingga perhelatan politik diketahui warga.

Memang belum ada survey yang mengupas seberapa tahu warga masyarakat tentang pilkada. Nama-nama calon kepala daerah yang telah ditetapkan KPU pada 13 Februari 2018 yang lalu terbukti HANYA riuh gempita di media sosial. Padahal pilkada bukan pilmedsos.

Jika pilkada semata-mata ramai di media sosial jangan kecewa jika hasil perolehan suara tidak signifikan dengan prediksi. Meski pun pengguna medsos merabah segala usia akan tetapi kaum muda tidak banyak yang peduli tentang perkembangan politik. Sementara ibu-ibu lebih asik menyimak gosip artis dan selebriti.

Pilkada yang hanya riuh gempita di media sosial hanya mencipta saling curiga dan kebencian lantaran satu dengan lain mengedepankan ego dalam rangka membela calon masing-masing. Padahal sang calon kepala daerah yang viral dalam medsos sama sekali tidak ambil pusing dengan kritik dan atau hujatan. Karena bagi mereka yang terpenting adalah memenangkan pertaruhan/ perolehan suara di TPS bukan di media sosial. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed