oleh

Petahana atau Pendatang Baru

Oleh DADANG KUSNANDAR*

PILIH mana, petahana atau pendatang baru? Pertanyaan itu sesekali diajukan dalam obrolan ringan di warung rokok. Ada yang menjawab petahana, ada yang menjawab new comers. Namun lebih banyak yang menjawab, “Belum ada pilihan. Last minute saja. Menunggu keretege ati di TPS”.

Untuk kategori kesatu dan kedua tidak masalah. Mereka sudah punya pilihan. Meski bisa saja pada Hari H pilihan itu berubah. Namun apa pun alasannya, mereka sudah punya gambaran tentang kepala daerah yang diharapkan.

Akan tetapi untuk kategori ketiga, yang belum ada pilihan ~menandakan bahwa bakal calon kepala daerah yang digadang-gadang banyak orang belum mampu meyakinkan serta memenuhi harapan mereka. Boleh jadi, sederet calon kepala daerah itu hanya dianggap penunggu pohon atau tiang listrik, lantaran poster mereka kepanasan dan kehujanan di batang pohon dan tiang listrik.

Beberapa alasan belum adanya pilihan untuk menentukan calon kepala daerah antara lain kelelahan masyarakat yang terus menerus dihadapkan pada pesta politik sejak 1999. Kedua, sebagian besar memandang bahwa politik tidak lain adalah jalan pintas menuju kekuasaan pribadi dan kelompok yang beriringan dengannya; masyarakat akan dilupakan menyusul proses pilkada langsung selesai. Ketiga, mendapati hal kedua, memunculkan sikap apolitis yang masif. Keempat, kegagalan tim pemenangan bakal calon meyakinkan calon pemilih bahwa jagoannya layak memenangkan pilkada.

Empat alasan di atas memicu lambannya pesta demokrasi pada Rabu 27 Juni mendatang. Kelambanan yang sebenarnya bisa dieliminir apabila tim pemenangan (petahana dan new comers) melakukan langkah pendekatan kepada calon pemilih. Partisipasi publik agaknya terlupakan atau kurang optimal pada pilkada kali ini.

Para calon konon tengah sama-sama saling menunggu taktik dan strategi lawan tanding. Masa kampanye yang sudah ditetapkan sejak 15 Februari 2018 sepertinya kurang greget. Yang ada hanya pemasangan baligo/ poster yang makin memperburuk wajah kota.

BACA JUGA:   Ketahuan Curi Motor, Warga Indramayu Babak Belur Dihajar Massa

Suasana di atas pun didukung oleh bencana banjir dan longsor yang hampir merata di Indonesia. Namun sayang sekali kandidat kepala daerah tidak tampil mengurangi beban derita korban. Yang sibuk hanyalah pegiat sosial dan organisasi kemasyarakatan, disamping pemerintah terdekat lokasi bencana (desa dan kecamatan), pihak kepolisian dan tentara. Saya tidak tahu apakah para kandidat menitipkan paket bantuan melalui ormas yang terjun langsung ke lokasi bencana.

Empat bulan lagi para bakal calon akan menuai hasil jerih payahnya. Gagal atau berhasil sangat tergantung pada kemampuan menggiring partsipasi publik untuk setiap event yang terencana.

Waktu yang tinggal empat bulan lagi itu mestinya memacu kandidat untuk meningkatkan kinerjanya sehingga masyarakat tidak menjadi apolitis dan antipati terhadap kekuasaan. Karena bagaimana pun sikap masyarakat terhadap kekuasaan, itulah gambaran sebenarnya tentang politik. []

*Kolomnis, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed