oleh

Pembangunan PLTU Akibatkan Hilangnya Mata Pencaharian Nelayan Indramayu

INDRAMAYU (CT) – Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara 2 Indramayu yang berkapasitas 1000X2 MW, yang akan dibangun di atas lahan seluas 266,7 hektare, di pesisir Desa Mekarsari, Kecamatan Patrol diprotes masyarakat sekitar, khususnya nelayan, Senin (29/02).

Pasalnya, PLTU 1 sudah sangat menyengsarakan, baik dampak lingkungan, sosial dan ekonomi, dampak PLTU 1 saja, nelayan sudah sangat merasakan, yakni berkurangnya tangkapan laut, seperti ikan, udang dan sejenisnya. Hal itu diakibatkan tercemarnya air laut dari limbah cair pembuangan PLTU 1 yang bersuhu panas, dan beraroma tidak sedap.

Sehingga, biota laut yang terdiri dari ikan, udang, kerang-kerangan, rajungan dan sejenisnya, yang berkumpul di perairan tersebut banyak yang mati.

Selain itu, kapal tongkang yang mengangkut batu bara untuk PLTU, setiap hari lalulalang di laut sangat mengganggu aktivitas nelayan. Tongkang tersebut banyak merusak jaring nelayan yang dipasang untuk menangkap ikan di laut tersebut.
Hal itulah, yang menyebabkan para nelayan kesulitan, karena menghilangnya mata pencaharian di laut yang dulunya menjadi lumbung biota laut yang selama ini menghidupi nelayan Indramayu itu.

“Ikan, rajungan, udang merah, rebon, ikan pari dulunya banyak sampai kwintalan. Tapi, sejak 2 tahun belakangan ini tidak ada udang di pinggiran PLTU itu dan yang lainnya. Intinya, PLTU 1 saja sudah sangat menyengsarakan, dan ini malah mau dibangun lagi PLTU 2. Mau dijadikan apa kami,” tanya Sutrisno (60), nelayan Desa Bugel, Kecamatan Patrol.

Sementara, nelayan asal Desa Sukohaji, Kecamatan Patrol Takim (45) mengaku, selama ini, dari segi tangkapan dan penghasilan sangat berkurang jauh. Sebelum berdirinya PLTU 1, dirinya dalam sehari melaut bisa mendapatkan Rp.1,5 juta untuk satu kapal, namun kini turun drastis hingga Rp.500 ribu

BACA JUGA:   SBI Kenalkan Brand Semen Dynamix di Cirebon

“Dulu untuk melaut hanya 10 liter solar cukup, karena lokasinya dekat, disekitaran laut yang sekarang dibangun PLTU. Tapi sekarang, saya harus membeli 25 liter solar untuk bahan bakar, karena nyarinya lebih jauh, itupun dengan hasil yang jauh lebih sedikit dari sebelum adanya PLTU,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Aan, Tokoh Masyarakat setempat, menurutnya masyarakat, baik itu nelayan, petani dan lainnya sangat tidak setuju dibangunnya PLTU 1 dan yang akan menyusul pembangunan PLTU 2.

Pasalnya, bukan hanya merugikan para nelayan saja, namun juga petani, karena lahan yang akan digunakan untuk lokasi pembangunan PLTU 2 adalah lahan prooduktif. Selain itu, masyarakat juga sudah merasakan dampak dari polutan batu bara PLTU tersebut.

Terbukti, napas menjadi sesak, kemudian panas yang sangat menyengat, dan juga ada beberapa bbalita yang pertuumbuhannya tidak normal, hal itu diduga efek dari polutan batu bara.

“Untuk PLTU 2 tidak ada sosialisasi, harusnya kan inisiatif, datang ke masyarakat. Ini sih seperti penjajah. Main rampas, main bangun saja. Saya jamin, kalau PLTU 2 berdiri, nelayan gulung tikar, dan akan menjadi kuburan massal,” cetus Aan, yang juga seorang purnawirawan. (Riky Sonia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed