oleh

Peh Cun Tujuh Belasan

– Koleksi KITLV/Tropenmuseum
– PANJAT pinang (pecun) pada masa Belanda.*

Oleh Nurdin M. Noer*

TUJUH BELAS Agustusan bisa juga diartikan sebagai “hari panjat pinang”. Hari peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indoneia itu benar-benar memberikan  kegembiraan bagi rakyat di berbagai pelosok Nusantara. “Panjat pinang” atau “Peh Cun” merupakan cara mengumpulkan orang dalam setahun sekali. Melihat dari kosakatanya “peh chun”  berasal dari negeri Cina yang dibawa para perantau dari negeri itu ke tanah Air.

Peh cun sebenarnya merupakan lomba untuk masyarakat umum di Negara China. Festival Peh Cun di kalangan Tionghoa-Indonesia adalah salah satu festival penting dalam kebudayaan dan sejarah Tiongkok. Peh Cun adalah dialek Hokkian untuk kata pachuan (Hanzi), dalam bahasa Indonesia: mendayung perahu. Walaupun perlombaan perahu naga bukan lagi praktek umum di kalangan Tionghoa-Indonesia, namun istilah Peh Cun tetap digunakan untuk menyebut festival ini. Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek dan telah berumur lebih 2300 tahun dihitung dari masa Dinasti Zhou. Perayaan festival ini yang biasa kita ketahui adalah makan bakcang (Hanzi : hanyu pinyin: ròuzòng) dan perlombaan dayung perahu naga. Karena dirayakan secara luas di seluruh Tiongkok, maka dalam bentuk kegiatan dalam perayaannya juga berbeda di satu daerah dengan daerah lainnya. Namun persamaannya masih lebih besar daripada perbedaannya dalam perayaan tersebut (wiki).

Namun peh cun perlahan berubah. Dalam gaya masyarakat Indonesia, peh cun merupakan lomba “panjat pinang” yang diadakan pada hari-hari perayaaan tertentu, seperti tujuhbelasan, tahun (imlek) atau pada acara “unggah-unggahan” sekolah. Menurut Wiki pula, prosesi panjat pinang ini memang populer di Fujian, Guangdong dan Taiwan berkaitan dengan perayaan festival hantu. Ini dapat dimengerti dari kondisi geografis di kawasan itu yang beriklim sub-tropis, yang masih memungkinkan pinang atau kelapa tumbuh dan hidup.

BACA JUGA:   Milenial Kuningan Gelorakan Persatuan dan Kesatuan

Perayaan ini tercatat pertama kali pada masa Dinasti Ming. Lumrah disebut sebagai qiang-gu. Namun pada masa Dinasti Qing, permainan panjat pinang ini pernah dilarang pemerintah karena sering timbul korban jiwa. Sewaktu Taiwan berada di bawah pendudukan Jepang, panjat pinang mulai dipraktekkan lagi di beberapa tempat di Taiwan berkaitan dengan perayaan festival hantu. Panjat pinang masih dijadikan satu permainan tradisi di berbagai lokasi di Taiwan. Tata cara permainan lebih kurang sama, dilakukan beregu, dengan banyak hadiah digantungkan di atas. Namun bedanya tinggi yang harus dipanjat bukan hanya setinggi pohon pinang, namun telah berevolusi menjadi satu bangunan dari pohon pinang dan kayu-kayu yang puncaknya bisa sampai 3-4 tingkat bangunan gedung. Untuk meraih juara pertama, setiap regu harus memanjat sampai puncak untuk menurunkan gulungan merah yang dikaitkan di sana (wiki).

Di Kota Cirebon lomba “panjat pinang” selalu diadakan setiap tahun. Bahkan bukan hanya diikuti oleh para warga, tetapi juga kalangan monyet penghuni situs petilasan Kalijaga. Bedanya, jika panjat pinang warga berhadiah berbagai macam barang,  tetapi khusus untuk kawanan monyet berupa buah-buahan seperti pisang, mangga, papaya dan sebagainya. Maklum kawanan monyet ini tak butuh barang, tetapi butuh buah-buahan untuk makanannya. []

*Pemerhati kebudayaan lokal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed