oleh

Menundukkan Kesombongan

Oleh Doamad Tastier*

DUNIA kompetisi adalah dunia dimana segala potensi dan kelebihan dipertontonkan untuk mendapat nilai lebih dan pengakuan dari orang lain. Tentu saja ini bukan satu hal yang keliru. Ia menjadi sah karena akan menghasilkan kemajuan yang sangat berguna bagi peradaban manusia. Motif manusia melakukan sesuatu, selalu membutuhkan pengakuan dari yang lain. Abraham Maslow, dalam hirarchy of need menempatkannya pada tingkatan need of self esteemed. Namun ada batasan dimana kelebihan-kelebihan tersebut tidak boleh membekaskan kesombongan di dalam hati. Ketundukan hati kita atas keterbatasan diri serta pengakuan bahwa semua yang kita miliki adalah karunia dari Allah.

Dalam al-Quran, surat al-A’raf ayat 11 (juga dikisahkan di surat al-Baqarah ayat 34), dikisahkan ketika Allah menyuruh para Malaikat untuk menghormati Adam, semua hormat, kecuali Iblis. Dia menolak untuk menghormati Adam dengan kesombongannya. Pada ayat selanjutnya, al-A’raf ayat 12, dijelaskan alasan mengapa Iblis menolak untuk menghormati Adam, yakni bahwa dia merasa lebih baik dari Adam. Iblis diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Karena kesombongan Iblis inilah kemudian Allah mengusirnya dari surga.

Ayat ini tentu saja tidak hanya sekedar kisah. Ia mengandung ibrah bagi manusia. Bagi kita saat ini. Bagi orang cerdas yang merasa sombong dengan kecerdasannya lalu merendahkan orang yang kurang cerdas dari dirinya. Bagi orang yang mempunyai fisik yang menarik, lalu merasa sombong dan menghinakan orang yang mempunyai fisik yang kurang menarik. Bagi keturunan dari orang terhormat lalu menghinakan yang lain. Contoh-contoh itu bisa diperpanjang dengan ibrah-ibrah yang lain.

Bulan puasa merupakan waktu yang sangat dianjurkan untuk meningkatkan ibadah. Dalam satu riwayat dijelaskan bahwa pahala ibadah di bulan puasa memiliki keutamaannya sendiri, dengan pahala yang berlipat-lipat dari bulan-bulan biasa. Tentu saja ini adalah waktu yang sangat baik untuk memperbaiki kualitas ibadah. Meski demikian kerendahan hati harus tetap terpatri dalam laku kehidupan, tidak menyombongkan diri serta merasa diri lebih baik dari orang lain. Kerendahan hati harus tetap terjaga.

BACA JUGA:   Pasal yang Menjerat Anak Bupati Majalengka Bisa Berubah

Dalam konteks kehidupan lebih luas dan dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini, ada gejala yang mengkhawatirkan, yakni merasa lebih baik dari suku lain, merasa lebih baik dari penganut keyakinan agama lain, dan lain sebagainya. Akhir-akhir ini, saling caci-mencaci dan merendahkan yang lain menjadi sangat mudah ditemui di kehidupan sehari-hari. Berkenaan dengan yang pertama disebutkan, Nabi pernah bersabda bahwa tidak ada keutamaan orang Arab dengan orang Ajam. tentu saja, begitu juga antara Jawa, Sunda, Eropa maupun Cina.

Kedua, meyakini bahwa keyakinan yang kita anut adalah keyakinan yang paripurna adalah sebuah keharusan. Ia menjadi satu hal yang niscaya dalam kehidupan kita sebagai umat berkeyakinan. Namun, merasa diri sendiri (secara pribadi) lebih baik dari orang lain hanya berdasarkan keyakinan yang dianut adalah bentuk kesombongan. Kita harus bersyukur dengan keyakinan yang kita anut, namun tidak sombong dengan keyakinan tersebut. Kita syukuri keyakinan yang sudah Allah karuniakan dengan tetap menjadi hamba Allah yang rendah hati. Karena Iblis dikeluarkan dari surga buka karena dia menyekutukan Allah atau kedurhakaan yang lain, tetapi karena kesombongan. Wallahu a’lam bi as-showab. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed