oleh

Kejujuran: Bagian Karakter Merdeka Belajar

Oleh: Euis Ferawati (PGP-1 Kabupaten Cirebon)

Dalam Wikipedia, karakter adalah sifat batin yang mempengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya. Karakter yang disebut juga dengan watak merupakan sifat yang tidak bisa dirubah, berbeda dengan sikap yang bisa dirubah.

Karakter mempunyai dua jenis, karakter baik dan karakter buruk. Karakter merupakan salah satu pendukung dalam pendidikan, untuk itulah perlunya pendidikan karakter di sekolah.

Menurut Doni Kusumah dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter, Pendidikan Karakter merupakan bentuk kagiatan manusia, yang didalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukan bagi generasi selanjutnya dan bertujuan untuk membentuk penyempurnaan diri secara terus menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik. (2007).

Dasar-dasar pendidikan KI Hajar Dewantara adalah menuntun, petani kehidupan, budi pekerti, bermain, dan menghamba pada anak. Budi pekerti dalam hal ini adalah pendidikan karakter, dan yang akan kita bahas adalah kejujuran. Kejujuran diperlukan dalam dunia pendidikan sebagai bagian dalam kepemimpinan yang memang peserta didik diciptakan untuk memimpin dirinya atau orang lain. Kejujuran adalah hal kecil namun perbuatan yang bisa merubah sebuah peradaban, jujur adalah bekal bagi kehidupan bermasyarakat.

Jujur di sekolah mesti dilatih setiap hari, jujur tidak hanya dilakukan oleh peserta didik namun juga oleh seluruh ekosistem sekolah.Jujur dari hal-hal kecil merupakan langkah awal yang bisa dilakukan. Dibutuhkan kerja keras dan kesabaran dalam berproses menumbuhkan kejujuran di sekolah, dan kita sebagai guru harus mau mengungkapkan sesuatu dan hal untuk kejujuran.

Misal ketika guru bahasa inggris (saya contohklan sesuai pelajaran yang saya ampu) ditanya sebuah arti lalu si guru tersebut kebetulan belum mengetahui artinya silahkan jujur saja untuk mohon izin melihat kamus, tidak perlu pura-pura menjawab demi gengsi. Contoh peserta didik yang tidak jujur dimasa pandemi ini, misal tidak mengerjakan tugas dengan alasan tidak punya gadget ternyata ketika guru visit ke rumahnya dia punya itu dan digunakan setiap hari.

BACA JUGA:   Konsumsi Pertalite dan Pertamax di Ciayumajakuning Meningkat

Kejujuran bisa dilakukan prosesnya dengan membiasakan dalam setiap tindakan baik itu di kelas atau lingkungan sekoalah, minggu pertama dengan sosialisasi dan perencanaan, minggu kedua dilakukan aksi dari rencana di minggu sebelumnya, dimimnggu ketiga kita lihat aksi tersebut, dan di minggu keempat kita bisa lihat hasilnya dan lakukan refleksinya.

Aksi nyata kejujuran ini bisa terlaksna jika adanya kolaborasi seluruh ekosistem di sekolah dari Kepala Sekolah sebagai penentu kebijakan sampai ke seluruh bawahannya, agar aksi ini bisa dilaksanakan dengan konsisten.

Tolok ukur keberhasilan aksi nyata dari kejujuran ini, ketika peserta didik sudah mau mengerjakan tugasnya sendiri (tidak nyontek), ketika peserta didik mau jujur tentang keadaan dirinya dimana mereka jujur mengerjakan sendiri, ketika guru mau mengakui kesalahannya tanpa malu gengsi.

Kegagalannya adalah ketika peserta didik tidak mau jujur walau itu hal kecil. Dalam hal perbaikannya adalah dalam hal prosesnya mesti ditambahin lagi kerja keras dari para guru dan seluruh civitas academica sehingga pendidikan karakter kejujuran bisa tercapai dan terlaksana dalam semua kegiatan pembelajaran. (*)

Komentar

News Feed