oleh

Ini Asal Mula 1 Februari Diperingati Sebagai Hari Hijab Internasional

Ilustrasi

CIREBON (CT) – Hai para hijabers, tahukah Anda setiap tanggal 1 Februari diperingati sebagai Hari Hijab Sedunia? Dari mana asal muasalnya? Padahal, mungkin Anda berpikir, berhijab ya berhijab saja. Kapan mulai berhijab sendiri mungkin Anda sudah lupa. Kalau pun ingat, untuk apa? Namun, banyak orang di dunia juga tidak terkecuali kota-kota di Indonesia merayakan hari hijab dengan melakukan aksi-aksi tertentu.

Ada yang mengatakan HHS 1 Februari ada juga 4 September, mana yang benar?

Diperingati pada 1 Februari karena peringatan perdana Hari Hijab Sedunia dimulai pada 1 Februari 2013. Yang memelopori adalah warga New York, Nazma Khan. Nazma besar dan tumbuh di Bronx, New York. Ia mengalami banyak diskriminasi karena jilbab yang dikenakannya. Di Amerika, ada pandangan yang menyebut jilbab merupakan perampasan hak kalangan perempuan. Tak heran, jilbab menjadi sasaran empuk pihak-pihak yang tidak paham ajaran Islam. Untuk itu, ia mengeluarkan ide sederhana mengajak perempuan non-Muslim untuk mengenakan hijab. Dari ide sederhana itu, gerakan tersebut mulai mendapat simpati dan apresiasi.

Sedangkan 4 September, dimulai ketika pada tanggal 4 September 2004 tokoh-tokoh muslim di seluruh Eropa berkumpul di kota London, Inggris, menggelar konferensi mendukung jilbab, sebagai reaksi atas keputusan pemerintah Prancis yang menyatakan melarang jilbab di institusi-institusi pendidikan dan institusi publik. Pada konfrensi itu juga dibahas  tentang pengalaman seorang muslimah Marwa Al-Sharbini yang ditikam di ruang sidang kota Dresden, Jerman (1 Juli 2009) saat akan memberikan kesaksian atas ancaman terhadapnya. Marwa Al-Sharbini merasa selalu disebut ‘Teroris’ karena telah mengenakan jilbab.

Tak banyak yang tahu tentang adanya Hari solidaritas Hijab Internasional. Meski begitu tak ada salahnya untuk kita mengetahui sejarahnya. Hari peringatan ini. Semoga para hijabers atau jilbabers atau apapun namanya, mendapatkan ruang gerak tanpa diskriminasi. Jika tetap terjadi diskriminasi, kata penyair pemberani Wiji Thukul, hanya ada satu kata: Lawan! (Net/CT)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed