oleh

Dombret, “Arambung Alawé”

-Dok istimewa RONGGENG Cirebon.

Oleh: Nurdin M Noer*

ISTILAH “arambung alawe” begitu popular di kalangan anak mauda di Kabupaten Cirebon bagian utara dan Indramayu pada sekira tahun 1960an. Istilah itu berarti “mencium, dua puluh lima rupiah”. Karena memang seni dombret menjajakan pipi dan wilayah sekitar dada atau diplesetkan menjadi “sekwilda”.

Kesenian khas masyarakat Pantura Jawa Barat itu berkembang di daerah Kabupaten Subang, Indramayu dan Cirebon. Dombret seringkali disebut sebagai “kesenian erotis” karena sang penari mau dicium dengan sejumlah bayaran. Pada seputar tahun 1960an dombret sangat popular sebagai kesenian Rakyat.

Pergelarannya dimulai pada sekira bakda Isya. Biasanya mereka bermain di lapangan terbuka atau pekarangan rumah yang luas. Pada sudut kiri kanan dipasang lampu “kempluk” atau lampu “cempor” yang terbuat dari kaleng maupun bambu. Penari yang semuanya perempuan menari-nari dengan iringan lagu-lagu berirama sintrenan yang diharmonisasikan dengan dangdut.

Lenggak-lenggoknya yang menawan membuat kalangan pria muda perdesaan terangsang untuk menciumnya. Mereka satu persatu ditarik ke luar dan diciumi di tempat gelap. Pada tahun 1960an, harga cium Rp 25, memegang bagian ‘atas’ Rp 50 dan memegang bagian ‘bawah’ Rp. 75. Meski demikian para penari dombret pantang diajak berzina. Masyarakat Pantura Cirebon menyebutnya sebagai “garingan”. Tak boleh sampai ke tingkat “basah”.

Di daerah perdesaan Gegesik, munculnya kesenian dombret biasanya pada musim kemarau dan paceklik. Para pemuda desa yang umumnya bermata pencarian sebagai nelayan dan petani rupanya perlu melepas lelah dengan “berdombret ria”. Kini kesenian dombret telah punah, yang tinggal berupa lagunya “Goyang Dombret”.

*Penulis adalah pemerhati kebudayaan lokal.

BACA JUGA:   Jadi Tersangka Penembakan, Anak Bupati Majalengka Jalani Pemeriksaan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed