oleh

Dilema Kota Cirebon, Antara Daerah Lintasan dan Ancaman “Serangan” Covid-19

Citrust.id – Kota Cirebon benar-benar tengah dilanda dilematis tinggi. Sebagai daerah lintasan yang strategis secara geografis, kota berpenduduk sekitar 360 ribu jiwa itu kini berada dalam bahaya “serangan” virus Corona (Covid-19).

Akses dari dan menuju Kota Cirebon sangat terbuka lebar. Tak heran, banyak pendatang yang hendak ke wilayah Cirebon dan sekitarnya menggunakan akses Kota Cirebon. Diantaranya melalui stasiun kereta api, hingga terminal bis.

Dengan banyak kemudahan akses keluar dan masuk, Kota Cirebon kini berada dalam zona bahaya penyebaran Covid-19. Merujuk pada data di RSD Gunung Jati hingga Senin (23/3), tercatat ada sebanyak 66 orang yang terkait Covid-19 dan memeriksakan diri sejak akhir Januari lalu.

Di ruang isolasi RSDGJ kini terdapat 8 orang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19, dengan satu orang diantaranya sudah dinyatakan positif terpapar virus yang berkembang awal di Wuhan China itu.

Saat situasi semakin membahayakan, RSDGJ justru dihadapkan pada keterbatasan alat medis untuk penanganan pasien Covid-19. Stok alat pelindung diri (APD) saja misalnya, hanya cukup untuk dua pekan ke depan. Jika tidak ada pasokan tambahan dalam waktu dekat, pelayanan di RSDGJ terancam lumpuh.

“Kita ini dengan mudah diserbu pendatang. Bisa lewat stasiun, terminal, dan lainnya. Jadi memang sangat rawan (penyebaran Covid-19), karena kebetulan juga kita ini daerah perlintasan. Sangay strategis,” ucap Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr H Edy Sugiarto MKes.

Ia juga mengakui, RSDGJ sebagai salah satu rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 saat ini tengah “kelimpungan”. Jumlah pasien bertambah, perlengkapan alat kesehatan semakin minim.

“APD di kita hanya cukup untuk kurang dari dua pekan. Makanya kalau tidak kunjung ada penambahan, pelayanan (terhadap pasien terkait Covid-19) bisa lumpuh,” katanya.

BACA JUGA:   Sentosa Live Seafood Sajikan Olahan Hasil Laut Segar

Direktur RSDGJ, dr Ismail Jamaludin SpOT juga mengakui, pihaknya menghadapi kendala minimnya jumlah APD. Disebutkan Ismail ketersediaan APD tinggal sekitar 100 set, sedangkan kebutuhan dalam sebulan bisa sampai 200 set.

“Saat ini ada 6 pasien di ruang isolasi. Kemudian di anteroom ada 3 pasien, mereka sekeluarga. Semuanya berstatus PDP. Seorang diantaranya sudah dinyatakan positif Covid-19,” katanya. (Aming)

Komentar

News Feed