oleh

Cinta Pohon

Oleh Dadang Kusnandar

MASIHKAH kauingat lagu Menanam Jagung sewaktu SD?. “Cangkul…cangkul…cangkul yang dalam….tanahnya longgar jagung kutanam”.

Lagu itu terbersit kembali dalam ingatan. Senin 13 November 2017 (hari ini) sekitar pukul 16.15 WIB saya melintas di depan RST Ciremai Kota Cirebon. Dalam gerimis hujan saya minta sejenak berhenti untuk memotret. Tumpukan kayu hasil tebang pohon dan daun masih teronggok.

Entah apa yang dikatakannya andai ia bisa bicara. Hujan memang sudah mulai mengguyur kota sejak pekan lalu. Meski belum deras dan menimbulkan genangan air di badan jalan, lumayan memberi kesejukan. Alhamdulillah, puji tuhan.

Akan tetapi ketika hujan tidak turun, suhu luar kota bisa menembus angka 36 derajat Celcius. Luar biasa panas. Misalnya hari Minggu 12 November kemarin. Saat itu dalam angkot D6 dari Krucuk ke depan tukang cukur Eddy di Jalan Kesambi panas mengepung kota.

Menyaksikan tumpukan kayu dan daun hasil tebang dan dibiarkan teronggok di tepi jalan tentu saja merupakan pemandangan ganjil.

Tergelitik memotret dan kontradiktif dengan konten bahkan pesan moral di balik lagu masa kecil di atas.

Seingat saya ketika SD ada anjuran pemerintah provinsi Jawa Barat yang bernama Rakgantang atau Gerakan Gandrung Tatangkalan. Artinya masyarakat Jawa Barat dihimbau agar gemar menanam pohon.

Selain lagu masa kecil itu saya juga teringat lagu yang sudah lupa judulnya. Karya Ully Sigar Rusadi yang dinyanyikan Rita Ruby Hartland. Isin lagu tersbut yang saya ingat, “Banyak pepohonan merintih kesedihan… dikuliti pisaumu yang perkasa itu”.

Kini melihat pohon menjadi gundul, seketika saya hendak bernyanyi. Begini isinya: Tebang…tebang…tebang semua. Habis ditebang kayu kujual.***

Penulis lepas, tinggal di Cirebon

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed