oleh

Bahaya Laten Kesadaran Palsu dalam Pendidikan

Ilustrasi

Oleh : Farida Mahri*)

SETIAP bulan Juni, anak-anak sekolah di Indonesia dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) sibuk menghadapi ujian akhir semester. Rasa masygul atau harap-harap cemas menggayuti perasaan orang tua saat menunggu hasil belajar anak yang disebut rapot. Baguskah nilainya? Dapat peringkat berapakah? Begitulah kira-kira pertanyaan yang muncul pada benak orangtua juga anak-anak. Jarang sekali orangtua yang memikirkan capaian sang anak dalam hal-hal lain yang penting terkait kehidupannya.

Sebagai contoh pernahkah sekolah (para guru) dan orantua memikirkan sekaligus mengamati pekembangan cara berpikir, pandangan hidup, sikap, dan perilaku anak dalam kaitannya dengan nilai-nilai seperti kejujuran, sopan santun, kerja sama, terpadunya pengetahuan serta kesadaran kritis terhadap lingkungan seperti sampah, pencemaran lingkungan, kemacetan lalu lintas hingga serbuan buah impor di pasar tradisional, misalnya? Agak mudah diduga hal-hal tersebut luput dari perhatian sekolah dan orangtua. Kalaupun ada, tidak pernah terjadi pembicaraan dan pembahasan bersama secara serius dan menyenangkan.

Sependek pengalaman dan pengamatan penulis, sekolah dan orangtua juga anak pada umumnya cukup hanya sampai pada rasa bangga atas peringkat (pun gin juga piala) yang diraih anak, dan tidak cukup peduli terhadap perkembangan anak yang sebenarnya secara utuh. Hal ini berlangsung secara terus menerus hingga memupuk nilai-nilai dan kebanggaan semu atau palsu pada anak dan kemudian pada masyarakat.

***

Kecenderungan membangun kebanggaan semu pada masyarakat merupakan bagian dari bentuk kesadaran palsu, yang tanpa sadar menggejala dalam dunia pendidikan formal. Kesadaran palsu menggejala karena sistem pendidikan gagal memaknai peran dan tanggungjawab subyek individu dalam menjaga keberlangsungan kehidupan sosial yang sehat secara lebih luas

Konsep kesadaran palsu semula dirumuskan oleh Karl Mark untuk menggambarkan pola penindasan yang dilakukukan kelompok penindas terhadap kelompok yang ditindas dalam konteks masyarakat kapitalis. Masyarakat kapitalis digambarkan sebagai masyarakat yang digerakkan oleh, dan bergerak menuju penumpukan kapital. Kelompok penindas menyematkan kesadaran pada kelompok yang ditindas tentang pentingnya persaingan bebas untuk mencapai kemajuan masyarakat. Padahal kesadaran digunakan untuk mengontrol atau melindungi kepentingan kelompok penindas.

BACA JUGA:   Pasal yang Menjerat Anak Bupati Majalengka Bisa Berubah

Proses pembentukan kesadaran palsu dibangun melalui berbagai cara. George Lukacs menyebutkan adanya mekanisme pemberhalaan komoditas dengan media pendidikan salah satunya melalui iklan. Iklan adalah media pendidikan untuk pemberhalaan produk yang mengantarkan masyarakat mengalami reifikasi, yaitu menjadi konsumen yang rakus secara mekanis tanpa sadar. Masyarakat didorong untuk memilih produk unggulan buatan pasar dan teknologi, dan memujanya sebagai bagian dari ciri identitasnya.

Antonio Gramsci menyebutkan mekanisme penyematan kesadaran palsu dijalankan dengan proses hegemoni, sehingga masyarakat menerima pilihan yang dibuatkan oleh penguasa modal dengan tanpa sadar dan suka rela. Masyarakat digiring untuk memiliki pola interaksi sosial dengan pengaruh pemberian informasi yang menarik dan masuk akal, bukan untuk kepentingan kesehatan kehidupan bermasyarakat, namun untuk keuntungan perusahaan iklan.

Dengan pendekatan rasional, memanfaatkan temuan riset dan teknologi, masyarakat menjadi tertarik dan menyetujui pilihan iklan sebagai pilihannya sendiri. Semua proses ini dibangun sealami mungkin, sehingga masyarakat tanpa sadar dijauhkan dari “rasa kebutuhan” yang realistis, dan didorong untuk menjadi konsumen dengan taat kepada “rasa keinginan nafsu” akan komoditas. Proses ini juga terjadi pada proses pendidikan, dimana anak-anak dimobilisir untuk mengintrodusir kebanggaan semu tanpa memiliki kesadaran apa, mengapa dan untuk apa hal-hal itu dilakukan.
Situasi kesadaran palsu dapat dicandra apabila seseorang tanpa sadar bertindak secara mekanik, mengikuti teknologi pendidikan tanpa tahu alasan mengapa harus melakukannya. Misalnya, penggunaan metode baru tanpa tahu alasannya; memakai alat baru dan prosedur baru hanya karena tugas tanpa dapat mengontrol penggunaan dan hasilnya; dan pemberian nilai kepada peserta didik secara mekanis. Hasil dari proses mekanis ini menjauhkan peserta didik dari kesadaran atas lingkungan dan sejarahnya sendiri.

BACA JUGA:   Anak Jalanan Diminta Tak Memalak Sopir Angkot

***

Saat ini lebih banyak anak tidak mengenali desanya secara utuh, termasuk luasnya, tokoh pendirinya, kekayaan ekonomi, sosial dan kulturalnya, serta ekologinya. Anak-anak lebih hapal nama-nama pahlawan, tokoh dunia pop atau nama kota tetapi tidak tahu untuk apa penghapalan itu dilakukan. Anak-anak mungkin pandai matematika, tapi tidak mampu memperhitungkan lingkungannya.

Anak-anak mungkin pandai membaca, tetapi tidak memiliki kemampuan baca gejala alam dan sosial serta berempati dan bekerjasama dengan anak lain. Permainan untuk penumbuhan karakter sosial, kepemimpinan dan koordinasi pada dolanan anak-anak diganti dengan tuntutan untuk ikut les matematika yang menghabiskan waktu anak-anak untuk bersimulasi dan bermain.

Pertanyaannya sekarang, apa yang dapat dilakukan untuk menumbangkan kesadaran palsu dalam dunia pendidikan formal ini? Agaknya dunia pendidikan formal perlu menggandeng orangtua untuk mengembangkan proses pembelajaran transformatif.
Paulo Freire mengatakan inti dari proses pembelajaran adalah penyadaran. Melalui proses pembelajaran, anak didik didorong untuk mengenali diri dan realitas di sekitarnya. Dalam proses ini anak didik diarahkan dengan tindakan, sebagai pelaku, sebagai subyek dengan motode-metode dialog dan tindakan-tindakan praksis yang akan memberikan pengalaman belajar bagi anak-anak didik.

*) Penulis adalah pegiat dan peneliti masalah sosial pada Yayasan Wangsakerta, Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed