oleh

Warisan Hindu dan Budha

-dok KITLV/NMN
Patung Tjipakoe Cheribon 1862 (kiri) dan temuan patung Semar di daerah Sumber (kanan)

Oleh: Nurdin M. Noer*

TEMUAN artefak di daerah Cirebon pada sekira 1862 oleh pemerintah Hindia Belamda rupanya telah membuka tabir perjalanan sejarah “menusa Cerbon” pada masa Hindu dan Budha. Di daerah yang sekarang bernama Cirebon diduga pernah mendapat pengaruh budaya tersebut, karena daerah itu pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda yang bercorak Hindu-Budha. Namun, belum diketahui sejak kapan dan sampai kapan tempat itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh dan sejak kapan tempat itu beralih menjadi wilayah kekuasan Kerajaan Sunda (Cirebon dalam Lima Zaman, 2011).

Begitu kuat pengaruh Hindu–Budha di daerah ini, terutama pada acara-acara tradisi dan arsitektur. Bangunan Sitihinggil di Keraton Kasepuhan maupun Kanoman jelas memberi indikasi terhadap pengaruh tersebut. Pada arsitektur, pintu gerbang “candi bentar”. Pintu tersebut, merupakan tradisi arsitektur gapura dari budaya Hindu–Budha. Di situs Trowulan, bekas pusat Kerajaan Majapahit, tersisa satu gapura berbentuk candi bentar yang disebut Candi Waringin Lawang.

Menurut buku yang ditulis kalangan sejarawan dan filolog Cirebon tersebut, di taman Keraton Kasepuhan, terdapat arca nandi (sapi) dalam sikap mendekam, seperti gambaran nandi pada umumnya. Dalam mitologi Hindu, nandi adalah sapi jantan tunggangan Dewa Siwa. Arca Nandi biasanya terdapat di kompleks Candi Prambanan, sebagai penghormatan terhadap Dewa Siwa.

Diriwayatkan, budaya dan agama Hindu–Budha yang masuk ke Nusantara berasal dari India. Di Jawa Barat, kehidupan budaya dan agama Hindu–Budha pada pertengahan abad ke-4, yaitu Kerajaan Tarumanegara, dengan raja pertamanya Jayasingawarman (358–382 M). Keberadaan sejarah ini ditunjukkan dengan adanya sumber otentik, yaitu prasasti batu yang ditemukan di beberapa tempat.

BACA JUGA:   RAPBD 2020 Disetujui, Begini Instruksi Walikota Cirebon kepada SKPD

Di Cirebon,di samping temuan arca di daerah Cipaku pada 1862 juga di daerah Sumber ditemukan pula beberapa patung Semar. Sementara sumber-sumber primer ditemukan lebih banyak, sejarah Cirebon dianggap mulai ada sekitar tahun 1479 saat Syeh Syarif Hidayatullah mendirikan Kerajaan Islam di Cirebon. Namun proses sejarahnya itu sendiri telah terjadi sejak beberapa abad sebelum Pangeran Cakrabuwana dan Sunan Gunungjati membangun Cirebon.

Catatan sejarah yang ditulis RH. Unang Sunardjo, SH dalam Masa Kejayaan Kerajaan Cirebon (Yayasan Keraton Kasepuhan, 1996) yang diambil dari berbagai sumber menggambarkan, bahwa di sekitar jalur pantai utara bagian timur Jawa Barat sedikitnya telah ada tujuh nagari atau kerajaan-kerajaan kecil. Masing-masing:

Kerajaan Rajagaluh. Terletak di sekitar daerah Bobos. Di tempat itu terdapat prasasti di tengah sawah sebagai tanda pusat pemerintahan. Rajanya yang terkenal bernama Prabu Cakraningrat. Berdiri sekitar abad ke-15.

Kerajaan Talamanggung. Terletak di sekitar Talaga Majalengka yang berdiri pada awal abad ke-15. Rajanya yang terkenal bernama Prabu Pucuk Umum. Kerajaan Surantaka. Terletak di sekitar daerah Kapetakan. Berdiri sekira abad ke-15. Rajanya bernama Ki Gede Sundang Kasih dengan pusat pemerintahan di Kedaton.

Kerajaan Wanagiri. Terletak di sekitar Palimanan pada abad ke-15. Rajanya bernama Ki Gede Kasmaya. Pusat pemerintahannya terletak di Desa Wanagiri (sekarang).

Kerajaan Sing Apura. Terletak di sekitar daerah Cirebon Utara. Rajanya bernama Ki Gede Surawijaya (abad ke-15). Kerajaan ini memiliki pelabuhan yang sangat ramai disinggahi kapal-kapal dagang maupun perang dari Cina, Arab, India dan Kamboja.

Kerajaan Japura. Pusat pemerintahannya terletak di Japura (Kecamatan Astanajapura sekarang). Rajanya bernama Prabu Amuk Marugul. Wilayahnya meliputi Losari, Babakan, Ciledug, Waled, Karangsembung, Lemahabang, Mundu, Beber dan Astanajapura. Pada 1422 kerajaan ini ditaklukan oleh Sing Apura. Prabu Amuk Marugul tewas dalam pertempuran itu.

BACA JUGA:   Kapolda Jabar Kunker ke Polres Majalengka

Setelah Kerajaan Pajajaran berdiri, semua kerajaan kecil di Tatar Sunda termasuk Cirebon menjadi kerajaan bawahan Pajajaran, namun mereka diberi hak otonomi yang cukup besar. Pada sekitar 1479 M, Syeh Syarif Hidayatullah dengan didukung oleh Tumenggung Cirebon Sri Mangana Cakrabuwana, mengumumkan berdirinya Kerajaan Cirebon yang berdasarkan Islam. Kerajaan ini juga melepaskan keterikatannya secara tradisional dengan Pajajaran. []

*Penulis adalah pemerhati kebudayaan lokal.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed