oleh

Udan Kang Gede Gajae Mlayu-mlayu

Oleh DADANG KUSNANDAR*

VIDEO pendek berdurasi 3`26″ produksi Zenricu. Video viral di media sosial bulan Desember 2017. Isinya tentang permainan anak-anak masa lalu. Ada permainan congklak, pistol dari papan sabun, ketapel, panggalan (gangsing), klotokan kayu, bedil/ bren dari pelepah daun pisang, lompat tali, ular naga, telepon kaleng, petak umpet, engklek, sodor, layang-layang, ban bekas yang didorong menggunakan tangan/ kayu pendek, egrang, balap karung, kelereng dan sebagainya. Video ini pun menyisipkan beberapa makanan tradisi Jawa Barat.

Bertajuk “Kangen Masa Kecil”, video karya Wigata ini sukses mengingatkan kalangan tua akan masa kanak-kanak yang penuh tawa riang. Tidak ada kesulitan yang mesti dipikir. Main dan minta uang kepada orang tua merupakan kebiasaan menyenangkan.

Beragam komentar pun mengalir. Ada yang terharu mengenang indahnya masa kecil. Ada yang biasa-biasa saja sebagaimana membaca video lain, alias tidak bereaksi. Dan ada yang berkomentar demikian, “Gadget mengalahkan permainan anak-anak masa lalu”. Lalu dikomentari orang tua 50 tahunan, “Kita pun lebih suka gadget”.

Komentar atas video “Kangen Masa Kecil”, menunjukkan keberpihakan penulis/ komentator. Siapa pun bebas berkomentar menggunakan kalimat apa pun. Semakin banyak komentar semakin memperlihatkan bahwa video itu berhasil.

Dalam hemat penulis, ada permainan masa kecil yang belum ditayangkan di video itu, yakni permainan hujan-hujanan. Ketika hujan turun, sejumlah anak malah asik mandi telanjang atau hanya mengenakan celana pendek. Talang air merupakan tempat Favorit karena derasnya air hujan yang mengguyur tubuh.

Permainan hujan-hujanan, dalam bahasa Cirebon, biasanya dibarengi ucapan, “Udan kang gede. Gajahe mlayu-mlayu”. Juga ada ungkapan lain, “Udana sing gede. Nyembele gajah. Kurang banyu”. Dua ungkapan tersebut di atas mencerminkan do`a memohon hujan turun setelah lama kekeringan. Gajah pernah jadi ikon Cirebon (baca: Paksi Naga Liman. Liman=gajah). Gajah pun berkonotasi sesuatu yang besar. Jika yang berukuran besar saja butuh air, terlebih manusia.

BACA JUGA:   Jadi Tersangka Penembakan, Anak Bupati Majalengka Jalani Pemeriksaan

Saat mendung rapat di langit dan hujan belum turun, sambil berlari anak-anak mengucapkan, “Ki Buyut aja udan, Ki Buyut aja udan”. Kalimat ini bisa jadi sebagai wasilah kepada para leluhur agar membantu berdo`a supaya hujan tidak turun dulu.

Namun bagi anak-anak lebih suka mengucapkan, “Udan kang gede. Gajahe mlayu-mlayu”. Menikmati hujan sambil main bola sepak plastik adalah keasikan tersendiri. []

*Penulis lepas, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed