oleh

Tradisi Nyiram Gong Sekaten dan Islamisasi Masa Sunan Gunung Jati

Citrust.id – Memasuki Bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, Keraton Kanoman Cirebon menggelar tradisi Nyiram Gong Sekaten atau Gamelan Sekaten. Tradisi tersebut merupakan tahapan prosesi setelah Gamelan Sekaten dari Gedong Pejimatan dikeluarkan. Kemudian diiring menuju Langgar Alit untuk dibersihkan dan disucikan.

Tradisi Nyiram Gong Sekaten ini, diselenggarakan satu kali dalam satu tahun, yakni pada 7 Muwal-Pat-Ma (Mulud) atau sebelum dibunyikanya Gamelan Sekaten. Prosesi pencucian Gamelan Sekaten, dilakukan oleh rombongan abdi dalem, khususnya para Nayaga Gamelan Sekaten, Lurah Gamelan (pimpinan), para kaum yang dipimpin oleh Sultan Raja Muhammad Emirudin (Sultan Kanoman XII) yang dalam hal ini diwakilkan oleh Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran (Patih Kesultanan Kanoman) dandiikuti oleh para pinangeran (Bangsawan Keraton Kanoman Cirebon) juga masyarakat sekitar.

Juru bicara Keraton Kanoman Cirebon, Ratu Raja Arimbi Nurtina mengatakan, dalam prosesi pencucian Gamelan Sekaten tersebut, banyak dari para warga yang sengaja mengambil air bekas mencuci gamelan.

“Air bekas cucianya yang diyakini warga mempunyai nilai keberkahan tersendiri. Hal ini karena Gamelan yang disucikan tersebut, mempunyai nilai sejarah yang berhubungan dengan Sunan Gunung Jati. Terutama dalam upaya Islamisasi di tanah Sunda,” katanya saat dikonfirmasi, Rabu (6/11).

Selain itu, lanjut Arimbi, Gamelan Pusaka yang hanya muncul satu tahun sekali ini menjadi penanda akan dilaksanakanya prosesi malam Pelal Panjang Jimat. “Kehadiran Gamelan pusaka ini banyak ditunggu oleh masyarakat dari Cirebon dan sekitarnya,” ujarnya.

Arimbi juga menjelaskan, dalam prosesi pencucian gamelan, para abdi dalem menggunakan bahan bubuk batu bata merah yang sudah dihaluskan melalui proses pembakaran. Kemudian alas gamelam menggunakan kayu. Kemudian, dibasuh menggunakan tepes (serabut kulit kelapa) dan dilanjutkan dengan menyiram gamelan menggunakan air sumur Langgar Alit yang dicampur dengan kembang tujuh rupa.

BACA JUGA:   Sejumlah Wilayah di Majalengka Kekurangan Air Bersih

“Prosesi penyiraman, didahului lantunan doa terlebih dahulu. Setelah itu prosesi penyiraman Gong Sekaten dilanjutkan oleh Ki Lurah Gamelan (pimpinan Nayaga Gamelan). Jika penyiraman sudah selesai, Gamelan Sekaten diletakan di Bangsal Sekaten,” kata Arimbi. (Aming)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed