oleh

Sintesis Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD)

Euis Ferawati
(SMPN 1 Depok. Calon Guru Penggerak dari Kabupaten Cirebon)

Saya adalah salah satu Calon Guru Penggerak dalam Program Pendidikan Guru Penggerak dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saya mendapat ilmu dalam program ini. Sebelum mengikuti program ini, yang saya tahu dalam dunia pendidikan adalah guru hanya mengajar dan mendidik. Guru itu sebagai pemimpin di kelas sehingga murid harus mengikuti seluruh intruksi dan perintah guru.

Ketika guru sedang menerangkan, murid harus mendengarkan. Tidak boleh ada yang ribut. Bila guru memberi tugas, murid harus mengerjakan dan mengumpulkan sesuai waktunya. Semua murid harus mengerjakan sesuai intruksi guru. Bila tidak sesuai, maka murid siap dan harus diberi sanksi (hukuman).

Guru memberikan pekerjaan rumah untuk bahan belajar di rumah. Ceramah atau menerangkan adalah metode yang paling gampang untuk menerangkan dan memberi materi. Guru menilai murid hanya menekankan pada kepintaran saja. Semakin banyak mengerjakan tugas dan besarnya tes, maka semakin besarlah nilai yang didapat murid.

Namun, sekarang saya mendapat banyak ilmu dalam mencerahkan pandangan saya terhadap segala hal dalam pendidikan. Sebelum mengajar dan mendidik, kita harus mengetahui tujuannya terlebih dahulu. Tujuan pendidikan dan pengajaran adalah usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun berbudaya dalam arti seluas-luasnya (KHD:2009).

Dikarenakan pendidikan dan pengajaran adalah usaha penyediaan segala kepentingan hidup, maka kita sebagai guru mempunyai peranan dalam proses tersebut. Untuk mendapat hasil yang baik, prosesnya pun harus baik. Setelah saya belajar dalam modul ini, saya bisa mengubah pemikiran saya, bahwa guru bukan hanya mengajar dan mendidik. Guru juga harus bisa Menuntun. Guru bukan pemimpin kelas, tetapi sebagai Petani (kiasan) yang berkewajiban menabur benih (murid kita) sesuai kodratnya. Proses pembelajarannpun bukan hanya ceramah dan menerangkan, tetapi bisa juga dalam bentuk Bermain.

Bermain bisa menggunakan banyak cara, seperti dengan video, poster, infografis, kartun bermain di alam, dan banyak lagi. Pemberian tugas juga tidak bisa sama rata, tetapi diberikan sesuai kemampuan murid. Menyamaratakan tugas bukan hal yang baik untuk prosesnya karena tidak sesuai kodrat anak. Pemberian sanksi/hukuman ketika murid tidak mengerjakan tugas sebenarnya tidak dianjurkan kecuali sanksi/hukuman itu sesuai dengan peningkatan karakter siswa yang sesuai Budi Pekerti.

BACA JUGA:   Pulang Usai Hadiri Apel Kebangsaan, Anggota Banser Tangkap Penjambret

Pemberian tugas itu harus Menghamba kepada Anak. Maksudnya, guru tidak bisa seenaknya saja dalam menyamaratakan tugas. Dalam hal penilaian pun tidak seharusnya hanya sesuai kognitif saja, tetapi juga segala aspek si murid (benih) dari kemampuan lain, tingkah laku dan yang lainnya.

Kita harus menciptakan kenyamanan dan kebahagiaan dalam proses pendidikan dan pengajaran agar memberikan hasil yang memang diharapkan dalam bermasyarakat dan berbudaya. Betapa pentingnya peran guru sebagai sosok berpendidikan yang diharapkan mampu mendidik anak bangsa untuk masa depan dengan membentuk penerus bangsa yang berkarakter Indonesia. Maka, guru tidak hanya mendidik dan mengajar tapi juga menanamkan nilai-nilai positif dan menuntun dalam mencontohkan hal-hal itu kepada murid.

Untuk itulah, saya sebagai guru ingin melakukan perubahan sesuai dengan materi yang sudah didapatkan dalam Pendidikan Guru Penggerak. Saya akan menuntun murid saya dalam kegiatan pembelajarannya, tidak akan merasa paling menguasai kelas karena murid di Era Millenial bisa mengakses informasi apapun dengan mudah dari internet, sehingga kadang membuat mereka bisa setara dalam hal kognitif.

Murid tidak hanya butuh penilai kepintaran, tetapi murid butuh apresiator. Guru harus menjadi sebagai apresiator sehingga murid akan terbangun karakternya untuk menjadi lebih baik. Guru harus mengajarkan nilai moral di setiap pelajaran. Misal, pelajaran bahasa inggris ketika murid merasa sulit dalam mengerti sebuah materi, maka guru menuntun muridnya untuk mencarinya di kamus dengan sabar.

Pembelajaran karakter ini mengajarkan, bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Kita pun harus mengajarkan kejujuran dan terbuka terhadap kesalahan. Ajarkan kepada murid, bahwa setiap kita sebagai manusia pasti akan melakukan kesalahan. Maka kita harus jujur dan mau mengakui kesalahan, sekecil apapun kesalahan itu.

BACA JUGA:   Hasil Swab Negatif, KPU Majalengka Tetap Terapkan Protokol Kesehatan

Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia mempunyai pemikiran yang beliau pelajari ketika masih mengemban pendidikan di Belanda. Tokoh pendidikan yang mempengaruhi pemikiran beliau dan malah pernah berkunjung ke Perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh KHD adalah Maria Montessori dari Italia dan Rabindranath Tagore dari India.

Pemikiran KHD dan Montessori memiliki kesamaan dalam hal perlakuan guru kepada muridnya, sama-sama menekankan Student Center. Montessori memerdekakan siswa seluas-luasnya. Berbeda dengan KHD yang mengajarkan menghamba kepada siswa, tetapi tetap berpegang pada budaya Indonesia sebagai karakter bangsa.

Tulisan KHD yang sampai sekarang ada di Taman Siswa dan dihapal oleh civitas academic di sana adalah; Mardika iku jarwanya; nora mung lepasing pangreh; ning uga kuat kuwasa amandari priyangga (Freedom means not only liberation from other’s commands but also the ability to rule oneself succesfully). Kebebasan tidak hanya berarti pembebasan dari perintah orang lain, tetapi juga kemampuan untuk mengatur diri sendiri dengan sukses. KHD:1940).

Menurut KHD (1922), guru harus memberikan pendidikan karakter yang merata. Pendidikan karakter sangat diperlukan karena kita akan mengalami zaman penuh kebingungan. Sering kali kita tertipu. Kita memandang hal tersebutbperlu untuk kita, padahal itu adalah keperluan bangsa asing. Kita acapkali merusak kedamaian hidup kita sering mementingkan terlepasnya pikiran (intelektualitas). Padahal pengajaran membawa kita pada gelombang penghidupan yang tidak merdeka dan memisahkan orang terpelajar dan rakyatnya.

Dalam kebingungan ini, harusnya kita pakai sebagai penunjuk jalan mencari penghidupan baru yang selaras dengan kodrat kita dan akan memberi kedamaian dalam hidup kita. Nah, inilah yang harus guru lakukan mengajarkan budi pekerti terhadap murid-muridnya.

Semoga tulisan ini memberi pencerahan terhadap kegiatan pembelajaran para guru sebagai implementasi dari pemikiran Ki Hajar Dewantara. Salam dan Bahagia. Terima kasih. (*)

Komentar

News Feed