oleh

Seniman Muda Cirebon Ngamen Keliling di Taman Sumber

Cirebontrust.com – Ngamen bukan untuk mencari keuntungan. Sekadar menghibur publik yang ngabuburit di tempat-tempat strategis dengan ragam kreasi seni, tradisi, maupun modern. Itulah tujuan yang hendak disampaikan kepada publik Cirebon dalam pertunjukan seni bertema Bebarang In Ramadhan pada Minggu, 11 Juni 2017 pukul 15.00 WIB berlokasi di Hutan Taman Kota Sumber Kabupaten Cirebon.

Diprakarsai oleh Gaos Lizam yang tergabung dalam Gong Renteng Ki Muntili sebagai pemodal dengan menjual bata dan mengeluarkan tabungan pribadi. Ia dan teman-temannya mengaku ingin memelihara seni tradisi, merekatkan ukhuwah antarseniman muda Cirebon, dan mengisi bulan suci Ramadan dengan kegiatan positif.

“Sebuah ikhtiar menghikmati jalan kesenimanan dengan cara ngamen keliling dan setiap penampil wajib berpuasa tanpa kecuali,” ujar Gaos kepada Cirebontrust.com, Sabtu (10/6).

Pelaksanaan diselenggarakan di tempat-tempat strategis yang tentatif, lanjut Gaos, ngamen keliling pertama kalinya dilakukan pada 3 Juni 2017 di Taman Krucuk.

Ada beragam penampilan yang akan disuguhkan, seperti Tari Topeng hingga Jaipong, pantomim, baca puisi, musikalisasi puisi, Gong Renteng Ki Muntili, Saka Ethnic. Keseriusan ngamen seniman muda Cirebon terlihat dari cara-cara yang dilakukannya seperti seperangkat gamelan, sound sistem, yang diangkut mobil bak terbuka. Juga keperluan perform pribadi disiapkan oleh masing-masing. Selain itu, penampil juga bersifat bebas dan sukarela.

Sementara menurut Sastrawan Edeng Syamsul Ma’arif yang juga akan turut berpartisipasi menampilkan seni pertunjukan, gagasan dan upaya ini menarik untuk diapresiasi secara sungguh-sungguh.

“Terlebih, Gaos dan kawan-kawan yang bergiat di dalam dunia seni tradisi, melakukan gerakan kultural atas dunia yang dipilihnya dengan cara gerilya. Menghimpun orang-orang tanpa tendensi berlebih dan membebaskan ekspresi yang hendak ditampilkan. Spirit semacam inilah yang perlu dicatat sebagai napas istiqomah sebagai seniman. Sebab, bukan hal mudah merancang dan menggerakkan sebentuk aktivitas seni yang nirlaba dan mempertaruhkan kejujuran sebagai pribadi beragama,” kata Edeng. (Uyung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed