oleh

Penghina Donasi Palestina Dinilai Melawan Akal Sehat

Citrust.id – Sorotan yang dialamatkan kepada Ustaz Adi Hidayat (UAH) terkait pengumpulan donasi bagi Palestina ditanggapi inisiator Gerakan KITA, Ikhsan Marzuki. Menurutnya selain upaya mendowngrade UAH, narasi tersebut sebagai upaya menghentikan dukungan terhadap Palestina yang begitu masif di berbagai belahan dunia.

“Maraknya aksi bela Palestina dan penggalangan dana yang dilakukan berbagai elemen masyarakat harus menjadi kesempatan dan ikhtiar mengedukasi masyarakat agar tetap menjaga akal sehat,” terangnya.

Ikhsan mengatakan, pembukaan UUD 1945 tegas menyatakan, sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan.

“Jangan sampai kita lupa pidato Bung Karno tahun 1962 yang menjadi pengikat hubungan tiada akhir antara Indonesia dan Palestina. Beliau secara tegas mengatakan, selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel,” tegas Ikhsan.

Pernyataan lain yang menabrak akal sehat menurut Ikhsan adalah permintaan audit untuk setiap sumbangan ke Palestina. Hal itu dilontarkan salah satu anggota DPR RI.

Pernyataan yang disampaikan salah satu tokoh nasional itu dinilai melawan akal sehat bangsa Indonesia. Palestina justru negara pertama yang memberi dukungan bagi kemerdekaan Indonesia sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

“Dari dulu, rakyat Indonesia membantu Palestina tanpa diributkan suara permintaan audit dan segala macamnya. Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza maupun di Hebron, pembangunan Masjid Istiqlal Palestina di Khan Yunis, Gaza, sekadar contoh bantuan yang sudah dan sedang berlangsung, tanpa harus diramaikan permintaan audit,” ungkapnya.

Menurut Ikhsan, permintaan audit itu tidak salah, hanya konteksnya yang tidak tepat. Permintaan audit tersebut tidak ditujukan kepada perampokan dana bansos, korupsi Jiwasraya, BPJS, ASABRI, dan yang lainnya.

“Kita harus lihat sejarah. Sebelum Indonesia merdeka, Palestina sudah mendukung dan mengakui kedaulatan Indonesia pada 1944. Saat itu, mufti besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, dan saudagar kaya, Muhammad Ali Taher, menyiarkan dukungan rakyat Palestina untuk kemerdekaan Indonesia melalui siaran radio dan media berbahasa Arab pada 6 September 1944,” terang Ikhsan. (Andin)

Komentar

News Feed