oleh

Obrog-Obrog

Oleh Dadang Kusnandar*

TIAP malam bulan Ramadhan sekumpulan orang berkeliling kampung. Peralatan sederhana ditenteng lalu ditabuh. Bunyi yang dihasilkan pun memekakkan telinga. Terlebih mereka pun berteriak, “Sahuuuuur … sahuuuuur… sahuuuur…”. Jam dinding baru menunjuk ke pukul 01.30 WIB namun di luar kamar terdengar begitu berisik.

Warga Cirebon menamakannya Obrog-obrog. Suatu kebiasaan yang entah sudah berapa puluh tahun berlangsung. Mungkin lantaran dianggap biasa maka keberadaan Obrog-obrog dibiarkan selalu berulang setiap malam bulan Ramadhan. Pelaku Obrog-obrog di kampung saya, anak-anak dan pemuda di bawah usia 25 tahun alat musik yang dibawa hanya dua buah gitar (melodi dan bass) dan sebuah gendang kecil yang diiikatkan ke pinggang.

Tepat di depan rumah yang dikenal, mereka meneriakkan nama penghuni rumah. “Pak Asna Sugiana bangun… Sahuuuur”. Pak Asna boro-boro menjawab teriakan itu. Ia tengah asik menikmati malam Ramadhan dengan tasbih di tangan, di atas hamparan sajadah, memanjatkan doa keharibaan Ilahi Robbi.

Di tiap tikungan atau perempatan gang, para pengobrog berhenti. Mereka menyanyikan lagu dangdut dengan volume suara lebih tinggi. Falls terdengar. Namun mereka sepertinya pemilik malam yang tidak peduli pada kepekakkan suara di telinga pendengar. Sambil bersenda gurau mereka asik dengan lagunya. Sebagian di antaranya berjalan ke arah lain sembari meneriakkan, “Sahuuuuuuur…!”.

Saya yakin di kampung Anda pasti ada Obrog-obrog. Mungkin istilahnya yang berbeda. Saya pun yakin Anda merasa terganggu oleh teriakan tidak bersahabat pada waktu yang tidak tepat. Ironinya pemilik pohon mangga sering kehilangan buahnya yang belum matang. Para pengobrog mengambil mangga tanpa permisi. Setelah itu terdengar suara  kaki berlarian, takut ketahuan pemilik rumah.

Menyikapi kebiasaan Obrog-obrog masyarakat Cirebon membiarkan saja. Bahkan mungkin ada yang merespons positif atas aktivitas malam bulan suci Ramadhan ini. Sederhana saja, umumnya ada rasa ewuh pakewuh seandainya melarang Obrog-obrog di kampung.

BACA JUGA:   Pemda Kota Cirebon Raih Penghargaan Swasti Saba Wistara

Bisakah Obrog-obrog dikelompokkan ke dalam budaya? Tentu saja tidak. Budaya berinteraksi langsung dengan nilai. Sementara Obrog-obrog tidak memiliki nilai apa pun kecuali menganggu kaum muslim yang tengah melaksanakan ibadah malam, atau yang asik tidur. Mereka yang tidur pun akan terbangun pada jam 03.00 dini hari oleh suara pengurus Dewan Kemakmuran Mesjid (DKM) melalui toa guna membangunkan makan sahur.

KH. Syarif Muhammad Yahya bin Syekh (yang akrab dipanggil dengan nama Kang Ayip Muh) pengasuh Pondok Pesantren Jagastaru Cirebon di tahun 1990-an pernah bercerita tentang Obrog-obrog saat beliau masih kecil. Katanya, dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa beberapa orang pengurus masjid berkeliling di kampung sekita pada jam 3 pagi. Membawa rebana yang ditabuh berirama sambil melantunkan Shalawat Nabi, dan puji-pujian kepada Allah swt. Tidak berteriak karena Tuhan tidak tuli.

Usai berkeliling, pengurus masjid kembali masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan persiapan Shalat Shubuh berjama`ah. []

*Penulis lepas, tinggal di Cirebon.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed