oleh

Obituari Pak Maskun Disastra (1)

Oleh Dadang Kusnandar*)

UPACARA bendera di lapangan basket SMA 1 Cirebon tahun 1979, pada hari Senin. Barangkali saya tergolong siswa yang kurang patuh pada aturan. Ketika semua siswa berseragam putih abu-abu dengan tekun mengikuti jalannya upacara bendera, dari belakang Pak Maskun Disastra (guru Pendidikan Moral Pancasila) membetulkan letak baju putih saya. Tanpa memarahi, ia hanya mengatakan, “Dadang, bajunya dimasukkan ke dalam celana panjang”.

Tentu saja saya terkejut. Terlebih lagi Pak Maskun secara langsung memasukkan bagian bawah baju saya ke dalam celana panjang. Malu saat itu yang saya rasakan. Buru-buru kitab Ko Ping Ho saya lipat dan disembunyikan ke dalam saku celana, lantas berpura-pura konsentrasi mengikuti upacara bendera. Meski tahu saya tidak fokus namun ia tidak menghukum saya. Dan ini membuat saya makin tabik kepadanya.

Padahal sebagai guru dan ketika itu menjadi pengawas kelakuan siswa tatkala upacara bendera digelar, tentu dengan mudah menyeret saya ke ruang guru BP. Bagi saya gaya mendidik yang tidak menggurui serta tidak memarahi sebagaimana dicontohkannya merupakan model unik pada saat itu. Saat anak-anak Indonesia masih patuh dan hormat kepada guru. Juga saat siswa sekolah sebagian besar merasa takut kepada gurunya. Bukan lantaran kekuatan pena guru dalam menentukan nilai di buku laporan akhir semester belaka, melainkan takut dalam arti harfiah.

Masih sekitar upacara bendera. Suatu Senin (lupa tanggal dan bulan di tahun 1980), kelas saya (1 IPA 2) kebagian jatah sebagai pelaksana upacara bendera. Pak Maskun sebagai wali kelas, sekira 10 menit sebelum upacara mulai langsung menunjuk beberapa orang. Saat itu Agil, Aji, Zamhariro dan entah siapa lagi terpilih dan mau. Pak Maskun juga menunjuk saya sambil berkata, “Dadang baca Pancasila!”. Namun saya menolak. Saya melihat kekecewaan pada raut wajah beliau. Dan lagi-lagi ia tidak memaksa. Padahal sangat mungkin ia ingin agar kelak saya aktif di organisasi sekolah melalui jalan sebagai pelaksana upacara bendera.

Hingga Pak Maskun Disastra wafat pada Rabu 25 Oktober 2017 pukul 18.45 WIB di kediamannya Jalan Kesambi Dalam Gang Lapang Bola II Kecamatan Kesambi Kota Cirebon, kisah kecil pada upacara bendera itu tidak sempat saya sampaikan. Kecuali sekira tiga pekan silam saya sampaikan selintas kepada Erik Mardiyanto, putra sulung Pak Maskun dan kawan SD saya di Sadagori I. Saya tidak paham Erik menyimak kisah kecil itu atau tidak ketika menjenguk Pak Maskun (dalam kondisi sakit parah) bersama Edi Haryadi pada suatu malam.

Yang pasti perhatian Pak Maskun kepada siswa-siswanya tergolong luar biasa. Saya hormat kepada semua guru, betapa kuat ingatan kepada murid-muridnya. Baik menyangkut nama maupun hal detil lain yang mungkin saja luput. Terbukti pada Reuni Angkatan 1982 di lapangan basket SMA 1 di tahun 2012, Pak Maskun masih ingat nama saya. Tubuhnya yang ringkih tetapi selalu menyimpan senyum ~menjadi penanda betapa sumringah wajah Guru PMP ini.

 

*) Penulis lepas, tinggal di Cirebon

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed