Citrust.id – Kunjungan perusahaan asal Amerika Serikat, North America Technical Service (NATS), ke PT Samu Sinergi Mandiri menjadi perhatian tersendiri di tengah meningkatnya kekhawatiran atas paparan radiasi pengion di sektor industri Indonesia, terutama industri baja.
Agenda pengenalan produk instrumentasi radiasi tersebut berlangsung pada 26 November 2025 di ruang pertemuan Samu Office Park. Pertemuan dihadiri Chief Executive Officer NATS USA Syed R. Maswood, Area Sales Manager PT Samu Sinergi Mandiri Maysoon R. H., Direktur Utama PT Samu Sinergi Mandiri Ipa Teguh Akbar, serta jajaran direksi dan staf kedua perusahaan.
Direktur Utama PT Samu Sinergi Mandiri Ipa Teguh Akbar mengatakan, latar belakang kunjungan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kasus paparan radiasi radioaktif di Indonesia.
“Latar belakang kunjungan ini dikarenakan makin maraknya kasus paparan radiasi pengion (radioaktif) di Indonesia, terutama di industri steel. Temuan tingkat radiasi radioaktif Cs-137 yang sangat tinggi di kawasan industri modern Cikande, Serang, Banten, pada Oktober 2025 menjadi perhatian serius,” kata Ipa, Senin (2/3/2026).
Ia menegaskan, kolaborasi tersebut bertujuan meningkatkan wawasan teknologi sekaligus menyelaraskan standar instrumentasi radiasi global di dalam negeri.
“Ke depan, semoga dengan adanya Samu Sinergi Mandiri yang dapat menyediakan alat pendeteksi radiasi, dapat meminimalkan kasus paparan radiasi,” ujar Ipa.
PT Samu Sinergi Mandiri merupakan anak usaha SMGI Grup yang bergerak di bidang rekayasa (engineering), instrumentasi industri, serta sistem lingkungan.
Perusahaan itu menyediakan dan memasang berbagai sistem pemantauan, antara lain Continuous Emission Monitoring System (CEMS), Radiation Portal Monitoring (RPM), Water Quality Monitoring System (WQMS) maupun suku cadangnya. Selain itu, sistem instrumentasi industri dan lingkungan, serta layanan teknis, perawatan, dukungan, dan konsultasi kebutuhan alat industri serta pemantauan lingkungan.
Klien PT Samu Sinergi Mandiri mencakup 10 kategori industri, yakni manufaktur, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), otomotif, kawasan industri, minyak dan gas, badan usaha milik negara (BUMN), engineering, procurement, and construction (EPC), institusi pemerintah, pelabuhan, serta terminal peti kemas.
Kolaborasi itu diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem deteksi dini paparan radiasi di kawasan industri nasional, sekaligus meningkatkan standar keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan di Indonesia. (Abduh)













