oleh

Mengharukan! Kisah Si Bocah Mulya dari Pelosok Kampung Perbatasan

Cirebontrust.com – Jejen Setiawan, bocah berumur 8 tahun warga Blok Palabuanwetan, Desa Ciledugwetan, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon memiliki jiwa dan cita-cita mulya.

Diusianya yang masih tergolong bocah, pelajar kelas 4 Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Ciledugwetan itu “mengorbankan” masa kanak-kanaknya demi kepentingan umum (agama). Dia menghibahkan waktu bermainnya untuk mengabdi mengurus sekaligus menjadi muadzin di Musala Miftahul Jannah di lingkungan rumahnya.

“Saya mau jadi ustaz,” ujar Jejen dengan suara pelan dan pandangan mata menunduk ke bawah‎, saat berbincang dengan Cirebontrust.com di ruang Musala.

Setiap hari, setelah melakukan kewajiban lainnya layaknya bocah seusianya, yakni bersekolah, dia berdiam diri di musala tersebut. Sembari menanti waktu salat, bocah dengan perawakan mungil itu terlihat melakukan bersih-bersih di dalam dan luar atau halaman musala. Agar para jemaah yang beribadah di tempat tersebut merasa nyaman.

Luar biasanya, Jejen melakukan hal itu tanpa ada paksaan dari siapapun alias inisiatif sendiri. ‎Inisiatif itu muncul berawal dua tahun yang lalu, ketika dia disuruh azan oleh guru ngajinya. Dari situ Jejen mulai terbiasa, hingga ketika guru ngajinya yang juga imam di musala itu pergi (tidak lagi berkegiatan di musala), Jejen semakin termotivasi hingga saat ini.

“Sudah dua tahunan saya azan‎. Biasanya diwaktu zuhur, ashar, Maghrib, dan Isya, subuh nggak. Dulu ada ustaz dari kampung jauh yang mengajari ngaji dan azan, hingga saya katam satu kali. Terus sekarang nggak ada, makanya saya sering azan di sini‎,” tutur Jejen dengan ekspresi muka dan gestur tubuh yang sama.

Bukan hanya itu, saking asyiknya berbincang hingga rasa nyaman pun hinggap, Jejen dengan detil bercerita tentang kehidupannya yang menyayat hati dan perasaan.

BACA JUGA:   Garda Mall Solusi Kebutuhan Otomotif Era Digital

Tampak raut muka sedih tergambarkan jelas di matanya yang berkaca-kaca. Ketika itu, Jejen menuturkan, disaat usianya masih 9 bulan, anak bungsu dari 4 bersaudara yang terlahir dari rahim sang ibunda bernama Wastiah, ditinggal pergi sang ayah yang bernama Darto.

Entah apa penyebabnya, hingga saat ini Jejen tidak tahu alasan sang ayah pergi meninggalkan dia dan ibunya.‎ Dia pun mengetahui keberadaan ayah kandungnya saat ini, namun seolah pasrah dengan keadaan, ditambah dia sudah memiliki ayah tiri bernama Tarkidi yang mengurusnya dan ibunya kini. Melihat hal itu, Jejen merasa tak mau ambil pusing.

Meski sebenarnya, dari tatapan matanya yang berkaca-kaca ketika bercerita, menggambarkan bahwa banyak pertanyaan di benaknya terkait sang ayah kandungnya yang meninggalkan ia dan ibunya.

‎”Ayah pergi saat saya umur 9 bulan. Sekarang ayah ada di Bandung. Saat ini saya sudah punya ayah tiri,” ungkapnya.

Perbincangan akhirnya terhenti, ketika Jejen berdiri, serta langsung menuju ke tembok depan sebelah kanan mimbar tempat imam salat, ‎dan melihat sebuah kertas jadwal waktu salat yang menempel di tembok tersebut.

Rupanya ia ingin memastikan waktu salat zuhur yang memang sudah memasuki waktunya. Tanpa bertele-tele, Jejen langsung menuju tempat wudu untuk bersuci‎, kemudian bergegas mengenakan perlengkapan salat dan mengumandangkan azan. Seperti itu rupanya kegiatan sehari-hari si bocah mulya dari pelosok kampung perbatasan lakukan selama ini. (Riky Sonia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed