oleh

Memasuki Musim Kemarau Produksi Keripik Tike di Indramayu Meningkat

INDRAMAYU (CT) – Industri rumahan pengolahan keripik tike kembali di produksi oleh masyarakat desa Jumbleng blok Jangga Tua kecamatan Losarang Kabupaten Indramayu, yang mayoritas warganya menjadi produsen keripik tike.

Saat musim kemarau tiba, sejumlah permintaan pasar keripik tike meningkat, pasalnya musim kemarau adalah masa panen bagi petani tike sekaligus produsen tike untuk di olah menjadi keripik.

Salah seorang produsen keripik tike asal desa Jumbleng, Karjaya, menuturkan jika dirinya bersama sejumlah warga sekitar hanya bisa ramai-ramai memproduksi olahan keripik tike saat musim kemarau saja.

Menurutnya, jika saat musim penghujan, para pembuat tike di desanya tersebut hanya ada sedikit saja warga yang memproduksi. Selain karena stok tike yang sedikit, juga hasil panen tike dan hasil setelah matangnya tak maksimal.

“Kalau di musim penghujan, tike nya jelek, jadi kalau di pipihkan tuh banyak keluar air, sehingga tidak bisa di jemur, ya bisa dikatakan tike nya busuk lah,” ungkapnya, Minggu (24/07).

Selain itu, saat kemarau tiba para produsen keripik tike bisa menjemur tike tanpa takut hujan, setelah proses mencuci tike hingga bersih, kemudian di sangrai lalau di pipihkan hingga membentuk keripik tike, dijemur, dan di goreng.

“Prosesnya sederhana, sehari bisa memproduksi sekitar 10 kilogram, itu dari per rumah warga, kemudian di kumpulkan ke bakul tike nya, hasil dari produksi beberapa warga,” tuturnya.

Dikatakannya, harga keripik tike yang sudah matang dan siap saji dibungkus plastik hingga mencapai Rp 90ribu rupiah perkilonya. Meski begitu, harga tersebut juga tidak menentu, terkadang bisa anjlok hingga Rp 80ribu perkilo jika sedang banyak barang seperti sekarang.

“Kalau ke bakul di toko besar sih langsung jual ke pembelinya bisa mencapai 100ribu lebih perkilonya,” pungkasnya. (Didi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed