oleh

Masyarakat Indramayu Bentangkan Kain Merah Bentuk Tolak PLTU

CIREBON (CT) – Masyarakat Indramayu bersama organisasi lingkungan internasional 350 Indonesia, melakukan aksi membuat garis pemmbatas dengan kain merah melingkari sawah. Hal itu, sebagai bentuk sikap penolakan terhadap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2 berkapasitas 2X1000 MW, Jum’at (13/05).

Kain merah sepanjang 100 meter yang dibentangkan melingkari sawah adalah simbol garis pembatas, agar tanah mereka tidak diserobot untuk digunakan pembangunan PLTU 2.

Selain itu, masyarakat juga membuat tulisan di pematang sawah yang berlokasi di Desa Patrol Baru, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu, dengan kain yang dipola dan dirangkai berbentuk kalimat “No Coal” atau stop batu bara.

Dikatakan Muhaimin alias Mang Emin (46), petani Desa Patrol Baru, dirinya bersama para petani lainnya dengan tegas menolak pembangunan PLTU 2. Pasalnya, para petani khawatir, dampak negatif yang ditimbulkan PLTU bisa membuat hasil pertanian menurun, dan bahkan lahan pertanian akan semakin berkurang, akibat alih fungsi lahan pertanian untuk pembangunan PLTU 2.

“Kami berkaca pada PLTU 1. Lahan pertanian rusak akibat dari limbah batu bara, atau hawa panas dari PLTU. Ini sudah jelas, produktivitas padi akan sangat menurun drastis,” ungkapnya kepada CT.

Lebih lanjut, Mang Emin mmengatakan, sadar akan dampak negatif PLTU, dirinya melakukan pendekatan kepada masyarakat, agar mereka sadar dan akhirnya tidak lagi dibodohi oleh para penjahat lingkungan, yang tentunya akan menghalalkan segala cara untuk memperlancar proyek pembangunan tersebut, salah satunya dengan iming-iming uang.

“Iming-iming itu sudah ada, salah satunya dengan menawarkan harga tanah yang menggiurkan, agar warga melepas lahannya. Intinya, kami tidak akan melepas lahan kami, dan satu kata, tolak PLTU,” tegasnya. (Riky Sonia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed